Suasana di kantin yang riuh mendadak terasa jauh saat Marco berbisik panik.
"Bos... Lo dipanggil ke ruang Kepsek sekarang," ucap Marco dengan wajah tegang.
Diyo yang sedang asyik main game langsung berhenti. "Hah? Kenapa lagi?"
"Gara-gara insiden lo sama Bintang di hotel kemaren," jawab Marco pelan.
Belum sempat Diyo merespons, suara toa pengumuman menggema di seluruh penjuru sekolah.
"Panggilan kepada siswa atas nama Dimas Diyo Willyan dan Bintang Anggita, harap segera menghadap ke ruang Kepala Sekolah. Sekarang juga."
Diyo menghela napas panjang, lalu melempar tasnya ke arah Marco.
"Titip tas gue," ucap Diyo singkat.
"Siap, Bos. Sukses ya," Marco melambaikan tangan dengan wajah prihatin saat Diyo berjalan santai menuju ruang eksekusi.
BRAKK!
Kepala Sekolah melempar map tebal ke atas meja dengan emosi. Pria paruh baya itu memijat pelipisnya, tampak frustrasi berat.
"Astaghfirullahaladzim..." desisnya.
Diyo duduk di kursi tamu dengan kepala tertunduk, diam seribu bahasa.
"Mana Bintang?" tanya Kepsek tajam.
"Saya nggak tahu, Pak," jawab Diyo pelan.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum," suara Bintang terdengar dari pintu. Gadis itu masuk dengan wajah pucat.
"Waalaikumsalam. Akhirnya kamu datang juga. Duduk!" perintah Kepsek.
Bintang duduk di sebelah Diyo. Keduanya menunduk seperti pesakitan.
"Kalian ini... sudah bosan hidup ya?" suara Kepsek bergetar menahan amarah. "Kalian sadar nggak apa yang kalian lakuin itu mencoreng nama baik sekolah? Dan parahnya, yang kalian libatkan itu anak seorang pejabat penting!"
Diyo dan Bintang tetap diam.
"Bapak sudah tidak bisa mentolerir lagi. Dengan berat hati, Bapak harus mengambil keputusan tegas. Kalian tidak bisa bersekolah di sini lagi."
Diyo dan Bintang sontak mengangkat kepala.
"Tapi, Pak!" seru mereka bersamaan.
"Saya tahu ayah kalian berdua orang terpandang. Donatur sekolah ini pula. Tapi saya harus mempertahankan integritas sekolah," potong Kepsek tegas. "Saya tidak akan menulis di rapot bahwa kalian dikeluarkan. Saya akan proses sebagai pindah sekolah atas permintaan orang tua."
"Pak, apa nggak bisa dipertimbangkan lagi?" Bintang memohon, matanya berkaca-kaca. "Saya janji nggak bakal ngulangin lagi."
"Keputusan saya sudah bulat. Silakan kalian keluar. Besok orang tua kalian bisa datang untuk mengurus surat pindah."
Diyo mengatupkan rahangnya. Dia tahu percuma mendebat.
"Untuk sekolah baru kamu, Diyo, Pak Fahri sudah mengurusnya. Dan kamu Bintang, segera hubungi pengacara ayahmu," tutup Kepsek.
Mereka berdua keluar ruangan dengan langkah gontai.
Di koridor sepi, Diyo menendang kaleng bekas minuman dengan kencang.
TRANG!
"Ah, setan!" umpat Diyo.
"Semua gara-gara lo!" bentak Bintang tiba-tiba, air matanya tumpah. "Kalau bukan gara-gara ide gila lo kemaren, gue nggak bakal kayak gini! Gue pengen punya masa SMA yang indah, tapi ancur semua gara-gara lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
