Salah Satu Alasan

4.7K 187 4
                                        

Mencintaimu itu tak mudah. Banyak cobaan yang datang tiba-tiba. Ada rasa putus asa, ada jarak, ada aku yang tak kunjung berani, ada gereget dalam hati atau ada lelaki lain yang lebih dekat denganmu. Banyak hal yang membuatku patah arang, namun kabar baiknya, dari puluhan alasan untuk berhenti selalu ada ribuan alasan untuk tetap berjuang.

Sejujurmya, saat ini aku sedang bingung, bagaimana aku harus menulis di bagian ini. Ada rindu dan hal yang ingin kuceritakan namun entah kenapa saat ini aku lebih ingin kamu. Ingin saja rasanya melihat sosokmu lebih dekat, melihatmu yang tampil nyata. Melihatmu seperti halnya dulu ketika kita duduk di kelas dua SMP.

***

Sekolahku menyatu antara SMP dan SMA. Jadi bila sudah lulus SMP, bisa memilih mau melanjut di sana atau melanjutkan di luar. Dan tentu saja, aku memilih melanjutkan di sini, karena aku tak begitu yakin ada tempat yang baik untuk mendapatkan sahabat sebagaimana di sini, atau tempat yang bisa lebih dekat melihatmu tersenyum.

Saat itu sedang ada pekan olahraga dan seni, sebagai hari pengisi long weekend saat itu. Yang aku ingat, sekolah kita saat itu dihias dengan berbanyak hal, dipenuhi poster perlombaan. Semua orang berlomba sesuai dengan bidang keahlian, sesuai dengan passionnya. Aku dulu belum bisa apa-apa, selain hanya bisa menjadi penonton saja. Menyemangati kawan yang berlomba, dalam bidang akademik maupun olahraga.

Dari sekian banyak lomba, aku tertarik dengan lomba fashion show yang diadakan di aula. Keadaan aula cukup asyik dengan adanya panggung yang terbuat dari bangku, pinggir-pinggir dihiasi dengan kain yang panitia bawa, ada juga kerudung segi empat yang ditempel di sana menghiasi. Tak lupa backdrop di belakang panggung yang cukup besar terbuat dari kertas samson dengan dicat oleh cat asturo. Aku tahu itu, karena melihat proses pembuatannya. Dulu mah, bikin yang begitu harus manual, namun asyiknya tiada kira, bisa ramai-ramai menggambar di sana sampai sore. Sekarang, sudah mudah, tinggal buat desainnya dalam laptop dan diprint ke percetakan dengan harga yang lebih murah.

Aku duduk di tengah aula dengan lesehan, panggungnya tak begitu tinggi. Tetehku menjadi salah satu panitia acara itu dan dia sudah SMA kelas dua. Ketika acara dimulai, semua bersorak. Apa lagi ketika gemuruh musik dengan dentuman yang asyik ditambah dua MC yang kocak memeriahkan suasana saat itu.

Pokoknya, aku takjub dengan acara sederhana dengan event organizer dari para siswa sekolahku. Ditambah dengan ketakjubanku melihat para peserta yang cukup serius dengan acara itu. Apa lagi dari siswi. Ada yang membuat desain baju dari karton, ada yang terbuat dari koran namun terlihat bagus—yang kemudian beberapa tahun kemudian aku tahu yang membuat desain koran ini adalah Nita. Kemudian ada juga yang membuat desain yang bagus dan serius. Berbeda sekali dengan siswa yang mengikuti acara ini. Semua dengan pakaian asal, bahkan ada kakak kelas memakai selempang dari sarung, peci dimiringkan dengan kotak amal digenggaman, membuat acara saat itu pecah. Aku terbahak-bahak melihatnya.

Namun, dari sekian banyak peserta yang mengikuti acara itu, aku paling ingat saat kamu menjadi salah satunya. Kamu berjalan melenggok di atas catwalk dengan malu-malu. Sejenak aula sepi kemudian ada siswa yang menggoda—dan aku merasa tak suka dengan yang menggoda itu, namun aku tak berdaya. Aku menikmati bagaimana kamu berjalan, kemudian aku tersenyum menyungging dan melengkung. Ketika semua tepuk tangan, akulah yang bertepuk paling keras. Kamu tak juara saat itu, namun sejak itu kamu jadi juara di hatiku.

Maka ketika selesai acara, hadiah sudah dibagikan, dan aku merasa puas dengan melihatmu seharian di atas panggung. Aku pulang ke rumah dengan kepala yang senang buka kepadalang. Aku pulang bersama teteh menaiki motor.

"Teh, tadi fashion show ada dokumentasinya?" aku nanya ke teteh yang kubonceng, tetehku kebetulan waktu itu jadi bagian dokumentasi.

"Hah?" teteh nanya, suaraku tak terdengarnya. Kemudian aku mengulang pertanyaan di atas.

"Oh ada, mau ngecopy?"

"Iya teh..."

"Ada kecengan yaaa?" teteh menggoda. Aku hanya nyengir.

Ketika sampai rumah, sore itu, aku langsung mandi. Suasana sudah Magrib saat itu. Aku bergegas shalat setelah merasa bersih, segar dan wangi kemudian berkumpul bersama dengan teteh dan Ibu. Bila kamu ingin tahu bapak di mana, sesungguhnya saat itu bapak sedang tak ada di rumah, beliau bekerja di negeri tetangga sebagai nahkoda. Jadi, saat aku kelas dua SMP, bapak hanya pulang setahun sekali dan sekarang menjadi lebih mending, beliau sudah bisa pulang dua bahkan satu bulan sekali.

Laptop teteh sedang dibuka, memori card sedang disambungkan dengan laptop. Aku duduk di sebelahnya, ibu juga dengan teteh duduk di tengah.

"Coba lihat teh.." aku menggeser teteh.

"Sok, kalau mau liat mah, teteh mau ambil minum..." teteh mempersilakan aku mengoprasikan laptopnya. Tinggal aku dan ibu.

Aku membuka file fashion show tadi dengan antusias. Kubuka fotonya satu persatu. Kubuka, kemudian sampailah pada foto saat kamu sedang bergaya. Senyumku tertahan melihatnya. Kemudian kulihat foto yang lainnya. Ibu melihat ke layar laptop.

"Bu, saur Ibu, nu ieu geulis teu?" aku memberanikan diri untuk bertanya pada ibu, artinya: ibu, kata ibu, yang ini cantik nggak?. Ibu melihat fotomu di sana.

"Ah, henteu, hideung itu mah.." itu artinya "Ah enggak, hitam begitu..." ibu menjawab dengan jawaban yang tak aku inginkan. Saat itu ingin rasanya aku protes namun aku urungkan. Kecewa, namun bagaimana lagi.

***

Tapi, itulah saat aku kelas dua SMP. Seolah dejavu, ketika aku di akhir tahun sekolah di SMA aku mendapati fotomu di facebook, yang kemudian aku unduh. Koneksi internet sudah lebih baik. Saat itu, aku sedang bersama ibu, entah kenapa, aku ingin menanyakan lagi tentangmu, berharap kali ini ibu menjawab dengan jawaban yang kuharapkan.

Itu adalah malam dan sedang santai. Laptop di hadapan dan ada fotomu di sana. Dan aku bertanya dengan pertanyaan yang sama.

"Bu, saur ibu, ieu geulis teu?" aku bertanya sambil tersenyum memperlihatkan behel menderet rapi di gigi.

"Wah, geulis ieu mah, urang mana?" itu adalah ibu yang menjawab dengan jawaban yang kuharapkan, ia setuju bahwa kamu itu cantik.

"Tah ieu teh nu basa harita saur ibu hideung..." aku menjelaskan, bahwa itu adalah fotomu yang dulu dianggapnya hitam.

"Oh ya?haha" kami ketawa.

***

Sekarang, saat aku sedang di penghujung akhir kuliah, aku sudah sadar mengapa ibu menjawab dengan jawaban yang berbeda. Pertama, memang kamu sekarang makin cantik. Kedua, karena ibu sayang pada anaknya, dan agar dulu, saat SMP aku tidak pacaran.

Saat malam itu, saat ibu bilang kamu cantik, bagiku itu bukan hanya sekadar jawaban bahwa kamu memang cantik. Lebih dari itu, aku tahu bahwa ibu menyukaimu. Aku tahu itu, karena aku anaknya. Itu seolah menjadi penyemangat, menjadi pertanda bahwa aku ingin kamu dan ibu setuju. Dan, bila hari ini aku berhenti, bagiku tak mudah untuk menyelesaikan apa yang kuinginkan terlebih sulit rasanya mencari seseorang yang bisa kucintai sekaligus disukai ibu.

Aku Bukan DilanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang