Part 12

94.8K 4.2K 46
                                        

Tepat di depan pintu lobi apartemen, Diyo berhenti sejenak. Dia mengecek ponselnya sekali lagi. Tidak ada pesan atau panggilan darurat dari Tifa.

'Aman,' batinnya.

Diyo melangkah masuk ke dalam gedung, naik lift menuju lantai 20. Dia berjalan santai di lorong apartemen sambil memutar-mutar kunci motor di jari telunjuknya, bersiul pelan seolah tak ada beban.

Namun, langkahnya terhenti saat jaraknya tinggal tujuh langkah dari pintu unit 2005.

Di sana, di depan pintu apartemennya, seorang cowok sedang duduk tertidur dengan punggung bersandar pada daun pintu.

Tommy.

Rahang Diyo mengeras. Tanpa ragu, dia berjalan mendekat dan menendang kaki Tommy yang menghalangi jalan.

BUGH!

Tommy tersentak bangun, matanya mengerjap kaget. Dia mendongak dan melihat Diyo berdiri menjulang di hadapannya dengan senyum miring yang meremehkan.

"Lo ngapain di sini?" tanya Tommy ketus sambil buru-buru berdiri, merapikan jaketnya.

"Harusnya gue yang nanya," balas Diyo dingin. "Lo ngapain jadi gembel di depan pintu orang?"

"Gue nunggu Tifa. Minggir lo. Emang lo ada hubungan apa sama dia?" tantang Tommy.

"Lo cowok tapi kepo banget kayak emak-emak komplek," cibir Diyo. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan panggilan cepat nomor 1.

"Buka pintunya. Gue di depan," ucap Diyo singkat ke telepon.

Tak lama kemudian, terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pintu terbuka.

Tifa muncul dengan wajah mengantuk, mengenakan kaos oblong kebesaran dan celana pendek santai. Matanya membelalak kaget saat melihat pemandangan di depannya: Diyo berdiri di samping Tommy.

"Tom... Tommy?" ucap Tifa terbata.

"Ayo masuk," potong Diyo cepat. Dia melangkah masuk, sengaja menyenggol bahu Tommy.

"Heh! Lo ngapain masuk ke apartemen Tifa?!" seru Tommy. Dia menahan bahu Diyo, mencoba menariknya keluar.

Diyo berhenti. Dia menoleh pelan ke tangan Tommy yang mencengkeram bahunya, lalu menepisnya kasar seolah menepis kotoran.

"Lepasin tangan kotor lo dari gue," desis Diyo tajam. "Gue bukan pendusta dan cowok nggak bertanggung jawab kayak lo. Disentuh sama lo bikin gue ngerasa ikutan kotor. Najis."

Wajah Tommy memerah menahan marah. "Gue bukan pendusta! Dan lo nggak usah ikut campur! Gue mau ngomong penting sama Tifa!"

Tommy beralih menatap Tifa dengan tatapan memelas andalannya. "Tif, please..."

Tifa menatap Tommy, lalu melirik Diyo yang sudah berdiri di dalam dengan wajah datar. Tifa meraih lengan Diyo, menahannya.

"Yo... biarin dia ngomong sebentar, ya?" pinta Tifa pelan.

Diyo menatap Tifa tak percaya, tapi akhirnya dia mengedikkan bahu tak peduli. "Serah lo. Buruan, gue mau tidur."

Tommy langsung memanfaatkan kesempatan itu. "Tifa... aku minta maaf banget sama kamu. Aku tahu aku salah besar. Tapi sumpah, Tif, semua masalah itu udah selesai. Aku sama Angel udah beres. Dia udah nikah sama orang lain di luar negeri. Sekarang aku sendiri, Tif. Aku cuma mau kamu."

Tifa menatap Tommy nanar. Dulu, kata-kata manis ini mungkin akan meluluhkan hatinya. Tapi setelah melihat sendiri kejadian di sekolah tadi siang, rasanya hambar.

"Maaf, Tom," ucap Tifa lirih tapi tegas. "Tapi aku nggak bisa sama kamu lagi. Mungkin... mungkin aku masih ada rasa sayang sama kamu, tapi rasa kecewa aku jauh lebih besar. Kamu udah bohongin aku, Tom. Dan itu sakit banget."

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang