Part 17

90.4K 3.9K 36
                                        

Di tengah keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang, ponsel Tifa bergetar di bawah bantal.

Drrt... drrt...

Tifa mengerang pelan, meraba-raba di balik bantalnya dengan mata setengah terpejam. Dia mengangkat panggilan itu tanpa melihat nama penelepon.

"Halo... siapa nih?" suaranya serak khas bangun tidur.

"Astaga Tif, lo lupa sama suara gue?!" suara cempreng di seberang sana langsung bikin Tifa melek sedikit.

"Siapa sih? Ganggu orang tidur aja."

"Najis banget lo! Baru juga tadi siang ketemu, udah lupa aja. Ini Karin, woy!"

"Oh, Karin," Tifa menguap lebar. "Kenapa nelpon jam segini? Kesurupan lo?"

"Lo kok ngomongnya bisik-bisik gitu sih? Biasanya juga toa."

"Sstt! Pelan-pelan!" desis Tifa. "Diyo lagi tidur di sebelah gue. Ini gue ngebelakangin dia biar nggak bangun. Bisa mampus gue kalau dia kebangun."

"LOH?! JADI LO TIDUR SERANJANG SAMA DIYO?!" pekik Karin heboh.

"Berisik, bego! Pelanin suara lo!" Tifa panik, melirik Diyo sekilas. Untung suaminya itu tidurnya kayak kebo. "Iya, seranjang. Dia lagi meluk gue nih. Tadi tangannya di kepala gue, terus gue geser ke pinggang."

"Wah, gila... Posisinya spooning dong? Terus sekarang tangannya di mana?"

"Di pinggang gue. Ah, lo banyak tanya kayak wartawan! To the point aja napa, ada apaan?"

"Iya, iya, sorry kepo. Gue cuma mau kasih breaking news." Karin memberi jeda dramatis. "Kak Jeno baru balik dari Turki."

Jantung Tifa seakan berhenti berdetak sedetik. Matanya langsung terbuka lebar. "Hah? Lo serius?"

"Yaiyalah gue serius! Emangnya gue muka penipu? Tadi gue liat story-nya, dia udah di Jakarta."

Tifa terdiam, otaknya mendadak blank. Nama itu... nama yang sudah lama dia kubur dalam-dalam.

"Yaudah... nanti kita omongin lusa abis upacara kemenangan gue di sekolah. Gue ngantuk," ucap Tifa buru-buru, lalu mematikan telepon sepihak.

Tifa menyelipkan ponselnya kembali ke bawah bantal. Hatinya gelisah. Dia mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Pikirannya melayang ke masa lalu.

Tanpa sengaja, tangannya menyentuh lengan kekar Diyo yang melingkar posesif di pinggangnya.

Tifa berbalik badan pelan-pelan, menghadap suaminya yang masih terlelap. Cahaya remang-remang menyinari wajah Diyo. Tifa menatapnya lekat-lekat—mulai dari rambut cokelatnya yang berantakan, alis tebalnya, hidung mancungnya, hingga jakunnya yang naik-turun seirama napas.

Tangan Tifa terulur, menyisir lembut rambut Diyo.

"Gue nggak tahu, Yo..." bisik Tifa nyaris tak terdengar. "Di saat gue mulai belajar buka hati buat lo... kenapa Jeno harus balik sekarang?"

Tifa menghela napas berat, matanya berkaca-kaca. "Jeno... cinta pertama gue, dateng buat nepatin janjinya. Maafin gue, Yo. Gue bingung. Gue harus milih Jeno yang udah jelas cinta gue, atau... tetep sama lo, manusia labil yang baru gue kenal?"

Tak ada jawaban. Hanya dengkuran halus Diyo yang membalas. Tifa membenamkan wajahnya di dada bidang Diyo, mencari ketenangan di sana sebelum kembali terlelap.

Pagi Hari

"Oii... bangun, Kebo."

Tepukan pelan di pipi membuat Tifa membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Diyo yang berada tepat di atasnya, menatapnya dengan senyum jail.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang