Empat tahun telah berlalu, di tempat yang sama sepasang suami istri dengan seorang anak perempuan mereka yang berumur dua tahun terduduk di kursi ruang tunggu bandara. Setelah menunggu cukup lama terdengar suara pengumuman pesawat kedatangan dari New Zealand telah mendarat di bandara Incheon.
Pasangan suami istri itu tersenyum seraya berkata pada anak mereka “Hasol-ah Jennie imo sudah datang.”
“Jennie imo?” Anak itu terlihat sedang mengingat-ingat sesuatu.
Seorang wanita yang terlihat masih muda mengenakan jaket bulu dan kacamata hitam. Sementara di sebelahnya berjalan seorang anak kecil berumur tiga tahun juga tengah mengenakan kacamata hitam. Begitu melihat satu orang pria membawa papan bertuliskan namanya, ia segera mengajak anak kecil itu berjalan menuju orang yang diyakini tengah menjemputnya.
“Eo oppa! Eonnineun?” Melihat pria itu datang sendirian, ia mencari-cari sosok wanita yang ia rindukan.
“Kajja, mereka menunggu di kursi tunggu.”
Begitu melihat sosok yang telah lama ia rindukan, Jennie memeluknya sangat erat “Eonni~”
“Mwoya? Kenapa pakai kacamata hitam segala? Hahaha”
“Aku pergi dari sini dengan sangat mengerikan jadi aku harus kembali dengan bahagia eonni.” Jennie melepas kacamata miliknya.
“Tak ada yang membuatku lebih bahagia dari janji yang kau tepati Jennie-ya! Aigo, Aila-ya? maja?” Seulgi berjongkok mengelus pipi anak kecil yang masih terdiam di sisi Jennie.
“Aa matta, aku tidak mengajarinya bahasa Korea. Ella, this is Seulgi aunty and uncle Taeil. Shake your hands.” Jennie meminta anak perempuannya untuk berjabat tangan dengan paman dan bibinya.
“Aigo, pintarnya. Ella, this is Hasol your nephew. Shake your hands.”
“Hasol-ah ini Ella eonni, sepupumu.”
Mereka meneruskan pembicaraan dari bandara. Bahkan sejak sampai di kedai lama yang masih pasangan suami istri itu kelola Seulgi tak juga berhenti bertanya. Semuanya tak ada yang terlewat satupun dari daftar pertanyaannya.
“Aku kembali ke sini karena memang mendapat pekerjaan di Seoul eonni, jika tidak aku akan tetap berada di sana.”
“Lihatlah Ella dan Hasol bisa bermain bersama walaupun mereka sama-sama tidak mengerti apa yang mereka katakan.”
“Aku ingin libur sebentar saja, tapi sepertinya hari ini juga harus segera mengurus sewa rumah. Melelahkan sekali menjadi orang dewasa.”
“Ya! Lihatlah, anakmu sudah lebih tua daripada anakku. Bukankah seharusnya kau yang lebih dewasa?”
“Eiyy, tapi kan tetap saja eonni yang lebih tua yang akan lebih dewasa hahaha. Eonni, aku titip Ella sebentar. Hari ini sudah membuat janji dengan pemilik rumah.”
“Hei, kau itu baru saja sampai. Haruskah sekarang juga menemui pemilik rumah?”
“Tentu saja, Ella harus segera melihat rumah barunya. Aku pergi.”
“Eiy anak itu, tetap saja tidak berubah.” Seulgi mendengus.
***
Sebulan berlalu, kini hari yang dinantikan Jennie tiba. Hari liburnya setelah sekian lama bekerja. Sejak ia pindah ke Seoul memang kegiatannya hanya bekerja. Kantor cabang tempatnya bekerja baru di buka sehingga banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia selalu mengantar Ella ke tempat bibinya di pagi hari dan akan menjemputnya sepulang kerja. Begitu seterusnya, akhir pekan pun ia hanya diperbolehkan libur di hari Minggu. Akibatnya, setiap akhir pekan akan ia habiskan untuk tidur dan membersihkan rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
MOON LOVERS
Historical Fiction>> Season 1 Seorang gadis terbangun di masa Joseon dengan tubuh gemetar setelah mengetahui takdir pasangannya yang telah tercatat dalam sejarah. Dalam perjalanan untuk mengubah takdirnya, ia bertemu dengan seorang pemuda Goryeo yang terdampar di te...
