Aku, Kamu dan tempat Rehabilitasi.

4K 228 3
                                        

Hari itu mendung di luar. Angin sore membelai tirai kamar Dinda yang setengah terbuka. Tapi di dalam hati Dinda, badai belum juga reda.

Ponselnya bergetar. Lagi. Notifikasi dari Algi.

ALGI:
Din, kamu kenapa?
Aku udah chat dari tadi pagi loh.
Please bales dong, aku khawatir banget.

Getarannya berhenti. Tapi hanya untuk beberapa detik sebelum muncul lagi.

ALGI:
Kalau kamu kesel, bilang. Jangan diem gini dong.
Aku bisa jelasin.

Dinda menatap layar dengan pandangan kosong. Jemarinya tidak tergerak sedikit pun untuk membalas. Bahkan membuka WhatsApp pun dia udah nggak minat.

Setelah kejadian beberapa hari lalu—tepatnya sejak dia tahu Algi liburan bareng keluarga Shafira—perasaan di dalam dirinya mulai berubah.

Bukan... bukan cemburu. Atau ya, mungkin... sedikit.

Tapi lebih ke: capek.

Capek harus mikir perasaan sendiri. Capek menghadapi mantan yang ternyata pengkhianat, sahabat yang terjatuh, dan sekarang—cowok yang katanya perhatian, tapi jalan-jalan bareng cewek yang katanya "cuma adik".

Dan cewek itu? Shafira. Cewek yang selama ini Dinda tahu punya rasa ke Algi.

"Hhh... males ah," gumamnya pelan, meletakkan HP di meja.

Fila, yang lagi duduk di karpet sambil nyemil makaroni pedas, noleh sambil nyipitkan mata. "Lu belum bales chat Algi ya?"

"Enggak."

"Kenapa?"

Dinda mengangkat bahu. "Males aja."

"Males karena dia jalan-jalan bareng Shafira?" Fara ikut nimbrung, duduk di kasur sambil kipas-kipas. "Keliatan banget dia peduli sama lu loh waktu itu, Din."

"Bukan itu masalahnya, Far. Gue tuh kayak... ngerasa semua cowok sama aja."
Dinda akhirnya bicara. "Gue udah terlalu banyak luka dalam waktu singkat. Gama, Sarah, dan sekarang Algi. Ya mungkin Algi nggak salah. Tapi gue juga berhak nentuin mau diem dulu atau enggak, kan?"

Fila diam. Fara juga. Mereka ngerti. Dinda nggak butuh jawaban. Dia cuma butuh ruang.





Sementara Itu di Sisi Algi...

Algi duduk di teras rumahnya, pakai hoodie, sendal jepit, dan tatapan kosong ke layar HP.

"Masih nggak dibales?" tanya Rizky, muncul sambil bawa kopi sachet.

"Enggak. Padahal biasanya cepet."
Algi menyender ke tembok. "Apa gue salah ya?"

"Lo ngasih tau nggak ke dia soal jalan bareng Shafira kemarin?"

"Enggak... karena itu cuma bareng keluarga. Gue pikir nggak penting buat diceritain."

Rizky mengangkat alis. "Goblok lo, Gi. Cewek tuh sensitif. Apalagi Shafira. Apalagi lo kayak... ya gitu."

"Kayak apa?"

"Kayak cowok yang diem-diem spesialin cewek tapi nggak pernah bilang siapa yang beneran lo suka."

Algi nggak menjawab. Dia buka chat WA-nya. Puluhan pesan terkirim. Semua berstatus centang dua, tapi belum dibaca.

ALGI:
Din, maaf ya...
Aku nggak cerita karena aku pikir itu nggak penting.
Tapi kalau kamu ngerasa nggak nyaman, bilang aja.
Aku cuma pengen tetap bisa ngobrol kayak kemarin.
Aku kangen.

Algi mengetik satu pesan terakhir. Tapi sebelum dikirim, dia hapus lagi.

"Gi, lo harus ngomong langsung," kata Ilham tiba-tiba yang muncul dari dalam rumah.

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang