Part 7

100K 4.7K 39
                                        

Tifa masih bersembunyi di balik tembok kantin, mengintip dengan hati berdebar. Rasa penasarannya sudah di ubun-ubun.

"Bikin penasaran aja sih si Diyo nih," gumam Tifa gemas.

Dengan semangat 45—atau mungkin semangat nekat—Tifa memberanikan diri mendekati area terlarang itu. Dia berjalan lurus menghampiri Fero, Marco, dan Rannu yang sedang berjaga seperti bodyguard di depan gerbang gedung tua.

Teringat pesan Tommy tadi: "Jangan pernah deket-deket sama mereka, bahaya."

Tapi masa bodoh lah. Diyo kan suaminya (walaupun di atas kertas doang), jadi Tifa merasa punya hak veto.

"Woy," sapa Tifa saat sudah dekat. "Di dalem situ ada apaan sih?"

Fero, yang melihat kedatangan Tifa, langsung panik. Dia celingukan kanan-kiri.

"Aduh, Neng Kapten Basket yang cantik jelita... Mending lo jangan ke sini deh. Lo nggak tahu apa yang bisa dilakuin Bos gue ke orang asing yang lancang," bisik Fero dengan wajah memelas.

"Siapa sih, Fer?" tanya Rannu curiga.

"Iya, siapa tuh? Kok bisa tahu tempat rahasia kita? Lo yang bocorin ya, Fer?" tuduh Marco sambil melotot.

"Sembarangan! Enak aja lo nuduh gue! Gue mana tahu kalau dia bisa nyasar sampe ke belakang sekolah!" elak Fero.

"Ah, berisik lo semua!" potong Tifa tak sabar. "Gue mau masuk ke situ. Gue mau ketemu Diyo. Minggir!"

Fero merentangkan tangannya, menghalangi jalan. "Duh, sorry banget nih. Gue nggak bisa izinin lo lewat. Lo tuh cewek, cantik, baik pula. Mending lo balik kanan grak deh. Ntar kalau Bos marah, kita disuruh nyakitin lo. Gue nggak tega, Neng."

"Gue nggak peduli. Cepet minggir atau gue teriak!" ancam Tifa.

"Lo kok keras kepala banget sih jadi cewek?!" bentak Marco, kesabarannya habis.

"Iya, lo bisa pergi nggak dari sini? Ganggu aja," tambah Rannu jengkel.

"Lo pada sama cewek bisa santai dikit nggak sih?" protes Fero membela.

Rannu menatap Fero tajam. "Lo pilih mati di tangan Bos, atau lo singkirin dia sekarang?"

Marco mendengus kasar. "Yaudah, lo mau masuk? Lo tunggu sini ya, Cantik."

Marco pergi sebentar ke pos satpam tak terpakai di dekat situ, lalu kembali dengan membawa gulungan tali tambang.

"Ikat dia di pohon itu. Biar nggak berisik," perintah Marco dingin.

"Ayo Fer, iket dong. Lama banget," desak Rannu.

"Iya, iya! Sabar napa! Ini gue lagi nyimpul talinya!" Fero dengan berat hati mendekati Tifa.

"Loh? Apa-apaan nih?! Lepasin gue! Lo mau mati ya?!" Tifa meronta saat Fero mulai melilitkan tali ke tangannya dan mengikatnya ke batang pohon besar.

"Gue mending mati di tangan lo daripada mati di tangan Bos gue," jawab Marco santai sambil mengencangkan ikatan.

"LEPASIN GUE, WOY!! DASAR MANUSIA-MANUSIA BAR-BAR! TAULAH LO SEMUA ITU GILA!!" teriak Tifa sekuat tenaga.

Namun teriakan Tifa tak digubris. Mereka kembali berdiri tegak menjaga gerbang, membiarkan Tifa terikat tak berdaya.

Di area belakang gedung.

Steven, yang sedang bernegosiasi dengan Diyo, mendengar keributan di depan. Waktu pertemuan mereka juga sudah habis.

"Urusan kita kelar. Gue cabut," ucap Steven singkat, lalu berjalan cepat keluar gedung.

Saat melewati gerbang, Steven melihat sekilas ada cewek berseragam basket terikat di pohon. Tapi dia masa bodoh. Bukan urusannya. Dia terus berjalan tanpa menoleh.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang