Diyo berlari kesetanan keluar dari kamar. Wajahnya tegang, peluh dingin membasahi pelipisnya.
Tifa, yang sedang duduk santai di sofa, bingung melihat suaminya panik seperti orang dikejar setan. "Lo kenapa sih, Yo?"
Tanpa menjawab, Diyo menyambar tas sekolahnya dan tas Tifa. Dia menarik tangan Tifa kasar, memaksanya berdiri.
"Ayo berangkat. Sekarang!"
"Ih, sakit! Lepasin! Gue belum selesai makeup!" protes Tifa, meronta minta dilepaskan.
Tapi cengkeraman Diyo terlalu kuat. Dia menyeret Tifa keluar unit, masuk ke lift, hingga sampai ke basement parkiran.
"Lo tanding jam berapa?" tanya Diyo dingin saat mereka di dalam lift.
"Jam tiga sore. Kenapa sih?! Lo aneh banget!" bentak Tifa.
Diyo tak menjawab lagi. Dia mendorong Tifa masuk ke kursi penumpang depan mobilnya, lalu membanting pintu.
"Duduk diem. Jangan banyak tanya," perintah Diyo sambil memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
Tifa mendengus kesal, memalingkan wajahnya ke jendela. Dasar cowok gila.
CKLEK!
Bunyi logam beradu membuat Tifa menoleh cepat. Matanya terbelalak. Tangan kanannya kini terborgol ke handle pintu mobil bagian dalam.
"HEH! APA-APAAN INI?!" jerit Tifa histeris. Dia menarik-narik tangannya, tapi borgol itu terkunci rapat. "DIYO! LO GILA YA?! LEPASIN GUE!"
"Diem," ucap Diyo datar. Dia menginjak gas dalam-dalam, mobil melaju kencang meninggalkan apartemen.
"LEPASIN GUE, BAJINGAN! GUE LAPORIN POLISI LO YA!" Tifa memukuli lengan Diyo dengan tangan kirinya yang bebas, mencakar, menendang.
Diyo bergeming. Wajahnya fokus ke jalanan, rahangnya mengeras.
Sesampainya di parkiran sekolah yang masih sepi.
Diyo mematikan mesin, tapi membiarkan AC tetap menyala. Dia mengambil ponsel Tifa yang tergeletak di dashboard, lalu tanpa ragu melemparnya ke kursi belakang.
"Tunggu di sini. Jangan berani-berani teriak atau gue lakban mulut lo," ancam Diyo dingin.
Diyo keluar mobil, mengunci pintu dari luar, meninggalkan Tifa yang terborgol sendirian di dalam.
Di luar mobil, Diyo langsung mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat menghubungi satu per satu anggota gengnya.
"Halo, Ran. Posisi?"
"Gue baru mau OTW, Bos. Kenapa?"
"Darurat. Kode A-T."
Hening sejenak di seberang sana. "HAH?! SERIUS BOS?! Oke, gue ngebut sekarang!"
Diyo memutus sambungan, lalu menelepon Fero.
"Fer. Posisi?"
"Lagi sarapan bubur, Bos."
"Kode A-T. Sekarang."
"Uhuk! Siap, Bos! Gue meluncur!"
Terakhir, Marco.
"Posisi?"
"Kantin."
"A-T."
Tuuut. Sambungan langsung diputus Marco. Dia tahu apa yang harus dilakukan.
Parkiran sekolah menjadi titik kumpul. Diyo membuka bagasi mobilnya, menyingkap karpet dasar, dan mengeluarkan sebuah kotak hitam berisi earpiece komunikator.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
