Part 15

95.5K 3.9K 66
                                        

"Gendong gue, Diyo..." rengek Tifa sambil menarik-narik lengan kemeja Diyo.

Diyo menatap Tifa tak percaya. "Lo sehat? Gue udah bawain semua barang lo kayak kuli panggul, sekarang lo minta gendong? Sadar badan dong, Neng."

"Gue nggak gendut ya!" protes Tifa. "Gue ini atlet basket, badan gue terjaga. Isinya otot semua, bukan lemak!"

"Iya, lo emang nggak gendut. Tapi tinggi lo itu lho, astaga. Emang ada cewek tingginya 170-an kayak lo? Tiang listrik aja minder," ledek Diyo.

"Bodo amat. Lagian tinggi lo kan 180, masih tinggian lo kali. Kuat lah gendong gue doang."

"Masalahnya lo itu tinggi, otomatis berat. Tulang lo aja udah berat," Diyo masih berusaha menolak.

"Kalau lo nggak mau gendong, gue telepon Mama lo sekarang. Gue bilang lo nyuekin gue dan biarin gue jalan pincang," ancam Tifa sambil mengeluarkan ponsel.

Diyo langsung panik. "Eh, jangan! Iya, iya! Bawel banget sih!"

Diyo berjongkok di depan Tifa. "Buruan naik. Sebelum gue berubah pikiran."

Tifa tersenyum puas. "Nah gitu dong."

Dia melompat naik ke punggung Diyo. Diyo sedikit terhuyung, tapi dengan sigap menahan kaki Tifa. Mereka berjalan menyusuri lorong sekolah. Pemandangan Diyo si "Raja Jalanan" menggendong cewek berseragam basket langsung jadi tontonan gratis.

"Lo risih nggak kita diliatin orang satu sekolah gini?" bisik Tifa di telinga Diyo.

"Nggak. Biasa aja. Gue mah orangnya cuek," jawab Diyo santai.

"Dasar muka tembok. Nggak punya malu."

"Enak aja. Gue punya malu, tapi kalau lagi kepepet doang. Haha."

Mereka sampai di persimpangan koridor.

"Kita mau makan di mana?" tanya Tifa sambil melemaskan badannya di punggung Diyo. "Cari tempat yang sepi dong."

"Kantin aja lah."

"Nggak mau! Pasti ada Tommy di sana. Gue eneg liat mukanya."

"Terus di mana?"

"Di gedung belakang sekolah lo aja. Kan jarang ada orang di sana."

"Astaga... Lo mau ngajak gue ke sana? Nanti jadi gosip aneh-aneh, Tif."

"Katanya lo cuek? Katanya malu kalau kepepet doang? Ini kan nggak kepepet," skakmat Tifa.

Diyo menghela napas pasrah. "Yaudah, Tuan Putri. Kita ke sana."

Di tengah perjalanan, Tifa yang bosan mulai usil lagi.

"Eh, Yo. Nyanyi dong."

"Nyanyi apaan? Gue nggak bisa nyanyi."

"Ya nyanyi apa gitu kek. Lo kan dari tadi dengerin lagu pas pertandingan."

"Gue nggak denger lagu."

"Terus denger apa? MP3 bokep?" tuduh Tifa asal.

Diyo hampir tersedak ludahnya sendiri. "Sembarangan! Yakali bokep ada MP3-nya, mana lucu. Gue itu dengerin instrumen."

"Instrumen itu lagu yang nggak ada liriknya kan?" tanya Tifa.

"Pengertian sebenernya bukan itu, tapi kalau lo taunya itu, yaudah iya."

"Santai dong, Yo. Masa lo nggak tahu lagu yang ada liriknya satu pun sih?" desak Tifa.

"Ada sih. Cuma gue tahu reff-nya doang."

"Yaudah nggak apa-apa, itu aja."

"Emang lo tahu lagunya?"

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang