Part 8

95.6K 4.7K 28
                                        

Jam dinding di kamar Karin sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tifa masih asyik rebahan sambil ngemil keripik bersama dua sahabatnya, Karin dan Tika.

"Lo nggak balik, Tif?" tanya Tika sambil mencomot keripik. "Udah malem nih."

"Iya, ntar suami lo nyariin gimana? Lo kan pengantin baru," timpal Karin menggoda.

Tifa mendengus santai. "Nggak bakal nyariin. Dia tadi bilang bakal pulang telat. Lagian kuncinya ada di gue, jadi aman."

"Eh, btw besok lo tanding basket kan, Tif? Mending lo balik gih sekarang, istirahat biar fit," saran Tika.

Tifa menepuk jidatnya. "Ah iya, gue lupa! Sialan, ini gara-gara si Diyo bikin emosi mulu di sekolahnya tadi."

"Diyo tuh yang mana sih, Tif? Lo kok belum ngenalin ke kita?" tanya Tika penasaran.

"Emang lo tadi nggak nonton pertandingan di SMA 2?"

"Nggak, kan lo bilang lo baru main besok. Jadi kita janjian nontonnya besok," jawab Karin polos.

"Yaudah, besok lo liat aja sendiri Diyo yang mana. Gue jamin lo bakal kaget," ucap Tifa sambil bangkit dan merapikan bajunya. "Gue balik dulu ya, bebs."

Tifa mengecup pipi kedua sahabatnya bergantian sebelum meluncur pulang.

Tifa melangkah keluar dari lift apartemen sambil bersenandung kecil. Dia berbelok ke kanan menuju unitnya.

Langkahnya terhenti mendadak. Matanya membelalak kaget.

Di depan pintu unit 2005, sesosok cowok berdiri bersandar dengan gaya cool. Satu kakinya ditekuk menempel ke pintu, tangannya dimasukkan ke saku celana. Rambutnya yang agak gondrong jatuh menutupi sebagian wajahnya yang sedang melamun.

Tifa menelan ludah. 'Gila... Kalau diem gitu kenapa dia ganteng banget sih?'

Tifa berdeham pelan sambil mendekat. Cowok itu—Diyo—menoleh, lalu menurunkan kakinya.

"Dari mana lo?" tanya Diyo datar.

"Gue... gue dari rumah Karin," jawab Tifa gugup. "Lo ngapain nunggu di luar? Kan gue bawa kuncinya biar lo nggak nunggu."

"Lo bilang pulang lambat, bukan pulang malem," Diyo mengulurkan tangan. "Mana kuncinya?"

Tifa menyerahkan kunci itu. Diyo membuka pintu tanpa banyak bicara. Begitu masuk, Diyo melempar tasnya sembarangan ke sofa, lalu nyelonong masuk ke kamar mandi. Sementara Tifa langsung menuju kamar tidur untuk ganti baju.

Beberapa menit kemudian, Diyo keluar dengan rambut basah dan wajah lebih segar.

"Lo nggak mandi?" tanya Diyo melihat Tifa sudah santai dengan piamanya.

"Udah tadi di rumah Karin," jawab Tifa singkat.

"Oh." Diyo berjalan menuju kamar.

"Yo! Gue laper," rengek Tifa sambil menarik ujung kaos Diyo.

Diyo menoleh malas. "Masak lah."

"Lo aja yang masakkin... Please?" rayu Tifa dengan puppy eyes.

"Gantian lah, Nyonya. Tadi pagi kan gue udah masak nasi goreng," tolak Diyo mentah-mentah, lalu menutup pintu kamar.

Tifa cemberut. Dengan langkah dihentak-hentak, dia menuju dapur. Dibukanya lemari kabinet atas untuk mencari bahan makanan. Matanya tertuju pada tumpukan bungkus mie instan berwarna hitam dengan tulisan asing.

'Buset, mie apaan nih? Banyak banget,' batin Tifa sambil mengambil satu bungkus.

Dia membolak-balik kemasan itu. 'Tulisan cacing semua. Kayaknya mie Korea deh.'

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang