Hari itu Sabtu pagi. Jakarta baru selesai diguyur hujan semalam. Langit masih mendung, tapi hati Algi cerah ceria.
Dia berdiri di depan pagar rumah Dinda. Tangannya dingin. Kaus putih dibalut jaket biru navy, rambutnya disisir rapi. Gak lupa semprotan parfum dua kali biar wangi. Wangi tapi gak nyolot, kata Rizky waktu dia minta pendapat.
"Lo yakin mau ngajak Dinda keluar?"
"Ya iyalah," kata Algi waktu di grup cowoknya.
"Gue kan cowok serius."
⸻
📍Di Ruang Tamu
"Silakan duduk, Algi," ucap Mama Dinda dengan nada tenang.
"Jadi kamu temennya Dinda dari pesantren?"
"Iya, Tante... saya temennya. Sekamar juga—eh, bukan, maksudnya sekamar tapi beda... bangunan. Cowok-cewek dipisah, kok."
Algi langsung grogi sendiri, nelen ludah.
Mama Dinda senyum kecil, menatapnya tajam tapi sopan.
"Kamu sering ngajarin Dinda, ya?"
"Ngajarin... ngaji. Tapi Dinda juga pinter, Tante. Saya cuma bantu sedikit aja."
Dari arah dapur, keluar seorang pria tinggi, dewasa, dengan ekspresi datar tapi karismatik.
Itu Abang Dinda, Adnan. Doi anak sulung keluarga, tipikal abang protective.
"Lo Algi, ya?"
"Iya, Bang."
"Yang sering WA Dinda?"
Algi langsung kayak dicekik angin.
"Hehe... iya Bang, tapi gak sering-sering amat sih. Itu juga cuma buat... diskusi... Qur'an."
Adnan ngelirik Dinda yang lagi ngumpet di balik tembok ruang makan sambil nahan tawa.
"Mau ngajak Dinda kemana?"
"Ke kafe, Bang. Ada tempat ngopi enak, rame, saya udah cek review-nya di Google."
Adnan ngangguk pelan.
"Pulang jam berapa?"
"Sebelum Magrib, Bang. Janji."
⸻
📍Setelah Mereka Pergi
Mama Dinda dan Adnan saling pandang.
"Anak itu... ada lucu-lucunya, ya," kata Mama.
"Tapi matanya tulus."
"Iya, Ma. Gue liat dia bukan tipe yang main-main."
"Yaudah, asal jangan bikin Dinda nangis."
⸻
📍Di Mobil Algi
Dinda duduk di kursi depan sambil ngakak.
"Lo ngeliat muka lo tadi pas ditanya abang gue? Kaku kayak batu!"
"Gue tuh udah nyiapin mental 2 hari, Din. Tapi abang lo... serem. Mirip tokoh Marvel."
"Tapi lo berhasil. Mama gue suka."
"Serius?"
"Iya, dia bilang kamu ada lucu-lucunya."
"Yaaa... emang tujuan hidup gue salah satunya bikin kamu ketawa."
Dinda senyum, lalu diam sebentar.
"Makasih ya, Gi. Udah niat dateng ke rumah."
Algi tersenyum.
—
Setelah izin dengan segala rasa deg-degannya sukses dilalui, Algi dan Dinda akhirnya keluar rumah. Cuaca Jakarta sedang bersahabat, mendung tipis dan angin sejuk — cocok banget buat jalan santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Dla nastolatkówBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
