Akhirnya gue sampai juga di rumah. Bukan pesantren, bukan musholla, bukan kamar dengan lima kasur bertingkat dan suara Ririn yang selalu ngorok kalau udah lewat jam sepuluh malam.
Ini kamar gue. Kamar dengan nuansa putih-abu, meja rias dengan lampu LED, rak penuh dengan parfum, dan gantungan totebag yang sudah mulai kusam. Dan di pojok meja itu, ada satu benda yang bikin hati gue sedikit hangat:
MacBook rose gold.
Udah lama nggak gue sentuh. Sedikit berdebu, tapi masih sama cantiknya seperti saat terakhir gue pakai. Gue ambil pelan-pelan dari laci, bawa ke kasur, dan letakin di pangkuan. Saat gue tekan tombol power dan logo Apple itu nyala... rasanya kayak menyapa temen lama yang udah lama nggak ketemu.
"Ting!"
Layar menyala. Wallpaper yang muncul langsung bikin jantung gue kejedot memori.
Foto gue dan Gama, waktu itu di coffee shop favorit kami. Gue masih pakai seragam putih abu, rambut gue lurus dengan jepit hitam kecil di kanan. Gama duduk di sebelah gue, tangan melingkar ke bahu gue, senyumnya... duh, bikin hati gue nyesek tapi juga kangen.
Gue sentuh foto itu.
"Gue sayang lo, Ma."
Tapi... gue juga bingung. Gue sekarang siapa?
Nostalgia ini menyeret gue ke masa-masa yang udah lama banget nggak gue rasain. Masa-masa jadi anak jaksel yang bebas, yang tiap sore bisa ke mall, ngopi, ngobrol nggak harus bisik-bisik di balik tembok. Masa-masa gue bisa nentuin sendiri mau ke mana, tanpa harus disuruh hafalin surat Al-Mulk sebelum tidur.
Gue gelar badan di kasur, MacBook masih nyala di samping, suara lagu-lagu lama gue muter dari playlist "2023 Mood"—semuanya lagu patah hati dan galau.
Emang dasar gue drama.
Gue akhirnya ambil HP—yang sempat gue matiin di perjalanan karena nggak mau balas chat dulu. Tapi sekarang? Ya... dunia gue di Jakarta, dan gue cuma punya dua minggu buat menikmatinya.
—
Setelah gue puas gulung-gulung di kasur, ngebuka laptop dan nostalgia sama playlist lama, akhirnya gue ambil HP gue.
Gue tekan tombol power.
18 pesan baru di WhatsApp.
Gue udah bisa nebak, pasti dari geng gue: Fila, Fara, Sarah... mungkin beberapa dari sepupu gue juga.
Tapi yang paling atas dan langsung bikin jidat gue berkerut:
GAMA.
Sial. Gue sempat lupa kalau cowok satu itu masih ada di list kontak gue. Gue belum blokir.
Karena bagian dari diri gue... mungkin masih denial.
Masih bertanya-tanya:
"Apa iya Gama dan Sarah benar-benar selingkuh? Atau cuma salah paham?"
Dengan setengah napas, gue buka chat-nya.
⸻
GAMA – 09.12
"Pagi Din, hari ini aku lewat taman kota deket sekolah... inget banget dulu kita pernah duduk di sana, makan burger sambil ngomongin masa depan. Kamu bilang pengen banget punya podcast. Aku kangen masa itu."
GAMA – 13.47
"Gue makan siang sendirian di tempat ramen favorit kita. Ada kursi kosong di depan gue. Lucu ya, sepi padahal rame. Lucunya tuh karena kamu gak di situ."
GAMA – 19.05
"Gue gak akan maksa kamu bales. Tapi tiap hari gue nungguin. Serius, Din. Sejak lo pergi, hidup gue kayak ilang arah. Gue gak tau harus curhat ke siapa. Gue gak ada tempat cerita lagi. Gue cuman berharap lo baik-baik aja di sana. Gue kangen lo."
⸻
Gue diem.
Bibir gue bergetar. Bukan karena terharu. Tapi karena jijik.
Cowok ini beneran jago acting.
Setelah ngeliat story lo dugem bareng Sarah, peluk-pelukan kayak gak punya dosa... sekarang lo kirim chat sok sok mellow ke gue?
Lo pikir gue lupa?
Lo pikir gue masih bisa lo bohongin?
Gue tangkap HP gue erat-erat, mata gue panas tapi nggak mau keluarin air mata. Kali ini enggak.
Kali ini gue gak mau nangis karena cowok sejelek lo, Ma.
Gue balas cuma satu kata:
"Lucu."
Lalu... blokir.
Gue nggak butuh Gama. Gue butuh waras.
Dan ternyata... gue gak sebutuh itu sama yang selama ini gue pikir cinta mati.
⸻
HP gue taruh lagi di meja.
Gue hembuskan napas panjang. Dan untuk pertama kalinya dalam dua minggu, gue tersenyum bukan karena pura-pura kuat. Tapi karena akhirnya gue bener-bener berani ngelangkah.
Selamat tinggal, Gama.
—
Hari sudah sore ketika Fila dan Fara tiba di rumah Sarah. Mereka bertiga udah janjian dari semalam buat kumpul bareng sebelum Dinda ngajak hangout.
Namun begitu pintu dibuka, sosok Sarah udah berdiri di depan pintu rumah... dengan wajah pucat, mata sembab, dan rambut acak-acakan.
"Lo kenapa?" tanya Fara buru-buru, langsung masuk ke dalam.
Sarah nggak jawab. Dia hanya berdiri diam, menggigit kuku ibu jarinya, tatapannya kosong. Jelas banget ada yang salah. Fila langsung narik lengannya pelan.
"Sarah, lo kenapa? Masih ngerasa gak enak badan?"
Sarah menggeleng.
"Tadi malem..." bisiknya. "Gue nggak bisa tidur. Gue ngerasa kayak... kayak ada yang ngintip gue dari balik lemari. Terus... ada suara ketawa kecil, Fil. Suara anak kecil."
Fila dan Fara saling pandang.
"Lo mimpi kali," Fara berusaha menenangkan.
"Enggak Far. Gue belum tidur. Gue duduk di kasur, melek, dengerin lagu. Tapi suara itu beneran ada."
Sarah meremas lengan bajunya sendiri. Napasnya memburu.
"Terus pagi tadi... gue ngaca. Dan... sumpah demi apapun, gue ngeliat bayangan di belakang gue. Tapi pas gue nengok... gak ada siapa-siapa."
Fila langsung duduk di sebelahnya.
"Sarah... ini udah gak normal. Lo minum obat itu lagi?"
Sarah diam. Tapi raut mukanya menjawab semuanya.
Fila bangkit, membuka laci meja rias Sarah, dan nemu satu strip plastik kecil yang udah setengah kosong. Isinya bukan obat resmi. Bukan pil resep dokter. Hanya kapsul putih polos tanpa label.
"Ini... obat dari Gama lagi?" Fila bertanya tajam.
Sarah mulai gelisah. Ia berdiri dan memeluk dirinya sendiri, berjalan mondar-mandir kayak orang ketakutan.
"Gue gak bisa tidur tanpa itu, Fil. Tanpa itu... gue denger suara-suara. Gue mimpi buruk terus. Gue kebangun tiap satu jam. Kayak... kayak gue bukan gue."
"LO UDAH BUKAN LO, SAR!" bentak Fila. Suaranya pecah. "Lo gak sadar ya? Kita tuh sayang sama lo. Tapi makin hari lo makin kayak... orang lain. Ini bukan Sarah yang gue kenal."
Fara pun bangkit, ikut menenangkan. "Sar, kita bisa bantu lo. Tapi lo juga harus bantu diri lo sendiri."
Sarah duduk lagi. Tangannya gemetaran. "Gue takut... kalau gue berhenti minum, suara itu balik. Gue ngerasa kayak ada yang ngawasin gue terus."
Fila pegang pundaknya.
"Kalau itu emang narkoba, Sar, efek halusinasi itu nyata. Paranoia itu nyata. Lo gak gila, tapi lo harus berhenti. Kita bantu lo pelan-pelan ya?"
Sarah mengangguk pelan. Air mata jatuh dari matanya.
"Tapi jangan bilang Gama ya..."
Fila dan Fara saling pandang — ekspresi mereka jelas: Gama adalah akar masalah ini.
Dan meskipun Sarah masih belum berani jujur penuh... mereka tahu, waktunya akan datang. Suatu saat Sarah harus memilih: terus dibutakan oleh cinta, atau selamatin dirinya sendiri.
—
-maaf buat semuanya kalo lama update nya, atau cerita gaje maaf banget masih amatir. Jangan lupa buat vote dan komen. Jangan rugi baca cerita aku ya☺-
---
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTER TANPA PILIHAN.
Novela JuvenilBACA GUYS TEMBUSIN 500k PEMBACA HEHE Dinda, gadis SMA asal Jakarta yang terbiasa hidup bebas, mendadak dipindahkan ke pesantren oleh ibunya tanpa pemberitahuan. Semua kenyamanan hidupnya: mobil pribadi, uang jajan, dan kebebasan, tiba-tiba direnggut...
