Part 6

107K 5.1K 81
                                        

Pukul 05.00 WIB.

Alarm ponsel berbunyi nyaring, memecah keheningan kamar apartemen itu. Tifa menggeliat di balik selimut, matanya mengerjap menyesuaikan cahaya. Ia menoleh ke samping, melihat Diyo yang masih terlelap pulas dengan napas teratur.

Teringat hari ini harus sekolah, Tifa bergegas bangun. Ia menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, membiarkan guyuran air hangat melunturkan rasa kantuk dan beban pikirannya.

Sepuluh menit berlalu...

DOK! DOK! DOK!

"Woy! Cepetan mandinya! Lo mandi apa bertapa sih? Gue juga mau mandi!" teriak Diyo dari balik pintu, suaranya serak khas bangun tidur.

Tifa pura-pura tidak dengar. Dia malah sengaja berlama-lama menyabuni badannya. Rasain lo.

Lima menit kemudian, Tifa keluar dengan handuk melilit tubuhnya dan rambut basah yang menetes.

"Lo mandi lama banget, sumpah. Kayak putri keraton," gerutu Diyo yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah masam.

"Ya sabar dong. Siapa suruh bangun siang? Kalau mau mandi duluan ya bangunnya pagi," balas Tifa tak mau kalah.

"Minggir. Bikin telat aja," Diyo menerobos masuk dan membanting pintu kamar mandi.

Sementara Diyo mandi, Tifa berganti seragam dan menyiapkan buku pelajaran. Selesai bersiap, perutnya mulai keroncongan. Dia melangkah ke dapur, membuka rice cooker. Ternyata nasi yang dimasak Diyo semalam masih ada sisa banyak.

'Mayan lah,' batin Tifa.

Dengan cekatan, Tifa menyulap sisa nasi itu menjadi nasi goreng. Dia juga menggoreng beberapa potong ayam tepung beku yang dia temukan di freezer.

Saat sedang asyik memasak, Diyo keluar dari kamar. Dia sudah mengenakan seragam, tapi kancing kemejanya masih terbuka lebar, memperlihatkan kaos putih polos di dalamnya. Celana sekolahnya model pencil ketat di bagian bawah, khas anak gaul sekolah.

"Lo tuh mau jadi murid apa berandalan sih? Kancingin napa bajunya," komentar Tifa sambil membalik ayam goreng.

"Ntar gue kancingin. Lagi males," jawab Diyo santai sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.

"Abis minum, tolong siapin piring di meja depan sofa ya. Sarapannya udah mau mateng," perintah Tifa.

"Hm. Arasso," jawab Diyo singkat.

Tumben nurut. Diyo meletakkan gelasnya, lalu mengambil dua piring dan sendok, membawanya ke meja makan mini di depan TV.

Tak lama, Tifa datang membawa wajan berisi nasi goreng yang masih mengepul. Aroma gurih langsung memenuhi ruangan.

Mereka makan dalam diam. Hanya suara denting sendok beradu dengan piring yang terdengar. Tifa merasa gerah dengan keheningan ini.

"Lo kok milih tinggal di apartemen sih, Yo?" tanya Tifa memecah sunyi.

"Kenapa emangnya?"

"Ya aneh aja. Lo kan anak orang kaya, masa tinggal di apartemen studio sekecil ini?"

"Gue suka yang kayak gini. Simpel. Nggak ribet buat diurus sendiri."

"Kenapa kita nggak tinggal sama orang tua gue atau orang tua lo aja? Kan lebih enak, ada yang ngurusin."

Diyo berhenti mengunyah. Dia menatap Tifa tajam. "Nggak."

"Kenapa sih?"

"Ntar kita malah diawasin terus. Gue nggak mau."

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang