Tatifa POV
Perjodohan? Please deh, siapa sih yang nggak tahu kata itu? Hal yang paling dihindari semua orang. Sumpah, ini tahun 2016, tapi kenapa budaya kolot macam itu masih ada, sih?
Sialnya, itulah nasib gue. Papa sudah menjodohkan gue sama cowok yang sama sekali nggak gue kenal. Siapa dia? Namanya saja gue nggak tahu. Apa jadinya kalau gue harus nikah dan bangun keluarga bukan sama orang yang gue sayang?
Astaga, Tommy... Gue cuma mau sama lo, sekarang dan nanti. Bukan yang lain. Tapi gimana nasib hubungan kita kalau orang tua gue terus maksa gue nikah sama pilihan mereka?
***
Diyo POV
Apa? Dijodohin? Sumpah demi Tuhan, gue nggak pernah kepikiran soal perjodohan sedikit pun.
Gimana ceritanya gue harus jadi imam yang baik? Apa gue bisa? Minta uang jajan aja masih nengadahin tangan ke Bokap-Nyokap, sekarang malah disuruh nikah? Sekolah belum lulus, tapi udah disuruh mikirin tanggung jawab keluarga. PR aja masih sering gue lupain, apalagi ngurus rumah tangga. Gila kali.
***Author POV
"Kamu harus ikutin perintah Papa, Diyo," ucap pria paruh baya yang duduk di meja makan itu dengan nada tak terbantahkan.
"Ayolah, Pa. Diyo kan udah gede. Diyo tahu apa yang terbaik buat Diyo," sanggah Diyo sambil berjalan malas menuju meja makan. "Papa boleh ngelakuin apa aja ke Diyo, tapi jangan soal perjodohan dong, Pa. Diyo punya cara sendiri buat cari pacar."
Papa Diyo menatap putranya tajam. "Kamu sadar nggak sih, Diyo, berapa banyak kesalahan kamu? Udah alpa dua puluh lima kali, bikin onar di sekolah berkali-kali tapi tetap naik kelas, dan yang terakhir... tadi malam kamu ketangkep balapan liar."
Pria itu menghela napas kasar, jari telunjuknya menunjuk lurus ke wajah Diyo. "Kamu mau jadi apa, Nak? Berandalan? Kamu nggak malu sama orang lain? Kamu tahu Papa mati-matian nutupin kesalahan kamu di sekolah. Kamu nggak malu sama Farel, adek kamu? Lihat tuh dia, juara catur dunia."
Suara papanya makin meninggi. "Kalau kamu nggak mau nurutin kata Papa, siap-siap aja nggak lulus sekolah dan tidur di penjara."
"Tapi, Pah... Papa tega banget sama Diyo," jawab Diyo dengan wajah pasrah, nyalinya langsung ciut.
"Udahlah, Sayang. Ikutin aja apa kata Papa kamu," ucap Mama Diyo lembut sambil menepuk pundak putranya. "Lagian ini demi kebaikan kamu juga. Kapan sih Papa sama Mama minta yang aneh-aneh sama kamu?"
Sementara di tempat lain, drama serupa sedang terjadi.
"Ih, Papa! Tifa nggak mau ya dijodoh-jodohin kayak gitu!" rengek Tifa ke papanya, nada suaranya manja tapi kesal. "Tifa punya pilihan sendiri buat masa depan Tifa. Lagian Tifa belum siap ngurus suami. Tifa tuh udah punya pacar, Pa!"
Papa Tifa menatap putrinya dingin. "Tifa, berapa banyak uang jajan kamu? Mau Papa potong? Mobil kamu, mau Papa sita? Terus, mau kalau Papa nggak izinin kamu clubbing lagi? Kamu perempuan tapi mainannya malam ke club melulu. Pokoknya perjodohan tetap jalan."
Tifa beralih menatap ibunya, mencari pembelaan. "Ma, bujuk Papa dong. Ini kan bukan zamannya Siti Nurbaya lagi, Ma. Masa masih main jodoh-jodohan, sih?"
"Iya, Mama tahu kok. Tapi buat kali ini, Mama setuju sama Papa kamu karena ini emang yang terbaik," ucap Mama Tifa sambil mencolek hidung mancung putrinya. "Mama tahu anak itu gimana, jadi pasti kamu bakal suka sama dia. Anaknya ganteng dan baik banget, lho."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
