Part 24

88K 4.6K 62
                                        

Diyo dan Tifa berjalan bersisian menuju apartemen setelah drama hujan-hujanan tadi. Suasana sedikit canggung, tapi hangat.

Diyo melirik ke bawah, menatap tangan Tifa yang berayun di sampingnya. Jari-jarinya bergerak gelisah, ingin menyentuh tapi gengsi. Akhirnya, Diyo memberanikan diri menyentuh punggung tangan Tifa dengan kelingkingnya, lalu perlahan menautkan jari-jari mereka.

Menggenggamnya erat.

"Kamu... kenapa ujan-ujanan tadi?" tanya Diyo pelan, matanya lurus ke depan.

Tifa tersentak. "Hah? Anu... ya nggak apa-apa sih," jawabnya gugup.

'Astaga... Dia beneran manggil aku-kamu? Gue mimpi apa semalam?' batin Tifa, pipinya memanas.

Tifa melirik tautan tangan mereka, lalu tersenyum simpul. Dia membalas genggaman Diyo, mengeratkan pegangannya. Rasanya pas.

Mereka berjalan dalam diam, menikmati momen langka ini hingga masuk ke dalam lift apartemen.

"Kamu... beneran mau pindah sekolah?" tanya Tifa hati-hati saat pintu lift tertutup.

"Emang kalau aku pindah kenapa?" pancing Diyo, menatap Tifa jahil.

"Ya aku nggak mau lah jauh-jauh dari kamu," cicit Tifa jujur. "Tapi... yaudah deh kalau kamu emang mau ngejauh. Kan masih ada Jeno."

Diyo langsung melotot. "Eh, jangan! Awas aja kalau kamu balik ke Jeno. Aku nggak rela."

Diyo menangkup wajah Tifa dengan satu tangan, memaksanya mendongak. "Jujur sama aku. Kamu nerima Jeno kemarin itu beneran atau cuma PHP-in aku? Tadi kamu nangis-nangis bilang cinta itu beneran nggak?"

"Beneran lah! Enak aja dikira akting," Tifa cemberut. "Aku nerima Jeno karena... yah, dia udah nepatin janjinya buat balik. Aku ngerasa punya hutang janji juga. Jadi aku harus tepatin."

"Sekarang aku tanya," Diyo menatap tajam. "Kamu pilih aku atau Jeno?"

Pintu lift terbuka di lantai mereka.

"Kamu lah," jawab Tifa mantap, lalu melenggang keluar lift masuk ke unit apartemen.

Diyo tersenyum lebar, mengikuti Tifa masuk. "Yakin?"

"Yakin seratus persen. Nanti aku bakal putusin Jeno. Tapi tunggu momen yang pas, mungkin abis UN biar nggak ganggu konsentrasi," jawab Tifa sambil melepas sepatu.

"Lama banget abis UN. Terus status aku sekarang apa dong? Selingkuhan?" protes Diyo.

Tifa berbalik, mendekati Diyo dan melingkarkan lengannya di leher suaminya.

"Kamu itu..." Tifa menjinjit sedikit. "Kamu itu suamiku. Kamu jauh lebih sah daripada Jeno. Posisi kamu udah lock permanen."

Diyo tak bisa menahan senyumnya. Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat sangat manis.

"Udah ah, sana mandi. Bau apek," ledek Tifa sambil mendorong jidat Diyo pelan, lalu tertawa kabur ke kamar.

"Mana handuknya?"

"Mandi aja dulu, nanti aku anterin!"

***

Diyo selesai mandi. Dia melongokkan kepala dari pintu kamar mandi.

"Yang! Mana handuknya?!" teriak Diyo.

"Itu di gagang pintu luar, ambil sendiri!" sahut Tifa dari kamar.

Diyo membuka pintu sedikit, mengambil handuk, dan melilitkannya di pinggang. Dia keluar dengan santai, bertelanjang dada, rambut basah acak-acakan.

TING TONG!

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang