Suasana pesantren pagi itu agak beda. Anak-anak kelas 12 dikumpulkan di aula putra dan putri—tentu saja dipisah, tapi suaranya tetap bersaut-sautan. Pak Ustad mengumumkan bahwa akan ada kegiatan camping ke daerah Puncak selama 3 hari 2 malam sebagai refreshing sebelum menghadapi ujian akhir tahun.
"Camping? Di Puncak? Astaga, bakal dingin banget itu," komentar Meisya sambil langsung ngebuka list barang bawaan di buku catatannya.
Dinda ngangguk pelan. Jujur, otaknya masih agak ribet sama urusan hati, tapi camping bareng teman-teman mungkin bisa bikin pikirannya lebih tenang.
⸻
📦 Persiapan
Asrama cewek heboh total. Ada yang sibuk nyari sleeping bag, ada yang nanya jaket tebal, dan ada juga yang udah mulai tukeran cemilan buat di jalan.
"Lo bawa baju berapa, Din?" tanya Meisya sambil ngelipetin hoodie ungunya.
"Dua, sama satu jaket. Senter aku nggak punya..." jawab Dinda sambil ngecek ulang tas kecilnya.
Shafira yang dari tadi duduk sambil dengerin, tiba-tiba nyeletuk ke Karina, "Gue sih tinggal minta Algi, dia pasti ada senter cadangan."
Karina ketawa, "Lo tuh kalo ngomong Algi kayak ngomong nama pacar."
"Apaan sih, kan emang deket," jawab Shafira sambil cengengesan.
Dinda ngelirik.
Dan seperti biasa... diem.
⸻
🚌 Hari Keberangkatan
Semua anak kelas 12 udah siap sejak pagi. Bus cewek dan cowok terparkir sejajar di halaman luar pesantren. Anak-anak cowok rame, udah pada nyanyi-nyanyi meski belum berangkat. Rizky, Furqon, Abi, Ilham — semuanya pada seru-seruan.
Dari jendela bus cewek, Dinda bisa lihat Algi lagi becanda bareng Rizky. Tapi yang paling bikin Dinda naik tensi — Shafira lagi berdiri di samping Algi, megangin botol minum yang dikasih label namanya: "Algi's".
"Apaan coba?" gumam Dinda pelan.
"Kok lo ngeliatin mereka terus sih?" bisik Meisya.
"Gak, cuma liat-liat aja."
Baru aja Dinda naruh ranselnya ke bagasi bus, tiba-tiba terdengar suara lembut dari belakang.
"Din,"
Kak Abiy muncul, bawa dua tas gede di tangannya.
"Kamu bawa jaket? Senter? Sleeping mat ada?" tanyanya.
Dinda ngangguk pelan, "Jaket bawa... senter enggak..."
"Kalau gak ada, aku bawa lebih kok. Takutnya di sana dingin banget. Nanti aku kasih ya, tinggal bilang."
Meisya yang berdiri nggak jauh dari situ langsung bersandar ke bahu Dinda, "Duh Din, cowok baik kayak gitu cuma ada satu di dunia ini..."
Dinda senyum malu.
Algi yang berdiri di dekat bus cowok, kebetulan ngelirik ke arah mereka. Dari jarak segitu aja, dia bisa lihat Kak Abiy ngasih senter kecil ke Dinda sambil senyum.
Dan... Algi langsung ngusap tengkuknya. Gak ngerti kenapa rasanya kayak... panas aja.
⸻
Bus mulai jalan, lagu dari speaker mengalun, anak-anak cewek mulai karaokean. Meisya nyanyi, Karina joget, dan Ririn sibuk bikin vlog buat dokumentasi.
"Kayaknya ini bakalan jadi trip seru sebelum kita sibuk ujian ya..." ucap Dinda pelan.
"Iya," Meisya nyenggol bahu Dinda. "Dan semoga aja ada cinta yang mekar di antara kabut Puncak ini..."
"Gombal banget lo," balas Dinda sambil ketawa.
Dari kejauhan, bus cowok tampak jalan beriringan. Tapi Dinda nggak tahu — dari jendela bus cowok, Algi lagi merhatiin bus cewek... tepatnya, posisi tempat duduk Dinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Teen FictionBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
