Cahaya matahari pagi menerobos celah gorden, membangunkan Tifa dari tidurnya yang nyenyak. Saat membuka mata, pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah damai Diyo yang masih terlelap. Lengan suaminya itu masih setia memeluk pinggangnya.
Tifa tersenyum. Dia membalikkan badan, menghadap sepenuhnya ke arah Diyo. Jemarinya terulur menyentuh pipi Diyo pelan, menelusuri rahang tegasnya.
'Ganteng banget sih kalau lagi tidur,' batin Tifa gemas.
Diyo menggeliat. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan sepasang bola mata cokelat yang masih sayu. Dia melihat Tifa sedang menatapnya sambil tersenyum manis.
"Udah bangun?" sapa Tifa lembut.
Diyo mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Tanpa kata, Diyo meraih tangan Tifa yang ada di wajahnya, mengecup telapak tangannya sekilas, lalu beralih mengecup kening istrinya dengan lembut dan lama.
"Pagi," bisik Diyo dengan suara serak khas bangun tidur.
Pipi Tifa merona merah. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Diyo karena malu. Diyo terkekeh pelan melihat tingkah istrinya, lalu bangkit dari kasur.
"Aku mandi dulu," ucap Diyo sambil mengacak rambut Tifa gemas, lalu berjalan gontai ke kamar mandi.
Berangkat Sekolah
Di depan lobi apartemen, Diyo sudah siap dengan sepedanya.
"Kamu berangkat sama siapa?" tanya Diyo sambil membenarkan letak tasnya.
"Sama Kak Jeno," jawab Tifa jujur.
Diyo mengangguk mengerti. Tidak ada nada cemburu kali ini, hanya senyum percaya diri. "Oke. Hati-hati ya."
Diyo mengayuh sepedanya pergi, meninggalkan Tifa yang menatap punggungnya sambil senyum-senyum sendiri.
Sesampainya di sekolah, Diyo menunggu di gerbang. Begitu mobil Jeno pergi dan Tifa masuk, Diyo langsung menghampirinya.
Tanpa basa-basi, Diyo menggenggam tangan Tifa erat di tengah lorong sekolah yang ramai.
"Apaan sih, Yo? Diliatin orang," bisik Tifa malu, tapi tidak menolak.
"Biarin aja. Biar orang tahu," jawab Diyo santai, mengeratkan genggamannya.
Mereka berjalan bersisian, menikmati perhatian orang-orang. Namun, momen romantis itu diganggu oleh trio perusuh.
"Waduh... Pasutri lagi akur nih," goda Marco yang muncul entah dari mana.
"Iya nih, dulu najis-najisan, sekarang nempel mulu kayak perangko," timpal Fero sambil cengengesan.
"Iya dong," Diyo mengangkat tautan tangannya dengan Tifa, pamer.
Tifa tertawa kecil. Dia menoleh ke Rannu yang sedari tadi diam saja. Wajahnya terlihat tegang.
"Lo kenapa diem aja, Ran? Kesambet?" tanya Tifa.
Rannu menghela napas berat. "Gue... besok nikah."
"HAH?!" seru Diyo, Tifa, Marco, dan Fero serempak.
"Sama siapa woy?!" tanya Tifa kaget. "Jangan bilang sama Bella atau Terre?"
"Bukan."
"Terus siapa?"
Rannu menunjuk ke arah belakang Tifa dengan dagunya. "Sama tuh cewek."
Semua menoleh. Di ujung lorong, Mercy sedang berjalan dengan anggun bersama teman-teman cheers-nya.
"MERCY?!" teriak mereka shock.
"Hooh," jawab Rannu lemas.
"Gila lo! Kok bisa dapet bidadari kayak dia?" tanya Fero tak percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married High School
Romance[PROSES REVISI] "Ya apa? Kasih aku 5 alasan yang masuk akal dan buat aku bertahan disini karna alasan kamu" ucap Diyo "Alasan pertama, aku cuma mau sama kamu, alasan kedua aku cuma mau tinggal sama kamu, alasan ketiga aku mau hidup sama kamu, alas...
