Part 10

99.2K 3.9K 55
                                        

Rannu dengan sigap meraih bahu Diyo yang gemetar hebat.

"Lo nggak salah, Yo. Nggak ada yang salah di sini," ucap Rannu menenangkan, membantu Diyo berdiri tegak.

Marco, yang sedari tadi diam, tiba-tiba jatuh berlutut di depan Diyo. "Ini semua salah gue, Bos... Seandainya waktu itu gue nggak mohon-mohon ke lo buat ngelakuin itu... pasti nggak bakal jadi kacau kayak gini."

"Woy, apaan sih lo pada!" potong Fero tegas, menghentikan drama melankolis itu. "Jangan pake 'seandainya'. Nasi udah jadi bubur. Udah berlalu. Sekarang fokus, gimana cara beresin kekacauan ini."

Diyo menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. "Gue harus jelasin ke Tifa. Tapi gue harus mulai dari mana?"

Tiba-tiba, pintu mobil Diyo terbuka kasar. Tifa keluar dengan mata sembab dan wajah merah padam. Dia berjalan cepat menghampiri mereka, tangannya terkepal kuat menahan amarah.

"Ini semua apaan sih, Yo?!" teriak Tifa, suaranya parau. "Kalian main rahasia-rahasiaan apa di belakang gue?! Jelasin ke gue SEKARANG!"

Diyo menatap Tifa sendu. "Oke. Gue bakal jelasin semuanya. Tapi nggak di sini. Masuk mobil. Kalian semua masuk."

Mereka menurut. Namun saat Diyo hendak membuka pintu pengemudi, Marco menahan tangannya.

"Dim... biar gue yang nyetir. Dan biar gue yang jelasin ke Tifa," ucap Marco pelan namun mantap. "Ini beban gue, bukan lo."

Diyo menatap Marco sejenak, lalu mengangguk. Dia pindah ke kursi belakang bersama Fero dan Rannu. Marco duduk di kursi pengemudi, dan Tifa di kursi penumpang depan.

Suasana di dalam mobil hening mencekam. Bahkan Fero yang biasanya berisik pun kicep, tak berani bersuara. Hanya suara mesin mobil yang terdengar.

"Jadi... siapa yang mau mulai ngomong?" tagih Tifa memecah kesunyian, matanya menatap lurus ke jalanan.

"Gue," jawab Marco dan Diyo berbarengan.

Mereka saling pandang lewat kaca spion tengah. Diyo mengangguk. "Biar Marco yang jelasin."

Marco menarik napas panjang, mencengkeram setir erat-erat.

"Jadi Tifa... cewek yang lo liat ciuman sama Tommy tadi... itu Angel. Istrinya Tommy."

Tifa tersentak, menoleh cepat ke arah Marco. "Maksud lo? Istri? Gue nggak ngerti. Jangan ngaco deh!"

"Tommy ngehamilin Angel, Tif," sahut Fero dari belakang, tak tahan dengan basa-basi. "Cewek yang lo liat tadi itu korban Tommy."

Tifa membeku. "Hamil? Istri? Kalian ngarang cerita ya?!"

"Kita nggak ngarang," potong Diyo serius. "Dengerin dulu. Ini kejadian dua tahun lalu..."

FLASHBACK: 2 Tahun Lalu

Di sebuah pesta ulang tahun mewah di hotel berbintang. Musik berdentum keras, lampu disko berkedip-kedip.

"Bin, lo kasih kado apa ke Angel?" tanya Diyo pada Marco.

"Gue cuma kasih boneka beruang gede," jawab Marco sambil memegang kotak kado besar.

"Kalo gue nggak ngasih apa-apa. Nggak sempet beli, duit gue abis buat warnet," cengir Fero tanpa dosa. "Rannu mana?"

"Gue nggak tahu, kayaknya dia nggak dateng deh. Udahlah biarin, yuk masuk. Keburu makanannya abis," ajak Marco.

"Makanan mulu otak lo," ledek Diyo.

Di dalam ballroom, Diyo menyerahkan kado kecil ke Angel yang sedang dikerumuni teman-temannya.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang