Part 11

94.2K 4K 26
                                        

Flasback on

"Saya siap, Om. Saya siap tanggung jawab penuh atas Angel sampai dia melahirkan," ucap Diyo tegas, meski wajahnya babak belur dan darah menetes dari sudut bibirnya.

Ayah Angel menatap Diyo dengan jijik. "Mulai sekarang, kamu 'pulang' ke sini setiap hari. Ingat, hanya kita yang tahu masalah ini. Kalau sampai ada satu orang pun di sekolah yang tahu anak saya hamil, saya pastikan kamu habis!"

***

"...Gue udah lakuin semua yang bokapnya Angel minta, sampe muka gue hancur," lanjut Diyo, mengakhiri ceritanya. Pandangannya menerawang ke jalanan di luar jendela.

"Lo lucu deh, Bos, kalau lagi mode pasrah gitu. Imut-imut kasihan gimana gitu," celetuk Fero dari kursi belakang, mencoba mencairkan suasana tegang.

Diyo menoleh tajam. "Lo bilang apa? Gue imut? Belum pernah gue bikin muka lo se-imut pantat wajan?"

"Ampun, Bos! Maksud gue tuh... lo gentle banget," ralat Fero sambil nyengir kuda. Rannu menyikut perut Fero agar diam.

Marco menatap Diyo lewat kaca spion. "Gue... gue berhutang nyawa sama lo, Dim. Gue bakal lakuin apa aja buat lo seumur hidup gue. Makasih banget."

"Udah, yang penting gue minta satu hal sama lo, Co," potong Diyo. "Karena gue harus layanin Angel 24 jam kayak babu, lo yang harus ngerjain semua PR dan tugas sekolah gue. Deal?"

Marco tersenyum tipis. "Deal. Itu mah kecil."

Flashback End

"Jadi gitu ceritanya, Tif," jelas Marco. "Pas Angel melahirkan, bokapnya langsung bawa Angel pindah ke Singapura. Angel nggak boleh bawa bayinya. Jadi anak itu... ditinggal."

Tifa menutup mulutnya tak percaya. "Terus... anak itu sekarang di mana?"

"Namanya Deehan Joshua," jawab Diyo pelan. "Sekarang dia tinggal sama Fero. Kita semua yang ngerawat Deehan sejak bayi."

"Deehan tinggal sama gue karena waktu itu bokap gue baru meninggal dan nyokap gue kesepian," tambah Fero. "Gue bilang ke Nyokap kalau Deehan itu anak temen gue yang butuh tempat tinggal sementara. Nyokap seneng banget ada bayi di rumah. Jadi Deehan tumbuh sehat sampe sekarang."

Tifa terdiam, mencerna semua informasi gila ini. Matanya beralih menatap Diyo lekat.

"Lo... lo ngelakuin semua itu selama sembilan bulan? Lo nggak pernah ada perasaan sama Angel?" tanya Tifa menyelidik.

Diyo menghela napas. "Gue bakal jawab. Tapi gue mau ngomong berdua sama Tifa. Kalian keluar."

Fero, Rannu, dan Marco langsung paham. Mereka keluar dari mobil, memberi privasi pada "pasutri" itu.

"Gue nggak pernah ada perasaan sama Angel," ucap Diyo tegas setelah mereka berdua saja. "Karena gue udah punya orang yang gue cinta jauh sebelum gue ketemu Angel. Gue udah suka sama cewek itu dari jaman SMP."

Tifa mengerutkan kening. "Siapa?"

"Lo bisa nggak pindah ke belakang? Gue males ngomong madep belakang gini, pegel leher gue," elak Diyo.

"Gue nggak mau ke belakang. Lo aja yang ke depan!"

"Lo istri, nurut sama suami."

Tifa mendecih sebal, tapi akhirnya dia keluar dan pindah duduk di kursi belakang, tepat di samping Diyo.

"Udah nih. Sekarang ceritain, siapa cewek yang lo cinta dari SMP itu?" tagih Tifa kepo.

Diyo menatap Tifa geli. "Tadi lo nangis-nangis bombay gara-gara Tommy, sekarang malah kepo urusan asmara gue. Dasar cewek."

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang