Part 21

90.7K 3.9K 83
                                        

Pukul 03.15 Dini Hari

Suara gemuruh perut memecah keheningan apartemen yang gelap. Diyo terbangun, rasa lapar memaksanya membuka mata.

Dengan langkah gontai setengah sadar, dia berjalan ke dapur, mengambil botol air dingin dari kulkas, dan menegaknya rakus.

Saat meletakkan botol, ekor matanya menangkap sesuatu. Pintu kaca menuju balkon terbuka sedikit, membiarkan angin malam menyelinap masuk. Tirai tipis melambai-lambai.

Diyo mengernyit. Dia melangkah ke balkon.

Di sana, di bawah sinar rembulan yang redup, Tifa berdiri mematung. Rambut panjangnya yang terurai ditiup angin, kaos oversize-nya berkibar pelan. Dia menatap hamparan lampu kota Jakarta dengan pandangan kosong.

Diyo menghampiri istrinya, berdiri di sampingnya dalam diam.

"Lo ngapain di sini?" tanya Diyo pelan, memecah kesunyian.

"Nggak apa-apa," jawab Tifa tanpa menoleh.

"Kalau malem-malem bengong di sini, nggak mungkin 'nggak apa-apa' kali. Ntar kesambet baru tahu rasa lo," ucap Diyo, nadanya datar tapi ada kekhawatiran terselip di sana.

Tifa hanya tersenyum tipis, masih enggan bicara.

"Tunggu bentar."

Diyo masuk kembali ke dalam. Tak lama kemudian, dia kembali membawa selimut tebal dan dua cangkir kopi instan panas.

Dia menyampirkan selimut itu ke punggung Tifa, membungkus tubuh istrinya agar hangat.

"Duduk sini," Diyo menuntun Tifa duduk di ayunan rotan yang ada di sudut balkon. Dia menyerahkan satu cangkir kopi.

Mereka duduk bersisian, ditemani uap kopi yang mengepul.

"Jadi... kenapa lo belum tidur?" tanya Diyo lagi, menatap wajah samping Tifa yang terlihat sendu.

Tifa menyesap kopinya sedikit. "Gue kangen Mama sama Papa."

"Yaudah, besok gue anter lo ke sana," tawar Diyo enteng.

"Gue mau tinggal di sana lagi, boleh nggak?" tanya Tifa lirih, mengeratkan selimutnya.

Diyo terdiam sejenak, menatap isi cangkirnya. "Boleh. Kalau itu bikin lo seneng, tinggal aja di sana."

Angin malam berhembus kencang. Tifa menggigil sedikit.

"Lo dingin?"

Tanpa menunggu jawaban, Diyo meletakkan cangkirnya. Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dengan cepat hingga terasa panas, lalu dengan lembut menempelkannya ke kedua pipi Tifa.

Tifa tersentak. Kehangatan dari tangan Diyo menjalar ke wajahnya yang dingin. Dia menatap mata Diyo yang fokus menghangatkan pipinya. Jantung Tifa berdegup kencang, napasnya tercekat.

'Astaga... Diyo kok bisa sweet gini sih? Kenapa lo harus sebaik ini di saat gue lagi bingung soal Jeno?' batin Tifa galau.

"Masih dingin?" tanya Diyo pelan.

"Udah... agak lumayan," jawab Tifa gugup.

"Sini tangan lo." Diyo meraih kedua tangan Tifa yang sedingin es.

Dia menggenggamnya, lalu meniup-niup sela-sela jari Tifa dengan napas hangatnya, persis seperti adegan di drama Korea yang sering mereka tonton.

Wajah Tifa memanas. Perlakuan Diyo yang sederhana ini entah kenapa terasa sangat intim.

"Udah, Yo... Udah anget kok," tarik Tifa pelan.

"Oh, oke." Diyo melepaskan tangan Tifa, kembali bersikap cool.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang