Author POV
Dua hari berlalu sejak pertemuan keluarga malam itu.
Pagi ini, matahari bersinar cerah menyinari gedung sekolah yang megah. Di koridor, sosok cowok jangkung berjalan santai dengan gaya khasnya: kemeja seragam yang kancingnya sengaja dibuka, mengekspos kaos putih polos di baliknya. Siapa lagi kalau bukan Diyo.
"Fero!!" teriak Diyo lantang saat melihat temannya berdiri di depan kelas.
Fero menoleh dengan wajah masam. "Lo apaan sih, Bos? Berisik banget. Gue lagi merhatiin Bintang nih. Lo datang malah ngerusak pemandangan."
Diyo mendengus malas, matanya melirik ke arah jendela kelas tempat Fero memaku pandangan. "Ngapain sih lo di sini? Bukannya nungguin gue di gerbang kayak biasa? Kurang kerjaan banget merhatiin cewek tengil kayak dia. Nggak ada faedahnya."
"Gini ya, Bos," sahut Fero membela diri, matanya berbinar memuji objek pandangannya. "Bintang itu emang ngeselin, gue akuin. Tapi dia itu cantik, Bos. Siapa coba yang nggak mau sama dia?"
Diyo menaikkan sebelah alisnya skeptis. "Tapi kan cowok-cowok di sekolah ini ngefans-nya sama Anjani, bukan Bintang."
"Mata cowok-cowok tuh pada katarak kali. Jelas-jelas cantikan Bintang daripada Anjani," cibir Fero.
Tiba-tiba, sebuah suara ketus memotong obrolan mereka tepat di samping telinga Fero.
"Lo ngomong apa barusan? Lo bilang cantikan Bintang daripada gue?"
Anjani berdiri di sana, bersedekap dada dengan tatapan tajam yang siap membunuh. "Denger ya, kalau lo suka sama Bintang, suka aja. Nggak usah pake ngejelek-jelekin gue dong. Kayak lo cakep aja. Dasar cowok bar-bar!"
Fero kicep. Mulutnya terkunci rapat mendengar semprotan Anjani. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung menyambar tangan Diyo. "Kabur, Bos!"
Mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan Anjani yang masih mendumal.
Suasana kantin siang itu sangat riuh, sampai tiba-tiba suara gubrakan meja membungkam keramaian.
BRAKK!!
"Lo ngapain di sini? Ini meja gue!" bentak Marco dengan nada tinggi, otot lengannya menegang.
Cewek yang duduk di sana—Bintang—menatap Marco tanpa rasa takut sedikit pun. "Ini meja umum. Gue nggak liat ada tulisan nama lo di sini."
"Ya emang harus gue ukir dulu nama gue biar lo ngerti?!" balas Marco emosi.
Di tengah ketegangan itu, Diyo melangkah maju. Dia menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Bintang, lalu berbisik dengan nada rendah yang mengintimidasi.
"Lo mau mati, ya? Belum puas gue kerjain sama temen-temen gue semalem? Hah?"
Bintang langsung berdiri, mendorong bahu Diyo kasar. "Lo mau ngapain?! Mau ngerjain gue lagi?! Hah?!! Lo pikir mentang-mentang ini sekolah punya Bokap lo, lo bisa ngerjain siapa aja seenak jidat? Gue paling nggak suka ya ada cowok sok jagoan kayak lo! Lo kira gue takut?!"
Teriakan Bintang menggema di kantin. Semua mata tertuju pada mereka.
Flashback: Bulan lalu
"Bos, yang duduk sama anak baru itu si Bintang," lapor Rannu pada Diyo.
Diyo mengangguk pelan. "Lo udah kerjain dia?"
"Belum, Bos. Kita belum gerak. Gue liat lo lagi banyak pikiran kemarin, jadi gue pikir mending nunggu lo normal dulu," jawab Rannu.
Diyo tersenyum miring. "Yaudah, panggil anak-anak. Kita kerjain Bintang di kafe depan. Satu orang jaga mobilnya."
Sorenya, di sebuah kafe tempat murid-murid biasa nongkrong, Fero naik ke atas panggung kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
