Part 22

87.9K 4K 63
                                        

"Em... Diyo!" panggil Mercy sambil berlari kecil mengejar Diyo yang sedang membuka kunci sepedanya.

Diyo menoleh. "Kenapa?"

"Lo pulang naik sepeda kan?" tanya Mercy dengan senyum manis.

"Iya. Kenapa?"

"Kebetulan banget! Gue hari ini juga bawa sepeda. So... gue boleh pulang bareng lo nggak?" Mercy mengedipkan matanya genit.

Diyo melirik sekitar. Banyak siswa laki-laki yang menatap iri ke arahnya. Pulang bareng primadona sekolah? Siapa yang nolak?

Tapi pikiran Diyo melayang ke Tifa.

"Em... Oke. Boleh aja," jawab Diyo singkat. "Tapi gue mau ke toilet bentar. Cuci muka, lengket abis lari tadi."

"Oke, gue tunggu di sini ya," Mercy tersenyum puas.

Sementara itu, di depan kelas Tifa.

Diyo (sebelum ke parkiran) menghampiri Tifa yang sedang membereskan buku.

"Lo pulang sama siapa?" tanya Diyo sambil memegang tangan Tifa, menahannya sejenak.

"Sama Kak Jeno. Dia jemput," jawab Tifa jujur.

Rahang Diyo mengeras, tapi dia berusaha tetap tenang. "Oh, yaudah. Hati-hati."

Diyo melepas tangan Tifa, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ntar lo nggak usah pulang ke apartemen dulu."

"Loh? Kenapa?" Tifa bingung.

"Lo pulang ke rumah Ortu lo aja. Kan lo bilang kangen Nyokap lo. Itung-itung lepas rindu," alasan Diyo. "Terus kalau ditanya kenapa nggak sama gue, bilang aja gue lagi di Perpusda ngerjain tugas numpuk."

"Emang lo mau ke mana?" selidik Tifa.

"Bukan urusan lo. Udah sana, jalan-jalan aja sama Jeno sepuas lo. Tapi inget, jangan kemaleman pulangnya," pesan Diyo dingin, lalu berbalik dan berjalan keluar kelas.

Di lorong, dia berpapasan dengan Mercy yang sudah menunggunya dengan setia.

"Hai, udah kelar?" sapa Mercy ceria.

"Udah. Ayo buruan," ajak Diyo tanpa senyum, berjalan cepat menuju parkiran.

Di Gerbang Sekolah

Diyo mengayuh sepedanya pelan menuju gerbang, diikuti Mercy di sebelahnya.

Mata Diyo menyipit saat melihat sebuah mobil sedan mewah terparkir di depan gerbang. Jeno berdiri di samping mobil, melambaikan tangan ke arah seseorang.

Tifa keluar dari gerbang dengan senyum merekah, berjalan menghampiri Jeno.

Diyo menghentikan sepedanya sejenak, membiarkan Tifa dan Jeno lewat di depannya. Hatinya panas melihat Tifa disambut manis oleh cowok lain.

"Aduh... so sweet banget ya mereka," celetuk Mercy di samping Diyo, memandang pasangan itu dengan kagum. "Cocok banget. Kayak pangeran sama putri di dongeng."

Diyo menoleh, menatap Mercy tajam. "Menurut lo gitu?"

"Iya dong! Liat deh, romantis banget di depan anak-anak lain. Bikin iri," Mercy masih asyik mengomentari tanpa sadar Diyo sedang menahan emosi.

Tifa, yang sedang digandeng Jeno menuju mobil, menoleh sekilas ke belakang. Matanya bertemu dengan mata Diyo.

Ada tatapan terluka di mata Diyo, meski hanya sedetik sebelum dia membuang muka.

"Ayo. Katanya mau pulang bareng," ucap Diyo dingin pada Mercy, lalu mengayuh sepedanya kencang meninggalkan gerbang sekolah.

Kencan Tifa & Jeno

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang