Start

1.9K 88 7
                                        


"Hi, Ra!" sapa Dani sembari menyikut tangan kananku yang sedang mengocek mangkuk berisi baso. Aku membalasnya dengan menggerakkan kakiku ke kakinya.

"Hi, Dan.. belum pulang?" tanya Vio sambil tersenyum. Tasnya menggantung di sebelah kanan tangannya.

"Belum, ini ngebaso dulu, katanya si Rama pengen makan baso..." Nita yang menjawab. Aku salting, bingung bagaimana harus bersikap.

"Iya, nih si Rama pengen makan baso... gak dimakan di sini?" tanya Dani.

"Nggak ah, mau makan di rumah aja..."

"Di Linting mah, beli baso teh dapet bonus, bonus minum berupa kuah..." lanjut Dani.

"Iya, hahaha" Vio ketawa. Itu manis. Aku tersenyum.

"Puguh weh haha..." tambah Nita.

Lalu aku memakan mie dan basonya dengan pelan. Sementara Linting hampir selesai melayani para pelanggan dengan memasukan kuah baso ke dalam plastic disertai banyak hal untuk membuat itu menjadi enak.

"Kecap sama sambelnya dipisah yaa..." ujar Vio pelan kepada Linting.

"Traktir Ram..." Nita berbisik padaku. Aku mau mentraktirnya, namun sebelum keberanianku muncul, Vio sudah terlanjur mengeluarkan uang dan membayarkannya kepada Linting.

"Nit, Dan, Ram... aku pulang duluan yaaa...." Vio pamit dengan menenteng baso yang sudah dibungkus itu, meninggalkan kami.

"Hati-hati Ra..." jawab Dani, Nita juga menjawab dengan jawaban yang senada.

"Ya Vio, sampai jumpa besok, baik-baik ya..." jawabku, dalam hati.

Ah, Vio, bagiku bahagia jadinya adalah hal yang sederhana, yaitu ketika bisa melihatmu baik-baik saja hari itu. Kemudian aku merasa menyesal juga, ketika ada kesempatan malah tak aku gunakan. Andai saja barusan aku bilang akan membayar basomu itu, mungkin aka nada hal lain yang terjadi. Sayangnya aku bukan manusia yang cukup berani.

***

Suasana rumahku mulai menggelap oleh malam yang dingin. Aku di kamar memainkan gitar akustik yang ada. Ada pesan masuk dari Akbar, isinya ajakan untuk kumpul latihan acapella besok siang selesai bubaran sekolah. Aku membalas, mengiyakan ajakan itu. Kemudian terbayang, bagaimana rasanya ketika nanti aku tampil di depan khalayak ramai, bersama kawan-kawan, dan juga, ya, bersama Fahmi.

Sementara pesan balasan sudah kukirim, lagu instrument dari Depapepe mengalun di kamar dengan volume yang sedang: start.

Aku Bukan DilanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang