Part 20

89.2K 4.3K 32
                                        

Tifa berlari kecil menuju wastafel di dekat taman sekolah. Napasnya masih memburu setelah kejadian di kelas tadi. Dia membasuh wajahnya yang panas dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya.

Saat dia menegakkan badan dan mengusap wajahnya, dia menyadari seseorang berdiri di sampingnya.

"EH, ASTAGA!"

Tifa terlonjak kaget dan nyaris terpeleset ke belakang karena lantai yang licin.

HAP.

Sebuah tangan kekar dengan sigap menangkap pergelangan tangannya, lalu menariknya mendekat agar tidak jatuh.

Tubuh Tifa menabrak dada bidang Diyo. Aroma parfum maskulin Diyo bercampur wangi sabun langsung menusuk hidung Tifa. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.

Diyo menatap Tifa lekat, napasnya ikut tertahan. Mereka terpaku dalam posisi itu selama beberapa detik.

Sadar situasi mulai berbahaya, Diyo buru-buru melepaskan pegangannya dan mundur selangkah.

"Lo... lo ngapain di sini?" tanya Diyo, berusaha menutupi kegugupannya dengan wajah datar.

"Ya lo yang ngapain di sekolah gue?!" sembur Tifa. "Sumpah, gue kira gue masih mimpi buruk."

"Gue dikeluarin dari sekolah," jawab Diyo santai sambil bersandar di tembok.

"Loh? Kok bisa? Emang lo ngapain lagi? Bakar sekolah?"

"Nggak. Gue difitnah," Diyo mendengus sinis. "Anak komite nuduh gue sama Bintang ngeroyok dia, padahal faktanya gue sama Bintang cuma ngebela diri. Tapi ya gitu, bokapnya punya kuasa lebih gede dari integritas Kepsek."

"Anak komite?" Tifa berpikir sejenak. Matanya membulat. "Jangan bilang... Tommy?"

Diyo tersenyum miring. "Siapa lagi kalau bukan tikus curut itu?"

"Astaga... Dia bener-bener niat banget," gumam Tifa sambil memijat keningnya. "Tapi dari ratusan sekolah di kota ini, kenapa lo harus pindah ke SMA gue?"

"Pak Fahri yang milihin. Katanya perintah Kakek, biar gue deket sama lo. Biar ada yang ngawasin gue supaya nggak jadi berandalan lagi," jelas Diyo.

"Astaga... Gue dijadiin babysitter beneran," keluh Tifa.

"Udah, ayo masuk kelas. Kelamaan di sini ntar dikira kita lagi mesum," Diyo meraih tangan Tifa, menggandengnya santai.

"Lepasin nggak?!" Tifa menarik tangannya panik. "Gue malu diliatin anak-anak! Ntar fans gue pada kabur gara-gara lo!"

"Dih, PD banget lo punya fans," cibir Diyo, tapi dia melepaskan tangan Tifa.

Diyo berjalan duluan dengan langkah tegap, sementara Tifa mengekor tiga langkah di belakangnya sambil menggerutu.

"Sekolah lo lumayan juga," komentar Diyo melihat sekeliling.

"Makasih," jawab Tifa ketus.

Hanya itu percakapan mereka sepanjang perjalanan kembali ke kelas.

Istirahat Pertama

"Kalian berdua kok barengan?" tanya Guru yang sedang menjelaskan di depan kelas saat melihat Diyo dan Tifa masuk hampir bersamaan.

"Ketemu di jalan, Pak. Kebetulan," jawab Tifa cepat, lalu buru-buru duduk.

Diyo hanya diam dan duduk di kursinya tanpa dosa.

Bel istirahat berbunyi. Diyo tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia menyumpal telinga dengan earphone, memutar lagu dengan volume keras, dan mengunyah permen karet dengan gaya cool.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang