Flashback: 11 Tahun yang Lalu
Di taman bermain yang riuh, dua gadis kecil duduk berhadapan di atas ayunan.
"Bintang... Bintang..." panggil gadis kecil berambut sebahu sambil mendekatkan wajahnya.
"Kenapa, Tifa?" tanya Bintang kecil, matanya bulat polos menatap sahabatnya.
"Aku takut kalau suatu saat nanti kita nggak temenan lagi," ucap Tifa lirih, wajahnya murung.
Bintang tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi susunya yang rapi. "Tenang aja! Aku pasti bakal jadi temen kamu sampai kapan pun. Walaupun kamu udah nikah nanti, aku bakal tetep jagain kamu dari laki-laki jahat yang mau gangguin kamu!"
Mata Tifa berbinar. "Janji kita bakal temenan terus?"
"Iya, janji! Friends forever!" seru Bintang sambil mengacungkan jari kelingking mungilnya.
Tifa menyambut jari itu, menautkan kelingking mereka dalam sebuah sumpah persahabatan yang lugu.
Masa Kini: Di Dalam Lift Apartemen
"BINTANG?!" teriak Diyo dan Tifa bersamaan.
Mata Bintang membelalak kaget, lalu berubah menjadi tatapan jijik. "Elo?! Dan... Elo?!" tunjuknya bergantian ke arah Diyo dan Tifa.
Pintu lift terbuka lebar di lantai dasar. Bintang melangkah keluar dengan angkuh, tapi langkahnya terhenti saat Tifa bersuara.
"Lo ngapain di sini, Bin?" tanya Tifa kaget.
Bintang berbalik, menatap Tifa sinis dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Suka-suka gue dong. Emang penting buat lo tahu urusan gue?"
Kemudian telunjuknya beralih ke wajah Diyo. "Dan lo! Ngapain lo di sini, hah? Berandalan sekolah kayak lo nggak pantes injek tempat elit kayak gini."
Diyo tersenyum miring, lalu maju selangkah mendesak Bintang. "Jawabannya sama kayak lo. Emang penting buat lo tahu urusan gue? Minggir, gue mau lewat."
Diyo dengan santai menabrak bahu Bintang, menerobos jalan menuju lift di seberang.
"Tunggu, Bin!" Tifa menahan lengan Bintang, suaranya melembut. "Gue... gue cuma kebetulan ketemu dia. Lo... lo masih marah sama gue, Bin?"
Bintang menghempaskan tangan Tifa kasar. "Lo udah tahu jawabannya, ngapain masih nanya? Basi!"
Tanpa menoleh lagi, Bintang melenggang pergi dengan heels yang berdetak keras di lantai marmer, meninggalkan Tifa yang terpaku di tempat.
Pertahanan Tifa runtuh. Air matanya menetes satu per satu. Dadanya sesak mengingat janji masa kecil mereka yang kini hancur lebur. Tangan kanannya mengepal kuat, menahan isak tangis.
Tiba-tiba, sebuah tangan kekar menariknya masuk ke dalam lift yang pintunya hampir tertutup.
Grep.
Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, tangis Tifa pecah. Dia tak kuasa menahan sesenggukan. Melihat itu, Diyo—tanpa banyak bicara—langsung menarik kepala Tifa ke dadanya, mendekapnya erat dengan satu tangan.
"Diyo... hiks... gue salah apa sih sama Bintang?" racau Tifa di sela tangisnya, tangannya memukul-mukul dada bidang Diyo pelan. "Kenapa dia benci banget sama gue? Gue salah apa, Yo?"
Diyo mempererat pelukannya, membiarkan kemejanya basah oleh air mata istrinya. "Gue nggak tahu masalah lo sama tuh cewek apa. Yang pasti... lo jangan nangis kayak gini. Gue nggak tega liatnya."
Diyo menangkup wajah Tifa dengan kedua tangannya, lalu perlahan mengusap air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Tatapannya dalam dan lembut, jauh dari kesan berandalan yang biasa ia tampilkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
