Kau Dalam Kamera

7.8K 339 5
                                        


Sejujurnya, aku ingin menulis novel ini dengan rapi agar kamu nanti enak membacanya. Tapi nyatanya di kepalaku, walau sosokmu tersimpan rapi, segala kenangan tentangmu malah tersimpan acak. Ada kalanya aku ingat dengan saat di kelas, atau ingat waktu melihatmu melalui kaca jendela, di jalan atau saat kulihat dirimu saat ada acara reuni akbar di sekolah kita.

***


Waktu itu, reuni akbar diadakan di sekolah kita. Aku masih kelas dua SMA. Bersama Dani dan Nita, aku menjadi panitia bagian pubdekdok. Aku bagian dokumentasi. DSLR di tangan kiri, menggantung di leher. Suasana sekolah saat itu ramainya juara. Ada banyak booth, ada alumni-alumni yang sudah sukses. Beberapa kukenali, termasuk ada alumni yang jadi penulis dengan bukunya yang best seller dan kisahnya yang mengagumkan. Kadang, aku iri dengan hidup orang, dengan hidup kakak kelas yang sukses di karir maupun cintanya. Ah, aku bagaimana? Belum finish.

Orang-orang sibuk di acara. Kamu waktu itu bagian humas. Berbeda denganku. Ada inginan tersendiri untuk memanfaatkan keadaan seperti ini. Ingin rasanya datang menemuimu, kemudian berbincang atau berfoto bersama untuk kemudian fotonya kusimpan bahkan dicetak besar untuk ditempel di dinding kamar. Namun apa daya? Nyatanya, kali ini aku ada jauh darimu yang sedang sibuk di sana.

Maka, bagaimana caraku agar bisa dekat denganmu? Ah, aku hanya bisa mengganti lensa kamera dengan lensa jarak jauh. Maka akan kuintip dirimu melalu celah lensa itu, zoom in. Sudah, kita seolah dekat. Dan... cekrek! Sosokmu sudah kutangkap dalam kamera. Maka akan kuambil gambar sebisa dan semaksimal mungkin. Kemudian aku berhenti memotretmu, saat Fahmi datang menghampiri, menyapamu. Aku melihat senyummu dalam lensa yang membuatku menurunkan kamera dari genggaman.

"Ram, fotoin kita euy!" Dani memanggil di belakang. Dia sedang bersama kakak kelas yang sudah menjadi penulis sukses itu. Aku mendekati dan mengambil fotonya beberapa. Teman yang lain memanggilku untuk meminta agar difoto. Aku mendekati mereka, semnetara tatapanku melihatmu sejenak di sana yang sedang ngobrol dengan pacarmu. Tatapan kita bertemu sebentar yang kemudian aku memalingkan pandangan.

Ah!

***

Ada pesimis dalam hati saat itu, namun juga ada pikiran positif dalam pikiran ini: setidaknya aku mendapatkan fotomu yang sedang bagus. Ijinkan aku untuk menyimpannya, setidaknya untuk membuatku merasa lebih dekat denganmu.

Boleh?
Terima kasih. :)

Aku Bukan DilanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang