Part 13

95.2K 4.2K 57
                                        

Kantin SMA 5 siang itu penuh sesak, dipadati lautan siswa dari berbagai sekolah yang datang menonton turnamen basket.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Diyo duduk tenang di meja pojok favoritnya. Dia asyik sendiri dengan dunianya: earphone terpasang di telinga, jari-jarinya lincah menari di atas layar ponsel, membantai musuh di game.

Meski menyendiri, Diyo tetap menjadi pusat perhatian. Aura dingin dan wajah tampannya yang serius saat main game sukses membuat para siswi—baik dari SMA 5 maupun sekolah lain—mencuri pandang sambil bisik-bisik kagum.

Tentu saja, Diyo masa bodoh. Baginya, cewek-cewek itu tak lebih menarik daripada karakter game-nya.

"BOS!"

BRAKK!

Fero menggebrak meja dengan semangat 45, membuat ponsel Diyo nyaris terlempar.

"LO MAU MATI, HAH?!" bentak Diyo. Dia berdiri cepat, mencengkeram kerah seragam Fero. Mata elangnya menatap tajam, siap menerkam.

"Ampun, Bos! Ampun! Cuma becanda, sumpah!" Fero mengangkat kedua tangan menyerah, wajahnya memelas minta dikasihani. "Jangan bunuh gue di sini, Bos. Ntar kantin jadi angker."

Diyo mendengus kasar, lalu melepaskan cengkeramannya. Dia kembali duduk. "Untung mood gue lagi bagus. Kalau nggak, udah gue jadiin perkedel lo."

"Gue dapet info hot nih, Bos," sela Marco yang baru datang bareng Rannu.

"Info apaan? Diskon bakso?" tanya Diyo malas, matanya kembali ke layar ponsel.

"Bukan, Bos. Ini soal cewek," Marco menyodorkan ponselnya ke depan wajah Diyo. "Liat nih. Akun lambe sekolah baru upload. Kapten cheers dari SMA 1 dateng hari ini."

"Hah? Serius lo, Co? Nggak hoaks kan?" tanya Fero antusias.

"Ya enggak lah. Kapan gue pernah bohong soal cewek bening?" Marco menaikkan alis bangga. "Namanya Mercy. Hits banget, cantik, ramah, body goals, pokoknya idaman semua cowok. Katanya dia primadona yang paling ditunggu di setiap pertandingan."

"Mana liat fotonya!" Fero merampas ponsel Marco. Matanya langsung berbinar. "Subhanallah... Ini mah bidadari lupa jalan pulang. Cantik banget, gila!"

Diyo melepas earphone-nya, risih. "Berisik lo berdua. Kayak pasar tau nggak? Norak."

"Yaelah, Bos. Liat dulu napa. Siapa tahu nyantol," goda Marco. "Namanya Mercy. Lo tahu nggak?"

"Nggak. Gue mana pernah ngurusin orang," jawab Diyo cuek, lalu meraih gelas es tehnya.

Saat Diyo sedang minum, seorang gadis dengan seragam cheers ketat yang membalut tubuh indahnya berjalan melewati meja mereka. Rambutnya panjang bergelombang, wajahnya glowing sempurna. Itu Mercy, si primadona yang baru saja dibicarakan.

Mata Fero dan Marco otomatis mengikuti pergerakan gadis itu seperti magnet.

Diyo melirik sekilas. 'Oh, ini yang namanya Mercy?'

Iseng, saat Mercy melenggang tepat di samping bangkunya dengan dagu terangkat tinggi, Diyo menjulurkan kakinya ke lorong jalan.

BRUK!

Mercy tersandung dan jatuh tersungkur cukup keras. Minuman di tangannya tumpah mengotori lantai.

"Aduh!" pekik Mercy.

Bukannya menolong, Diyo malah berdiri sambil tertawa renyah. "Ups. Lo cantik-cantik jalannya nggak liat-liat ya? Mata lo di lutut?"

Fero dan Marco melongo kaget, lalu buru-buru menghampiri Mercy.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang