Peraturan pada zaman itu, jika raja telah bertitah maka tak ada yang bisa dilakukan. Bagi mereka yang menentang, maka akan mendapat hukuman. Putra Mahkota tak bisa meredakan amarah raja dan ibu suri, ia hanya bisa melihat kepergian istrinya begitu raja bertitah untuk mengasingkan putri mahkota.
"Putri!!" Lee San, sang Putra Mahkota memasuki kamar Putri Mahkota yang telah kosong.
Tangisnya pecah, meratapi kepergian istrinya tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan sekalipun. Ia bahkan tak mengerti apa yang menyebabkan istrinya berubah menjauhinya.
"Mama~ anda telah sampai." seorang dayang membukakan pintu tandu yang membawa seorang yang mereka panggil Yang Mulia.
"Ah geundae dari kemarin kalian terus-terusan memanggilku Yang Mulia sampai aku sendiri tak tau siapa namaku? Tolong bantu aku mengingat semuanya." sahut Putri Mahkota begitu memasuki kediaman barunya.
"Ah ye mama~ Nama anda adalah Kim Yeonhui, mungkin besok kedua orang tua anda akan mengunjungi anda."
"Ah baiklah, aku ingin beristirahat sebentar."
"Ye~ Mama~"
Jennie POV
Aha!! Aku benar-benar sedang berada di Joseon maka aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menjelajahi Joseon. Aku ingin mengunjungi pasar tradisional, perpustakaan dan satu tempat yang paling ingin ku kunjungi adalah tempat para gisaeng berada. Whoah daebak!! Sepertinya aku benar-benar harus melihat-lihat para pejabat yang makan dan minum soju di jaman kuno ini.
Checklist pertama adalah pasar tradisional. Ah baiklah sepertinya aku harus berpamitan dengan dayang Oh terlebih dahulu.
"Dayang Oh... aku ingin mengunjungi pasar dan membeli beberapa makanan, tolong ijinkan aku pergi sendiri tanpa satupun pengawal." pintaku begitu menemuinya sedang mencuci beberapa sayuran.
"Mama~ itu sangat berbahaya! Bagaimana jika ada penjahat yang mengenali anda?" ternyata tak semudah itu meminta persetujun dari dayang Oh.
"Tenang saja aku bisa berteriak hingga semua orang akan menolongku. Aku pergi dayang Oh!"
Tanpa menunggu persetujuannya terlebih dahulu, aku langsung mengenakan alas kaki yang mirip flat shoes dan berjalan menuju keramain yang berada tak jauh dari kediaman baruku. Ternyata memang benar, pasar disini sangat ramai. Banyak ibu-ibu berjualan disana. Seorang anak kecil dengan pakaian sangat sederhana berlarian di depanku. Aku memberikan beberapa logam yang digunakan sebagai alat tukar disini dan mereka berterimakasih.
Seperti yang banyak kulihat dalam drama televisi, banyak pedagang berjualan tusuk rambut, jepit rambut dan aksesoris pakaian trasisional lainnya. Pandanganku tertuju pada penjual jepit rambut dengan motif bunga diatasnya.
"Eo~ Jeogiyeo, berapa aku harus membayar untuk jepit rambut ini?"
"Tolong tunjukkan jepit rambut mana yang anda maksud agassi!"
"Eung~ Yang ini!!" aku menunjuk jepit rambut tepat saat tangan pria di sebelahku juga ingin mengambilnya.
"Ya!! Aku sudah menunjuknya duluan!!" sepertinya memang tak ada yang ingin mengalah diantara kami.
Aku tak sengaja membuka jangot yang kukenakan untuk menutupi wajahku dan memperhatikan pria ini. Mencoba mengingat-ingat sesuatu dan kini telah kutemukan jawabannya. Tak salah lagi, pria ini memang memiliki kemiripan dengan Doyoung temanku.
"Agassi!"
Seketika tersadar dari lamunanku ketika namja ini mengecek kesadaranku dengan melambaikan tangannya di depan wajahku "Ah nde!" ucapku kaget.
"Oh... tuan kau seharusnya mengalah pada seorang wanita!" marahku mencoba mempertahankan apa yang kuinginkan.
"Ya!! Aku yang melihatnya duluan! Sebaiknya kau memilih jepit rambut lainnya nona!"
Percekcokan mulut itu tak kunjung berakhir hingga aku menyerah dan memilih untuk pergi begitu saja "Eish jinjja baru kali ini aku berebut barang belanjaan dengan seorang pria." aku mendengus dengan menyembunyikan wajahku dibalik jangot yang kukenakan.
"Agassi!" seorang menarik tanganku hingga jangot yang kukenakan terlepas.
"Mwoya! Apa yang kau lakukan tuan? Tutup kepalaku terjatuh!"
"Ehem.. Mianhae~ aku akan mengalah dan membelikan jepit rambut itu padamu. Ini!" pria itu menyerahkan jepit rambut yang kupilih tadi dalam genggamanku.
"Eo~ gamsahamnida!!" aku membungkuk dan berpamitan pergi.
"Agassi!!! Siapa namamu?" orang itu berteriak namun aku tak menggubrisnya melihat fakta dayang Oh telah menemukanku.
Dayang Oh memberitauku untuk segera pulang karena kedua orang tua Kim Yeonhui ini telah tiba. Aku menyapa mereka dan mereka memahami keadaanku yang tak mengingat mereka. Bukannya aku tak mengingat mereka, memang benar aku tak pernah mengenali mereka. Baru kali ini aku menemui mereka dan mereka membawa berita dari kerajaan bahwa Raja telah mengumumkan pernikahan Putra Mahkota. Aku benar-benar tak menggubrisnya karena memang merasa tak punya hubungan dengan pria itu. Kenapa juga aku harus mengkhawatirkannya.
+TBC+
KAMU SEDANG MEMBACA
MOON LOVERS
Historical Fiction>> Season 1 Seorang gadis terbangun di masa Joseon dengan tubuh gemetar setelah mengetahui takdir pasangannya yang telah tercatat dalam sejarah. Dalam perjalanan untuk mengubah takdirnya, ia bertemu dengan seorang pemuda Goryeo yang terdampar di te...
