Jalan Menuju Pesantren

11.3K 605 17
                                        

Udara sejuk mulai terasa saat mobil yang ditumpangi Dinda mulai menanjak, melewati jalanan berkelok di antara hutan pinus dan perbukitan yang menghijau. Kabut tipis menyelimuti pepohonan tinggi yang menjulang, memberi kesan damai dan syahdu. Matahari belum terlalu terik, dan langit tampak cerah kebiruan. Dinda melirik pemandangan di luar jendela. Indah, pikirnya. Tapi tetap saja, hatinya resah.

"Ini bukan liburan," bisik Dinda dalam hati, mengingat kata-kata Mama tadi pagi: "Ke pesantren."

Mobil perlahan masuk ke area pesantren. Gerbang besar bertuliskan "Pesantren Tahfidzul Qur'an Nurul Azhariyah" terbuka lebar. Bangunan utama tampak berdiri megah namun sederhana, didominasi warna putih dan hijau. Di sekelilingnya, taman-taman kecil dengan bunga warna-warni menghiasi halaman. Suasana begitu bersih dan teratur. Beberapa santriwati tampak berjalan di halaman, mengenakan gamis longgar dan jilbab lebar. Ada yang tertawa kecil, ada yang membaca di bawah pohon, dan ada yang sedang menyapu halaman sambil bersenandung pelan.

"Masya Allah, tempatnya bagus ya," ujar Mama dari depan, sambil menoleh ke belakang.

Dinda hanya mengangguk pelan. Matanya mengamati sekeliling, hatinya campur aduk. Ada keindahan yang tak bisa disangkal, tapi juga kekhawatiran yang tak bisa dibungkam.

Mobil berhenti di depan gedung administrasi. Dari dalam keluar seorang pria paruh baya berwajah teduh dengan janggut rapi dan sorban melingkar di kepalanya. Ia tersenyum ramah sambil mengucap salam.

"Assalamu'alaikum, Ibu... ini yang namanya Dinda, ya?" tanyanya.

"Iya, Ustaz. Ini anak saya. Dan ini kakaknya, Adnan," jawab Mama sambil tersenyum.

Dinda mengangguk pelan. Kakaknya, Adnan, ikut turun dari mobil, membantu membawa koper dan tas milik Dinda.

"Yuk, masuk dulu," ajak Ustaz itu. "Biar kita ngobrol-ngobrol sebentar sebelum Dinda ke asrama."

Mereka pun masuk ke dalam ruangan. Mama berbincang dengan Ustaz sambil sesekali menoleh ke arah Dinda. Dinda duduk di pojok sofa bersama Adnan, memeluk tas ranselnya erat-erat.

"Dind, sini deh," bisik Adnan sambil mencondongkan tubuh ke arahnya.

Dinda menoleh cepat. "Kak, seriusan Mama mau nitipin aku di sini? Aku kan nggak pernah bilang pengin mondok!"

Adnan menghela napas. "Mama nggak maksa. Tapi Mama pengin kamu punya waktu buat lebih kenal diri kamu sendiri, lebih dekat sama agama. Cuma sebulan kok, Dind. Anggep aja retreat rohani."

"Retreat kok bawa koper segede gitu?" Dinda cemberut. "Aku nggak kenal siapa-siapa, Kak. Aku nggak siap."

Adnan menatap adiknya dalam-dalam. "Dinda, tempat ini tenang. Mama yakin kamu butuh ini. Bukan karena kamu nakal atau kenapa-kenapa, tapi karena Mama sayang kamu. Dia pengin kamu dapat suasana baru, lingkungan yang bantu kamu mikir... tentang hidup, tentang diri kamu."

Dinda terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia merasa seperti dilempar ke dunia asing tanpa peringatan.

"Aku tuh bukan anak pesantren, Kak... Aku nggak bisa hafal-hafalan, aku suka musik, suka nari, suka nulis. Aku bukan tipe yang duduk seharian baca kitab..." bisiknya.

Adnan tersenyum kecil. "Nggak ada yang bilang kamu harus berubah jadi orang lain. Tapi mungkin di sini kamu bisa nemuin sisi lain dari dirimu."

Mama berdiri dan menghampiri mereka.

"Nak," katanya lembut. "Mama tahu ini mendadak. Tapi percayalah, ini bukan hukuman. Ini hadiah. Coba, satu bulan saja. Kalau kamu masih nggak nyaman, kita cari jalan lain. Tapi tolong... coba dulu."

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang