Part 4

114K 5.5K 25
                                        

Author POV

Lima hari setelah malam pertemuan keluarga yang penuh drama itu, hari yang ditakuti Diyo pun tiba.

Di dalam kamarnya, Diyo duduk kaku di tepi ranjang. Jantungnya berdegup kencang, seolah sedang rave party di dalam rongga dadanya. Jari-jemarinya tak henti mengetuk-ngetuk paha, sementara mulutnya komat-kamit menghafal mantra—eh, maksudnya kalimat ijab qabul.

"Saya terima nikahnya... dan kawinnya... eh, salah, maskawinnya dulu apa nikahnya dulu sih? Anjir, gue lupa lagi!" Diyo menggelengkan kepalanya frustrasi.

'Duh, mampus gue. Kalau sampe salah ngomong, bisa-bisa gue jadi bahan ketawaan seumur hidup,' batinnya panik sambil mengacak-acak rambut yang sudah ditata rapi.

Di sisi lain, di kediaman keluarga Aditama.

Tifa sudah siap dengan kebaya putih anggun yang membalut tubuh rampingnya. Wajahnya dipulas make-up natural yang memancarkan kecantikannya. Namun, kontras dengan penampilannya yang sempurna, tangannya sibuk me-reject panggilan masuk di ponselnya.

Tommy Calling...

Reject.

Tifa menghela napas berat. Kekhawatirannya bukan pada prosesi akad nanti—toh Diyo yang bakal ngomong—melainkan pada Tommy. Bagaimana dia harus menjelaskan semua ini nanti?

Diyo POV

Hari ini resmi jadi hari terburuk dalam sejarah hidup gue.

Hari di mana masa lajang gue yang indah harus berakhir tragis di usia delapan belas tahun. Gila nggak sih? Di saat temen-temen gue sibuk mikirin mau kuliah di mana atau nongkrong di mana, gue malah harus mikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

Pernikahan itu sakral, woy! Sekali seumur hidup. Gue pengennya nikah sama cewek yang gue cinta, bukan sama cewek asing yang baru gue kenal lima hari yang lalu. Argh!

Author POV

Tepat pukul sepuluh pagi.

Suasana di kediaman Aditama terasa khidmat namun tegang. Bodyguard berbadan tegap berjaga di pintu gerbang, memastikan hanya tamu undangan VVIP yang boleh masuk.

Sebuah sedan hitam mewah memasuki pelataran rumah. Dari dalam mobil, keluarlah Diyo. Dia tampak gagah dalam balutan setelan jas hitam dan peci hitam di tangan kirinya. Diapit oleh kedua orang tuanya, Diyo melangkah masuk dengan tegap. Wajahnya datar tanpa ekspresi, berusaha menutupi gemuruh di dadanya. Dia berjalan lurus, tak berani menoleh ke kiri-kanan.

Sesampainya di meja akad, Diyo duduk berhadapan dengan penghulu dan ayah Tifa. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.

"Jangan gugup, Yo. Dibawa santai aja," bisik seseorang dari barisan belakang. Itu Iqra, sepupu Diyo yang sengaja datang jauh-jauh dari pesantren.

Bukannya tenang, bisikan itu malah bikin Diyo makin gelisah. Dia menggeser posisi duduknya berkali-kali, tak bisa diam seperti cacing kepanasan.

"Pengantin perempuan dipersilakan memasuki ruangan," suara MC menggema.

Jantung Diyo rasanya mau copot. Secara refleks, dia menoleh ke arah tangga.

Di sana, Tifa sedang menuruni anak tangga dengan anggun, didampingi oleh ibunya. Diyo terpaku.

'Gila... Cantik banget,' batinnya tanpa sadar memuji.

Tifa berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya. Aroma melati dari hiasan rambut Tifa menguar, membuat Diyo sedikit rileks sekaligus makin deg-degan.

Penghulu memulai prosesi dengan doa pembuka. Setelah itu, Ayah Tifa menjabat tangan Diyo erat. Tatapannya tajam dan tegas.

"SAUDARA DIMAS DIYO WILLYAN BIN HENDRA SUSILO WILLYAN! SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN PUTRI SAYA, TATIFA TASYA ADITAMA BINTI HAFIZH ADITAMA, DENGAN MASKAWIN BERUPA UANG TUNAI SEBESAR LIMA JUTA RUPIAH DAN SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI!"

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang