Senin yang cerah dengan sinar matahari hangat yang baik bagi kulit. Namun, bila kelamaan berdiri di lapangan upacara dengan terik begini, malah jadi bikin haus. Jadi bikin Ahmad ngeluh dengan sedikit becanda bahwa kulitnya bisa makin hitam. Upacara pagi itu adalah baik, untuk menambah nasionalisme dalam diri para siswa. Juga untuk menentukan kekuatan, siapa yang paling kuat berdiri di sini di bawah matahari. Tentu, guru akan kuat berdiri, sangat kuat, terlebih bagi mereka yang berdiri di depan dengan kepala tak kepanasan. Teduh. Bila saja ada Dilan di sana, mungkin dia akan protes dengan apa yang dilihatnya. Aku juga sebenarnya ingin protes, tapi tak berani, lalu memilih untuk diam: mungkin guru-guru sudah tua sehingga tak kuat menahan panasnya mentari di hari Senin seperti halnya kami yang masih muda.
Oh, ya, Vio, kamu sudah baca novel Dilan belum? Kalau belum, nanti aku kasih ya. Aku akan beli yang edisi revisi, dan mau datang ke Surayah Pidi Baiq, biar dikasih tanda tangan, supaya bisa ditulis juga namamu di sana: Voor Viora.
Jadi, tadi, aku sudah cerita sampai mana? Oh, ya, tentang upacara ya. Ada hal yang aku favoritekan dari upacara, yaitu saat pembubaran barisan kemudian siswa berhamburan. Kamu juga mungkin suka dengan itu, apa lagi setelahnya bisa beli baso cuankie Mang Linting. Tapi sebelum itu, aku lebih favorit saat pengumuman siswa berprestasi.
Senang saja rasanya kala ada pengumuman siswa berprestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Siswa yang disebut namanya, ia akan maju dan wajahnya dilihat oleh seantero sekolah. Dilihat oleh siswa dan siswi. Coba, bayangkan, bagaimana menyenangkannya itu?
Akbar sering menjadi langganan nampang di sana, dari mulai juara debat, pidato hingga juara lomba nasyid acapella. Si Dani? Dia pernah juga beberapa kali maju ke sana, sebagai juara dalam bidang seni seperti acapella bersama Akbar, dan juga kaligrafi. Atau ada juga Doni, yang tipe sering bolos sekolah dan malak adik kelas, sebandel-bandelnya dia, tapi pernah sekali maju untuk mendapatkan penghargaan karena prestasinya: juara basket. Kukira, aku setuju bila manusia itu unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Aku? Jangan tanya. Aku hanya baru bisa menjadi penonton yang merasa bangga mempunyai kawan yang gemilang namun ada rasa iri. Iri ingin seperti mereka, maksudku, ingin merasakan bagaimana dipanggil di sana kemudian dilihat oleh seantero sekolah. Atau tak apa tak dilihat oleh banyak orang, asal bisa dilihat kamu, bahwa aku ada dan bisa berkarya. Maka muncul tekad dalam hati: aku harus merasakan bagaimana berdiri di sana!
***
Pagi itu, aku temukan dirimu berdiri saat upacara itu melalui sudut mataku. Kamu bercanda dengan sahabat di sebelahmu kemudian serius kembali. Bila pagi ini, upacara tak bubar hingga siang, aku tak akan apa-apa asal bisa melihatmu. Aku sudah sarapan dan kuat. Namun, aku tetap akan merasa harus dibubarkan upacaranya, karena kamu baru saja sembuh dari sakit dan jangan sampai sakit lagi.
Kepala sekolah sedang bertausyiah berisi curhat colongan, yang sejujurnya aku tak menangkap isinya. Para murid terlihat bosan dan lelah. Ada aku duduk hampir depan mengerutkan dahi, berharap tausyiah segera berhenti.
"Tanpa penghormatan, bubar barisaaaan, jalan!" itulah komando dari komandan upacara dengan suaranya yang serak-serak basah. Kita bubar, dan itu menyenangkan. Mungkin bubar upacara adalah hal yang jauh lebih menyenangkan dari pada bubarnya suatu hubungan.
***
Aku hendak kembali ke kelas. Dan, di lorong itu, saat aku ingin lebih lama melihat wajahmu, kita berpapasan.
"Pagi, Ram..." katamu senyum. Coba, dengar detak jantungku...
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Dilan
RomanceDear Viora, aku tahu, aku bukan Dilan yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan terang-terangan. Mungkin tak seberani Dilan, tapi biarlah, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, bukan?
