"Hirai Momo!"
Momo menengok. "Dahyun. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja. Kau sendiri?"
"Sama." Momo kembali memilih minuman kaleng yang ada di minimarket itu.
"Astaga, rambutmu." Momo tertawa kecil.
"Bagus tidak? Atau ini terlalu mencolok?" tanya Momo. Dahyun menggeleng.
"Tidak, warna rambut itu cocok untukmu. Omong-omong, coba tebak sesuatu."
Momo terdiam dan berpikir sebentar.
"Kau jadi pergi ke studio itu lalu memberikan rekamanmu?" tanya Momo.
Dahyun menggeleng. "Coba lagi."
"Penulis favoritmu merilis buku baru?"
"Aish kau ini. Aku.. sudah berpacaran dengan kak Minhyuk!" kata Dahyun dengan nada suara yang bahagia.
"Benarkah? Astaga, baru saja kutinggal empat hari. Sepertinya sudah banyak kejadian yang tak terduga disini." Dahyun mengangguk.
"Aku juga tidak mengira bahwa kak Minhyuk memintaku untuk menjadi pacarnya." ucapnya.
Momo tertawa kecil.
"Dahyunie."
Momo melihat ada seorang pria berambut coklat gelap di belakang Dahyun.
"Minhyuk sunbae!" seru Momo. Minhyuk tersenyum melihat Momo. Ia pun menghampirinya.
"Lama tidak bertemu, Momo." ucap Minhyuk.
"Iya. Omong-omong, selamat."
"Terima kasih. Ah iya, sedang apa kau disini?"
"Hanya belanja makanan kecil untuk dirumah. Dan, beberapa bahan makanan untuk makan malam. Kau sendiri sedang apa?"
"Aku hanya mengantar Dahyun. Dia ingin membeli susu dan es krim." Minhyuk merangkul Dahyun.
"Benar! Dan Minhyuk sunbae yang akan membayarnya." kata Dahyun.
"Iya iya. Momo, kami duluan ya." Momo mengangguk. Minhyuk dan Dahyun pun pergi ke kasir.
Aku senang melihat semuanya sudah berubah. Berubah menjadi suasana yang lebih indah. Setidaknya dengan begini, tidak ada lagi yang akan menyakiti atau tersakiti..
---
"Aku pulang." Momo melepas alas kakinya begitu melangkah ke dalam rumah. Ia melihat suasana rumah yang sepi.
"Yah, dia memang menyebalkan. Tapi itu yang membuatku merindukannya. Joshua... Yang benar saja." Momo ke dapur dan meletakkan bahan makanan nya ke dalam lemari es.
Kemudian ia duduk di sofa ruang tengah. Melepas kaus kakinya. Rintihan kecil keluar dari mulut Momo begitu ia menyentuh luka di kakinya itu. Ia memasangkan plester yang baru dibelinya tadi pada luka di kakinya.
"Aku merasa lebih baik sekarang."
Tok tok tok
Momo beranjak dari sofa dan mencoba berjalan perlahan ke arah pintu.
"Tunggu sebentar!" Momo membuka pintu dan melihat tiga orang lelaki yang berdiri di hadapannya.
Changkyun, Wonho, dan Kihyun.
"Selamat sore, Momo."
Momo terdiam.
Kapan terakhir kali mereka menginjakkan kaki di rumahku? Ah ya, hanya Changkyun yang pernah kemari.
"A-ada apa?" tanya Momo.
"Kami hanya ingin berkunjung dan bermain. Kebetulan Changkyun tetangga mu. Benar?" kata Kihyun.
Wonho mendekati Momo dan merangkulnya.
"Boleh kan aku bermain bersamamu di rumah ini?" ucapan Wonho sukses membuat wajah Momo memerah layaknya kepiting rebus.
"Hyung. Jangan lakukan itu padanya. Dia itu masih menyukaimu." ucap Changkyun.
"Hey, Changkyun! Tidak mungkin! Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi padanya."
"Benarkah?" tanya Wonho sambil mengangkat dagu Momo.
"Hentikan itu."
Wonho tertawa.
"Hahaha, aku suka ekspresimu. Hahahaha."
"Aish. Ayo masuk."
Momo mempersilakan ketiganya untuk masuk.
---
Momo menyimpan tiga gelas minuman dingin di meja ruang tengah.
"Momo, sejak kapan kau punya playstation ini?" tanya Changkyun.
Momo menghela napas.
"Itu bukan milikku. Sebenarnya itu milik Joshua. Dulu dia tinggal disini. agar tidak bosan, ibunya membelikan Playstation . Tapi yah sekarang Joshua sudah kembali ke California. Dia memberikan ini padaku. Aku jarang memainkannya. Aku tidak mengerti."
Momo merebahkan dirinya ke sofa.
Changkyun dan Wonho masih memainkan playstation itu. Sementara Kihyun sedang duduk santai di sebelah Momo.
"Kihyun, apa kau masih.. memikirkan Tzuyu?" tanya Momo.
Kihyun terdiam sebentar lalu menggeleng pelan. "Tidak mungkin selamanya aku harus memikirkan dia. Lagipula, aku sudah putus dengannya." jawab Kihyun.
Momo mengangguk mengerti.
"Awas hyung! Kecoa!"
"Apa?! Dimana?!" teriak Momo.
"Astaga!"
BRUK
.
.
.
TBC
Maapkeun author story yg ini update nya lama. Vomen? juseyo
KAMU SEDANG MEMBACA
This Heart (MONSTWICE)
Fanfiction[END] Hati yang terlihat kuat, namun nyatanya paling rapuh. Memperjuangkan seseorang yang bahkan tidak tahu hatinya untuk siapa. Yang pasti ia tidak pernah yakin bahwa orang yang diperjuangkannya akan memberinya kesempatan sekedar untuk hinggap di h...
