Melihat Tommy dari kejauhan, Tifa langsung memutar bola matanya malas.
"Ah, males banget. Kenapa harus ada dia sih?" gerutu Tifa.
Diyo, yang berjalan di belakangnya sambil menenteng tas pink, berteriak iseng. "WOY! CURUT!"
Tommy yang sedang asyik ngobrol dan tertawa dengan teman satu timnya langsung menoleh ke sumber suara. Matanya berbinar saat melihat Tifa.
"Ah, lo tuh! Bangke emang!" umpat Tifa kesal, lalu berlari sekencang mungkin menuju lapangan basket untuk menghindari Tommy.
Melihat Tifa kabur, Tommy langsung berlari mengejar. Diyo berjalan santai di belakang, menikmati drama ini sambil mengunyah permen karet.
Sesampainya di lapangan, langkah Tommy terhenti di pintu masuk.
"Maaf, Mas. Selain pemain dan ofisial dilarang masuk," cegat petugas keamanan bertubuh kekar.
"Tapi Pak, saya mau ketemu..." Tommy berusaha melongok ke dalam, tapi Tifa sudah menghilang di balik kerumunan timnya.
Tommy hanya bisa pasrah, berdiri di luar pagar pembatas sambil berteriak memanggil, "TIFA! TIFA!"
Tifa pura-pura tuli.
Sementara itu, Diyo berjalan santai mendekati petugas keamanan yang sama. Petugas itu hendak mencegatnya, tapi Diyo dengan cepat menyodorkan dua botol minuman isotonik dingin dan sekotak nasi.
"Buat Bapak. Semangat jaganya, Pak," ucap Diyo ramah (tumben).
Saat petugas itu lengah karena "sogokan", Tifa muncul dari balik kerumunan dan menarik tangan Diyo.
"Pak, dia asisten pribadi saya. Dia yang bawain semua peralatan dan logistik tim. Jadi dia wajib masuk," ucap Tifa dengan nada meyakinkan.
Petugas itu melirik Diyo yang menenteng tas pink dan rantang makanan. Tampangnya memang meyakinkan sebagai "babu".
"Oh, asisten. Yaudah, boleh masuk. Tapi pake id card ini ya," petugas itu menyerahkan kartu bertuliskan OFFICIAL CREW.
Tanpa menunggu Diyo protes, Tifa langsung mengalungkan kartu itu ke leher suaminya dan menariknya masuk.
"Duduk sini. Siapin anduk, air minum, sama deker gue. Gue mau pemanasan," perintah Tifa sambil menunjuk bench pemain.
Diyo mendengus kasar. Dia membongkar isi tas Tifa dengan wajah masam.
"Gila emang. Kalau bukan karena janji sama Nyokap, ogah banget gue kayak gini," gumam Diyo sambil mengeluarkan botol minum. "Biasa gue yang nyuruh orang, sekarang malah gue yang jadi babu. Sama cewek lagi. Harga diri gue anjlok."
Diyo melirik kartu id card di lehernya. "Ngapain juga gue pake ginian? Kayak panitia sunatan massal." Dia melepas kartu itu dan memasukkannya ke saku.
Tugas selesai. Diyo duduk di bangku cadangan paling ujung, menyandarkan punggung, lalu memasang headset merahnya. Dia memejamkan mata, memutar lagu Beethoven dengan volume full untuk meredam kebisingan. Tidur adalah pilihan terbaik.
Suara MC menggema di seluruh stadion.
"Baiklah! Pertandingan selanjutnya... SMA 2 melawan SMK IT! Kedua tim harap bersiap di posisi!"
Tifa mengambil handuk dan minumnya dari tas yang sudah disiapkan Diyo. Dia tidak pamit pada suaminya karena melihat cowok itu sudah pulas tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Dan mari kita sambut penampilan spesial dari Tim Cheers SMA 2!"
Musik upbeat yang menghentak tiba-tiba meledak dari speaker besar tepat di belakang Diyo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
