Chapter 5 - Save Me

2.8K 333 6
                                        

“Kau tau, ini memang tak masuk akal. Tapi saat terbangun aku tiba di jaman ini.” Baek Ah meneguk minumannya.

“Lalu dari jaman apa kau berasal naeuri?”

“Aku berasal dari Goryeo.”

“Ye? Goryeo? Kenapa terbalik dengan yang kualami.”

“Terbalik? Maksudmu?”

“Aku pun juga kaget tiba-tiba terbangun di masa ini. Sedangkan di masaku kasta tak berlaku lagi.”

“Mwo?”

Mereka terlalu sibuk membicarakan pengalaman yang mereka dapati satu sama lain, hingga malam telah begitu larut dan memaksa Jennie pergi sebelum Dayang Oh benar-benar akan mencarinya. Berkat pertemuan dan cerita yang tak sengaja keluar dari mulut masing-masing, keduanya jadi semakin dekat. Mereka berteman satu sama lain.

Seperti malam-malam sebelumnya, Jennie sengaja mempersiapkan jangotnya untuk keluar. Tempat yang dituju tak lain lagi adalah gibang yang pernah ia kunjungi untuk menemui Baek Ah. Satu-satunya teman yang bisa ia ajak bercerita hanyalah Baek Ah yang sama-sama sampai ke Joseon secara mendadak. Namun satu hal yang lebih menarik, Baek Ah memiliki rupa dan perilaku yang sama dengan Doyoung teman sekelasnya hingga membuatnya merasa tak sendiri lagi di Joseon.

Malam itu kebetulan rumah gisaeng sedang kedatangan seorang bangsawan lain yang sedang melakukan perjalanan. Jennie bersama rekannya memilih duduk di lantai dua, tepatnya di semacam balkon yang dekat dengan pintu masuk ruang yang berada di lantai dua. Mustahil jika Jennie tak merindukan keluarga aslinya, ia teringat akan ayah dan adiknya.

"Naeuri, jika kau dilahirkan untuk menjadi seorang pangeran... apa kau juga akan menikahi banyak wanita? Jika istrimu sakit, apa kau juga akan menikah lagi?" Jennie kembali melihat sinar bulan dan bintang yang bertebaran di langit.

"Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya Yeonhui-ya? Sepertinya dari yang telah terjadi sejak dinasti goryeo, semua pangeran akan melakukannya."

"Kenapa semua laki-laki melakukannya? Bahkan aku harus menerima adik yang terlahir dari rahim yang berbeda denganku."

Seorang budak datang menemui Baek Ah, sepertinya orang itu memberitahukan sesuatu.

"Yeonhui agassi, aku harus pergi ke suatu tempat. Biar kuantarkan kau pulang.”

Merasa tak ingin temannya ini mengetahui kediaman dan identitasnya, Jennie enggan untuk diantar pulang dan menolaknya dengan halus. Ia tau, urusan yang harus Baek Ah tangani pastilah sangat penting hingga orang suruhan pria itu menjemputnya. Jennie memilih untuk tetap tinggal disana untuk beberapa saat hingga Baek Ah benar-benar telah menjauh dari area rumah itu.

Tak disangka-sangka, seorang pengkhianat yang sedang menjadi buruan para kepolisian disinyalir tengah menikmati malam di rumah gisaeng yang sama. Petugas kepolisian dengan seragam berwarna merah dan hitam berbondong-bondong memasuki gibang itu untuk melakukan penyelidikan. Mendengar keributan yang ada disana, Jennie kelagapan. Ia tak tau harus bersembunyi di mana hingga membuatnya memasuki salah satu kamar terdekat. Suara langkah kaki makin dekat sementara Jennie masih berdiri gemetar dibalik pintu.

Seseorang menyapanya “Hei, kenapa kau menyelinap masuk ke ruanganku?”

Jennie berbalik dan menemukan seorang bangsawan yang sangat dikenalinya “Sa.. sal.. sallyeo juseyo…”

Langkah kaki para petugas kepolisian itu semakin dekat, sepertinya mereka tengah menaiki tangga untuk sampai di lantai dua. Seiring dengan mendekatnya langkah kaki para prajurit, pria itu juga berjalan mendekat “Apa yang kau lakukan disini Putri Mahkota?”

“Sallyeo juseyo~ Jeoha… jaebal.” Tak ada yang bisa Jennie katakana seiring dengan mendesaknya waktu.

Menyadari kehadiran isterinya disana, Putra Mahkota segera melepas ikat rambut yang melekat di rambut Putri Mahkota hingga tergerai. Melemparkan jangot yang isterinya kenakan dan membopongnya menuju tempat tidur di ruangan itu. Merebahkan isterinya yang hanya terdiam karena ulahnya sendiri. Lee San melepaskan ikatan yang mengunci baju dalam putih yang dikenakannya. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Putri Mahkota Yeonhui, seketika seorang dari biro kepolisian membuka pintu ruangan.

“Eish.. meoji? Aku tak berniat membawa penonton kesini.” Lee San berdiri menanggapi kehadiran seorang polisi itu.

“Aku membawa surat untuk mencari penjahat yang berkeliaran, maaf telah mengganggumu.”

Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya di ruangan itu, polisi tersebut segera keluar dan menarik seluruh pasukannya untuk mencari di area lainnya.

“Putri… kau tau masalah seperti apa yang bisa kau timbulkan jika sampai keberadaanmu disini diketahui banyak orang?”

“Maafkan aku Yang Mulia, aku akan segera kembali ke pondok jeramiku. Aku tak akan menyusahkanmu lagi di masa mendatang.” Tanpa berniat memberi penjelasan Putri Mahkota yang sedang diasingkan itu memberi hormat pada Putra Mahkota dan segera berdiri meninggalkan ruangan.

“Yeonhui-ya, Raja dan Ibu Suri telah menetapkan tanggal pernikahanku dengan calon selir Won. Apa aku harus membatalkannya?”

“Hamba tak berhak mempengaruhi keputusan Yang Mulia, apalagi harus melarang Yang Mulia melakukannya. Hamba mohon pamit, Yang Mulia.”

Baru selangkah Jennie hendak meninggalkan ruangan, tangan Putra Mahkota berhasil menarik tangannya dan memberikan binyeo yang dulu pernah digunakan Jennie untuk menodong Lee San. Putra Mahkota meminta Putri Mahkota Yeonhui untuk segera melakukan hal yang sama seperti yang dulu pernah dilakukannya. Jennie menolak untuk melakukannya kembali.

Putra Mahkota tak kuasa menahan diri untuk memeluk isterinya “Yeonhui-ya, kenapa kau begitu membenciku setelah kehilangan ingatanmu?”

Jennie menangis tak mampu memberi penjelasan sepatah katapun untuk pertanyaan yang Putra Mahkota ajukan.

+TBC+

MOON LOVERSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang