"TIFA! Lo ditungguin sama Kak Jeno di kafe depan!" seru Karin heboh, napasnya ngos-ngosan sehabis lari dari gerbang.
Tifa yang sedang membereskan buku langsung mematung. "Hah? Serius lo?!"
"Yaiyalah serius! Masa Karin Fitrah bohong sama lo? Buruan!"
"Yaudah, gue ke sana sekarang!" Tifa menyambar tasnya dengan panik. "Sama siapa gue ke sana?"
"Ya sama gue lah! Emang lo mau terbang? Ayo cepetan, keburu dia lumutan!"
Tifa, Karin, dan Tika berlari menerobos kerumunan siswa yang memadati gerbang sekolah saat jam pulang. Mobil jemputan Karin sudah menunggu.
"Pak, ngebut ke Kafe Pelangi ya! Urgent!" perintah Karin pada supirnya.
Sepanjang perjalanan, jantung Tifa berdegup kencang. Jeno... Nama yang selama setahun ini dia rindu-rindukan, akhirnya kembali.
Sesampainya di depan kafe, Tifa berdiri sejenak, menatap papan nama kafe dengan gugup. Dia merapikan rambut dan seragamnya di pantulan kaca jendela.
'Oke, Tifa. Stay cool,' batinnya.
Tifa melangkah masuk. Matanya menyapu seisi ruangan, mencari sosok itu. Pandangannya berhenti di meja pojok, tempat favorit mereka dulu.
Seorang cowok duduk membelakangi pintu masuk, sedang menyesap kopinya dengan tenang. Punggung tegap itu... Tifa sangat hafal.
Dengan langkah gemetar, Tifa mendekat dan berdiri di belakang cowok itu.
Jeno seolah merasakan kehadiran seseorang. Dia memutar kursi, lalu berdiri. Senyum manis yang sangat Tifa rindukan langsung merekah di wajah tampannya.
Tifa membalas senyum itu, matanya berkaca-kaca.
"Apa kabar?" sapa Jeno lembut, suaranya terdengar lebih berat dan dewasa dari setahun lalu.
"Baik," jawab Tifa lirih.
"Ayo duduk," Jeno menarik kursi di hadapannya.
Mereka duduk berhadapan. Hening sejenak, hanya tatapan mata yang berbicara melepas rindu.
"Jadi... siapa duluan yang ngomong?" tanya Jeno malu-malu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya Kakak aja dulu. Kan Kakak yang ngajak ketemuan," jawab Tifa.
"Oke. Kalau aku langsung to the point, nggak apa-apa kan?"
"Hah? Iya Kak, santai aja. Malah lebih bagus, biar nggak berbelit-belit."
Jeno menarik napas panjang. Tiba-tiba dia meraih kedua tangan Tifa di atas meja, menggenggamnya erat. Tatapannya menukik tajam ke dalam manik mata Tifa.
"Tifa... Aku pernah janji sama kamu, kalau aku bakal balik lagi ke kamu setelah satu tahun aku nyelesain studi di Turki. Dan sekarang, aku di sini. Aku udah tepatin janji aku."
Jeno mengusap punggung tangan Tifa dengan ibu jarinya. "Aku mau kita jalin hubungan kayak dulu lagi. Kamu tahu kan maksud aku? Jadi... Tifa, kamu mau nggak balikan sama aku?"
Dunia Tifa seakan berhenti berputar. Tommy? Lewat. Diyo? Lupa. Di depannya kini ada Jeno, cinta sejatinya.
"Aku..." Tifa tergagap.
"Gimana? Mau nggak?" desak Jeno lembut. "Aku hitung sampai tiga ya. Satu... Dua..."
"Iya, aku mau," potong Tifa cepat, diiringi anggukan mantap.
Senyum Jeno merekah lebar, wajahnya bersinar bahagia.
"Makasih, Tif," ucap Jeno tulus. Dia mengangkat tangan Tifa dan mengecup punggung tangannya lembut. "Maafin aku dulu pernah ninggalin kamu. Sekarang aku janji bakal ada buat kamu terus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
