Yang Tinggal dan Yang Akan Pergi

6K 290 3
                                        

Algi menutup layar komputer sekolah dengan pelan. Layar itu masih menampilkan wajah Dinda — tersenyum, cantik, bahagia. Tapi bukan senyum yang ia lihat tiap pagi saat Dinda nyengir karena telat. Bukan suara tertawa yang keluar ketika mereka sama-sama disuruh nyapu. Bukan Dinda... yang ia kenal di balik tembok sebelah kamar.

Dia berdiri, nyalain kipas, tapi ruangan komputer itu masih panas. Mungkin bukan ruangannya, mungkin dadanya.

"Lo gak bilang apa-apa... Din."

Dia duduk kembali, bersandar, lalu tanpa sadar ngucap lirih, "Kalo lo gak nyaman di sini... kenapa gak bilang dari awal?"

Ilham muncul dari balik pintu. "Lu kenapa bengong?"

Algi jawab singkat. "Gak papa. Gue cuma... kaget aja."

Ilham menepuk bahunya. "Dia kan cuma pergi sebentar. Mungkin dia emang butuh waktu. Lagian... dia belum tentu nyaman sepenuhnya sama pondok."

Algi diam.

Belum tentu nyaman, atau belum pernah punya niat buat bertahan?










📍Jakarta

"Ayo dong, Din, warna rambut lo coklat karamel kayak Sarah gini pasti cakep!"
"Gak ah! Ini gue udah di pesantren, jangan main warna-warna," kata Dinda sambil ketawa.

Sarah duduk di sebelahnya di salon langganan mereka, jari-jarinya main HP tanpa henti. Tapi dari tadi... Sarah lebih banyak diem. Dinda perhatiin juga, Sarah jarang liat ke matanya. Bahkan saat ketawa, senyumnya nggak setulus biasanya.

Fila dan Fara udah heboh mesen treatment kuku.

"Din, udah deh, lo gak usah balik ke pondok!"
"Bener tuh!" sambung Fila. "Masih ada waktu buat pindah sekolah."

Dinda cuma senyum. "Udah ada keputusan. Besok gue balik."

Sarah menoleh cepat. "Besok?"

"Iya. Janji sama Mama cuma tiga hari."

Fara menunduk, terus bilang, "Gue bakal kangen sih. Tapi gue ngerti. Lo berubah, Din. Dan... itu gak buruk."

Mereka semua diem. Lalu tiba-tiba Sarah nyeletuk. "Tapi lo yakin? Maksud gue... Jakarta tuh rumah lo, Din."

Dinda ngangguk. "Tapi kadang rumah gak selalu bikin kita nyaman, Sar."

Sarah tertawa pelan, tapi Dinda merasa... tawa itu palsu.








📍Kafe sore hari

Setelah dari salon, mereka mampir ke kafe kecil dekat sekolah lama mereka. Tempat penuh kenangan. Di sudut itu mereka pernah ngerjain PR bareng. Di meja itu Sarah pernah curhat soal cowok. Di pojok sana, Gama... pernah nyanyi buat Dinda.

Dan sekarang semua terasa... kayak hantu yang masih ngintip dari masa lalu.

"Lo masih cinta Gama?" tanya Fara tiba-tiba.

Dinda meliriknya cepat. "Gue... nggak tahu. Dulu iya. Sekarang, mungkin masih."

Fila mencondongkan tubuh. "Tapi dia aneh banget deh. Waktu party kemarin, kayaknya terlalu... sopan. Kayak dia gak mau sentuhan."

Sarah tersedak minumannya. "Mungkin dia... menghargai Dinda yang sekarang," katanya cepat.

Semua melirik Sarah.

Dinda menggigit bibir. "iya bisa jadi?"








📍Kembali ke Pesantren — malam hari

Sementara Dinda masih di Jakarta, malam itu di pondok, Algi duduk di serambi musala. Rizky datang, nyodorin sebotol teh dingin.

"Minum. Dari tadi muka lo kayak habis diputusin."

Algi ngambil botolnya, gak komentar.

"Lo gak usah mikirin Dinda terlalu jauh, bro," ujar Rizky pelan. "Kalau dia balik, berarti dia masih punya niat. Kalau nggak... ya jangan maksa."

Algi akhirnya bicara. "Tapi kenapa ya... gue ngerasa kayak ditinggalin?"

Rizky angkat bahu. "Karena lo ngerasa deket."

Dan itu masalahnya. Dinda gak pernah bilang mereka deket. Tapi Algi udah ngerasa begitu.







📍Menjelang Tengah Malam — Jakarta

Dinda duduk di depan kaca, rambutnya diikat, wajahnya bersih tanpa makeup. Tangannya membuka chat WhatsApp.

Gama:
"Sayang, makasih ya udah dateng kemarin. Hari ini kamu yang minta aku buat nggak ganggu kamu karena mau main sama temen-temenmu. Tapi sumpah, aku kangen banget."

Dinda senyum kecil.
Senyum yang sayangnya... salah alamat.

📍Di Tempat Lain — Jakarta

Sementara itu, di apartemen kecil di sudut Senopati, suara tawa terdengar dari balik tirai yang tak sepenuhnya tertutup.

Gama dan Sarah.
Berdua.
Tertawa di atas sofa, bersender santai sambil nonton ulang story IG Dinda bareng teman-temannya.
Sarah menirukan gaya bicara Dinda, "Aduh aku udah berubah loh sekarang, udah berhijab, udah alim!"

Gama ngakak. "Gue kira dia bakal balik dan bilang: 'Gue lebih milih akhirat daripada elu, Gam!'"

Sarah memukul bahunya pelan. "Ssst, jahat!"
Tapi dia ikut ketawa juga.

Di tangan Gama, HP-nya masih terbuka. Chat Dinda belum dibaca.
Dia scroll ke atas — dan sambil bercanda, Gama ngetik satu pesan lagi:
"Besok VC ya, aku mau liat senyum kamu. I miss you, Din."

Sarah mencibir manja. "Idih. Dasar buaya."

Gama nyengir. "Emang... tapi buaya gini suka kan?"

"Iya.. apalagi kalo lagi di atas" Sarah mendekati Gama dengan manja, tangan nya meraba bagian bawah membuat Gama sedikit tegang. celana nya jadi terlihat penuh, tatapan merek berdua saling mau.

"Sini." gama menjambak rambut Sarah untuk menerkam apa yang ada di balik dalam celana nya. Malam itu malam yang penuh gairah untuk Sarah dan Gama, tapi di balik itu Dinda sedang tidur memeluk guling dan membayangkan esok hari dia harus pergi ke pesantren.







---

-maaf ya kalo update nya lama, maaf juga kalo masih jelek apa gimana karna masih amatir. Dan maafkan terkadang saya lama update juga karna saya harus sekolah, mencari inspirasi untuk cerita ini. Dan terimakasih buat yang udah baca,dan vote. Buat kalian semua jangan rugi ya baca cerita aku. Makasih😊-.

SEMESTER TANPA PILIHAN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang