Part 16

89K 4.5K 90
                                        

Mobil mewah yang menjemput mereka akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya klasik.

Pak Fahri, pria paruh baya dengan setelan jas rapi, menyambut Diyo di depan pintu utama.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda," sapa Pak Fahri ramah.

"Kamar saya mana, Pak Fahri?" tanya Diyo sambil meregangkan ototnya yang kaku.

"Kamar seperti biasanya, Tuan Muda. Sudah saya siapkan."

"Oh iya Pak, baju ganti saya?"

"Sudah ada di lemari kamar, lengkap."

"Oke. Tifa tidur di mana?" tanya Diyo.

"Itu..." Pak Fahri tersenyum penuh arti. "Perintah langsung dari Tuan Besar, kalau Tuan Muda Dimas menginap di sini bersama istri, hanya boleh disediakan satu kamar."

Diyo mengernyit. "Loh? Kenapa gitu?"

"Karena Tuan Muda sudah menikah. Tidak elok rasanya suami-istri pisah ranjang di rumah kakek sendiri, bukan?"

Diyo menghela napas pasrah. "Yaudah deh. Kalau gitu tolong minta orang angkat Tifa dari mobil. Dia ketiduran. Bawa langsung ke kamar saya."

"Baik, Tuan."

Diyo melangkah masuk, melewati foyer yang luas menuju ruang keluarga. Dia melempar tasnya sembarangan ke meja marmer, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit yang empuk. Rasanya seperti raja yang kembali ke istananya.

"Tuan Muda," seorang pelayan wanita mendekat dengan sopan. "Nona Tifa sudah dipindahkan ke kamar Tuan Muda."

"Hm," gumam Diyo, matanya fokus ke layar TV besar yang baru saja dinyalakannya.

"Tapi Tuan... tubuh Nona Tifa penuh keringat sehabis olahraga. Apa tidak sebaiknya dibangunkan untuk ganti baju dulu?" tanya pelayan itu ragu-ragu.

"Biarin aja. Ntar juga bangun sendiri kalau lengket," jawab Diyo cuek, lalu mengibaskan tangan memberi isyarat agar pelayan itu pergi.

Satu jam berlalu. Diyo asyik sendiri menonton acara komedi, tertawa terbahak-bahak tanpa beban.

Pukul 19.30 WIB.

Terdengar langkah kaki mendekat. Bukan langkah pelayan, melainkan langkah seseorang yang santai.

PRAK!

Sebuah buku tebal dilempar ke meja di depan Diyo.

"Lo ngapain di sini?" tanya cowok yang baru datang itu, lalu duduk di sofa sebelah Diyo tanpa permisi.

Diyo menoleh malas. "Ya lo ngapain ke sini?"

"Gue cuma pengen main aja. Gabut di rumah," jawab Zihad, sepupu Diyo yang seumuran dengannya. "Kakek nggak ada, kan?"

"Lagi di Jayapura."

"Baguslah. Eh, btw lo beneran udah nikah, Yo?" tanya Zihad penasaran.

"Peduli lo sama hidup gue apa?" Diyo bangkit duduk, nada suaranya ketus.

"Ya kan gue sepupu lo. Wajar dong gue kepo." Zihad celingukan. "Mana istri lo? Kenalin dong ke gue."

"Nggak. Gue nggak bakal ngenalin dia ke lo. Lo bahaya," tolak Diyo mentah-mentah. Dia berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan Zihad yang mendengus sebal.

Di Dalam Kamar Diyo

Diyo membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Dia melihat Tifa masih tertidur pulas di tengah ranjang king size, wajahnya terlihat damai meski rambutnya sedikit berantakan.

Married High School Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang