Malam Perpisahan

3.6K 199 9
                                        

Langit malam di atas pesantren bertabur bintang. Suasana yang biasanya sunyi kini berubah jadi ramai, hangat, dan penuh tawa. Panggung kecil di lapangan telah dihias indah: lampu-lampu kelap-kelip menggantung di atas, kain putih dan biru berkibar lembut tertiup angin malam. Meja panjang berisi makanan ringan dan minuman diletakkan di sisi kanan lapangan. Para santri sudah mengenakan pakaian terbaik mereka—baju koko bersih, jilbab yang paling rapi, dan senyum-senyum malu yang sulit disembunyikan.

Malam itu adalah malam perpisahan. Malam terakhir sebelum mereka semua benar-benar meninggalkan asrama dan kembali ke kehidupan masing-masing.

Sebelum acara perpisahan dimulai, MC dari angkatan cowok — si Ilham dan Rizky — udah ambil mic duluan buat mulai acara dengan gaya khas mereka yang receh.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" teriak Rizky.

"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh," jawab peserta lesu.

"Lhooo! Ini malam perpisahan atau tahlilan sih? Kok lesu amat suaranya?" celetuk Ilham.

"Coba ulang ya. Yang suaranya paling keras, besok dapet voucher makan tahu bulat bareng Kak Abiy!" goda Rizky, langsung bikin semua ketawa ngakak — termasuk Kak Abiy yang lagi duduk santai di barisan guru sambil geleng-geleng kepala.

Ilham lanjut, "Dan buat yang jomblo sampe lulus, tenang! Malam ini kita bakal bacain doa minta jodoh rame-rame!"

Tawa pecah. Dinda yang duduk di samping Meisya sampai nepuk-nepuk paha, "Astaga ini anak-anak bener-bener gak ada seriusnya!"

Ririn nyeletuk, "Sumpah kalo Rizky jadi ustaz beneran, gue pindah planet deh."

Tiba-tiba Furqon berdiri dari barisan cowok, teriak, "Eh MC! Gak ada doorprize buat alumni terbaik yang paling sering kabur ke warung?"

Semua langsung teriak: "DINDAAAAAA!!!"

Dinda langsung tepuk jidat sendiri sambil ketawa malu, "Sumpah gue kapok, kapok!"

Kak Abiy sampai tepuk tangan sambil nyengir, "Wah ini baru namanya santri kreatif... minus!"

"Eh Din, abis ini kita tampil ya," bisik Meisya sambil cekikikan, menggenggam kertas lirik lagu yang udah dicetak sejak seminggu lalu.

"Iya, gue juga deg-degan," jawab Dinda sambil merapikan kerudungnya di kaca kecil pinjaman dari Ririn.

Di tengah keramaian, Algi berdiri di sisi panggung bersama Rizky, Furqon, Abi, dan Ilham. Mereka semua udah siap tampil rebana.

Furqon nyeletuk, "Gi, nanti lo mau bacain puisi gak?"

Algi ngelirik ke Dinda yang lagi ngobrol sama Ririn dan Meisya. "Tergantung... ada yang mau dengerin atau nggak."

"Cieeee!" Serempak mereka ribut ngegodain.

Setelah penampilan-penampilan hiburan dari para santri, mulai dari akustikan, drama singkat, dan pembacaan puisi, saatnya masuk ke acara paling haru: sesi perpisahan dan testimoni.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," suara Kak Abiy menggema dari mic di panggung.

Para santri langsung diam.

"Kita semua tahu, malam ini bukan malam biasa. Malam ini malam terakhir kita sebagai satu angkatan lengkap di pesantren ini. Mulai besok, mungkin kita akan berpisah jarak, tempat, bahkan waktu. Tapi... kenangan? InsyaAllah tetap tinggal."

Beberapa mulai menyeka air mata. Termasuk Shafira yang duduk di barisan kedua, sudah dari tadi matanya merah. Fila dan Fara saling menggenggam tangan erat.

Algi hanya bisa memandangi Dinda dari kejauhan. Ia tahu malam ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk bicara banyak, tapi hatinya terlalu penuh untuk diam saja.

Setelah Kak Abiy selesai bicara dan turun panggung, para santri diberi waktu untuk saling mengungkapkan pesan dan kesan. Pelukan, tangisan, dan permintaan maaf berhamburan di antara mereka. Saling peluk sambil bilang, "Maafin ya kalo gue pernah nyakitin, pernah ngomong kasar, pernah egois."

Dinda berdiri di bawah pohon beringin kecil di dekat lapangan, sambil menyeka air mata pelan. Tiba-tiba, Algi datang dari belakang.

"Dinda..."

"Hmm?" Dinda menoleh, matanya masih sedikit merah.

"Makasih ya... buat semuanya."

Dinda tersenyum kecil. "Sama-sama."

"Lo inget gak pas pertama kali gue ngobrol sama lo di balik tembok kamar?" Algi nyengir.

"Yang lo pura-pura ngambek?" Dinda membalas sambil nyengir juga.

"Hehe iya, itu awalnya. Dan sampai malam ini, gue masih bersyukur... gue kenal lo di sini."

Dinda menatap Algi. "Gue juga, Gi. Gue banyak belajar... dan banyak berubah juga karena lo."

"Gue pengen lo bahagia. Gimanapun jalan hidup kita nanti," kata Algi pelan.

Dan sebelum malam benar-benar usai, Dinda berkata lirih, "Gue nggak tahu masa depan kita gimana. Tapi kalau suatu hari nanti jalan kita bertemu lagi... semoga kita sama-sama dalam versi terbaik."

Algi mengangguk pelan.

Langit malam tetap berbintang. Tapi malam ini terasa lebih terang... karena mereka semua saling menyinari dengan kenangan.

---

Maaf banget kalo nambah gaje apa gimana hehe, jangan lupa vote dan jangan rugi baca cerita aku yaaa😊😊😊

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang