Part 2

171K 9.7K 107
                                        

Author POV

Suasana kantin SMA 5 yang biasanya mirip pasar kaget mendadak senyap. Heboh tawa yang biasa terdengar kini berganti menjadi bisik-bisik. Pandangan para siswa tertuju pada satu titik: meja di sudut kantin tempat seseorang duduk diam, menatap kosong semangkuk bakso di hadapannya.

"Eh, Bos, lo kenapa dah? Nggak selera sama baksonya?" tanya Fero, salah satu anak buah Diyo, sambil memukul meja pelan. "Gue beliin yang baru, deh. Tapi jangan ngelamun gitu dong, Bos. Gue jadi ikutan sedih nih liatnya."

Diyo menghela napas panjang. "Apaan sih lo, Fer. Gue bukan ngelamun, cuma lagi ngeliatin bakso gue. Siapa tahu ada lalatnya."

Tiba-tiba, dari kejauhan seorang cowok berjalan cepat menghampiri meja mereka. Itu Rannu, anggota geng Diyo lainnya selain Fero, Marco, dan Kiky.

"Bos! Fer! Mar! Ada fresh meat alias anak baru!" seru Rannu antusias. "Kita bisa dapat mangsa hari ini."

Marco langsung menegakkan punggungnya, matanya berbinar. "Wah, ayo kita kerjain! Kita lihat apa yang bisa kita lakuin sama anak baru itu."

"Seru nih! Udah lama sekolah kita nggak kedatangan murid baru. Gas, Bos! Waktunya beraksi!" kompor Fero sambil menepuk punggung Diyo.

Namun, Diyo justru bangkit dari kursinya dengan wajah lesu. "Ah, kalian aja deh. Gue lagi banyak pikiran, pengen sendiri dulu. Lo pada duluan aja, ntar gue nyusul kalau gue mood."

Tanpa menunggu jawaban teman-temannya, Diyo melenggang pergi meninggalkan kantin.

Diyo POV

Gue berjalan menyusuri pinggir lapangan basket dengan pikiran kacau. Sumpah, gue mikirin apaan sih? Hati gue gelisah nggak karuan.

Calon istri gue siapa, ya? Bikin penasaran aja. Yang pasti, gue berdoa banget semoga bukan si Bintang, cewek nyebelin dan rese itu. Jangan sampai gue dapet cewek modelan dia.

"Yo! Diyo!!"

Suara teriakan dari arah atas membuyarkan lamunan gue. Gue mendongak dan melihat seseorang di rooftop lantai dua. Gue kenal banget suara itu. Fateh. Sahabat, sepupu, sekaligus partner in crime gue dari kecil.

Gue langsung naik menghampirinya. Dia masih berdiri menghadap ke bawah, memandangi lapangan. Gue pukul pundaknya cukup keras. "Woi, Teh!"

Fateh berbalik, senyum khasnya langsung merekah. "Loh, tumben jalan sendiri? Biasanya banyak tuh pengawal lo ngekor di belakang."

Gue mendengus geli. "Gue tinggalin di kantin. Lagi bete gue. Sumpah, seumur-umur baru kali ini gue ngerasa sebete ini."

"Terakhir lo bete kapan, ya?" Fateh tampak berpikir sejenak. "Oh iya! Pas umur tujuh tahun! Inget nggak lo? Waktu Kakek ninggalin kita di L.A. bareng Bibi Riska. Lo ngambek seharian nggak mau makan, gue bujuk juga nggak mempan. Ujung-ujungnya Kakek harus balik lagi cuma buat jemput kita."

Gue tertawa kecil mendengar cerita memalukan itu. "Sialan lo. Tapi gini, Teh... lo udah tahu soal perjodohan gue, kan?"

"Oh, yang dibilang Kakek sama Bokap lo kemarin?"

"Nah, itu! Gue harus gimana, Teh? Bingung banget gue."

Fateh menepuk bahu gue sok bijak. "Udah, jalanin aja dulu. Siapa tahu emang jodoh dari Tuhan, ya nggak?"

"Ah, lo mah sama aja kayak Nyokap-Bokap gue. Ujung-ujungnya bawa-bawa 'jodoh dari Tuhan'. Gue nggak habis pikir, Kakek tega banget sama gue."

"Ya lo sih, siapa suruh jadi anak berandalan? Makanya dijodohin, kan. Coba kayak gue, good boy. Tapi ada benernya juga Kakek milih lo. Sifat lo kan masih kayak bocah, jahil tingkat dewa, terus sama cewek dingin banget. Setidaknya sepupu gue ini nggak pernah berantem fisik," ledek Fateh.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang