Dani dan Faisal sedang menunggu di sana. Dani mengenakan jaket batik berwarna cokelat, yang ia beli dari Jogja. Sementara Faisal mengenakan parka berwana navy. Aku menghampiri dan menyapa sambil membukakan gerbang yang tingginya setara dengan hidungku. Faisal memasukan motor sementara Dani membantuku menutup gerbang.
"Sorry bre, euweuh motor hehe yang lain udah dateng?" Tanya Dani sambil mengemukakan kendalanya, disertai senyum yang melengkung di wajah.
"Kalem lah bre, yang lain ada di dalem, lagi mau shalat. Yuk ah, shalat dulu terus makan..." ajakku, mengajak Dani dan Faisal untuk masuk ke rumah.
Faisal menghampiri untuk menyalami, kami bersama-sama masuk rumah. Ibu sedang di belakang, kami bertiga menuju kamar untuk menemui yang lain, yang baru saja selesai melaksanakan shalat Magrib.
Dani langsung ke toilet untuk mengambil wudlu, dia sudah tahu tempatnya karena sudah pernah ke sini sebelumnya. Setelah itu aku dan Faisal yang wudlu dan mereka berdua menyapa teman-teman lain yang sudah selesai shalat.
"Ah, ini yang ngajak latihannya malah telat..." sindir Akbar sambil senyum.
"Haha, sorry lah, telat sautak..." jawab Dani, sautak itu, bagi Dani adalah kata yang ia gunakan untuk mengungkapkan kata saeutik atau dalam bahasa Indonesia artinya sedikit.
"Haha... shalat heula ah..." kataku. Fahmi dan Azis bertegur sapa dan beralih ke pinggir untuk memberi spase bagi kami untuk shalat Magrib. Kami shalat di ruangan tivi di lantai dua, tempatnya ada di sebelah kamarku.
"Siapa yang jadi imam? Kamu aja Ram... tuan rumah..." kata Faisal.
"Jangan ah, sok, Faisal aja..." aku mengelak.
"Ente Dan, maju jadi imam...." suruh Faisal.
"Allahu akbarullahu akbar, asyhadu an laa ilaaha illallah.." Dengan lantang Dani komat, dia menghindar untuk tak menjadi imam. Dasar. Akhirnya, Faisal yang maju menjadi imam di magrib itu.
Aku dan Dani mundur, merapatkan barisan dengan kaki kami yang rapat saling bersentuhan. Faisal melihat kami, ketika ia sudah yakin bahwa barisan di belakangnya rapi, ia takbir memukai shalat. Ketika masuk bacaan alfatihah, aku menjadi tahu kenapa dia dijadikan vocal utama. Suaranya bagus, bacaan yang baik. Bila Faisal membacakan surat yang agak panjang, barangkali aku tak keberatan, karena bacaannya enak didengar.
***
Ketika beres shalat, Faisal membalikkan badannya kepada kami dan kemudian berdzikir. Aku jadi ingat pelajaran agama di sekolah bahwa salah satu sunnah ketika menjadi imam yaitu menghadap makmumnya ketika sudah selesai shalat, dan Faisal mempraktikannya. Akbar dan yang lain sudah di kamar, sementara suara dari ibu sudah memanggil untuk segera makan malam.
"Duh, nyiar-nyiar pi atoheun si Ibu..." kata Dani, sambil ia menuju ke bawah untuk menyapa dan bersalaman. Kami menyusul ke sana dan kemudian makan bersama. Ada teteh dan juga adikku di sana, kami bertegur sapa.
Teteh mengambil makanannya ke kamar, sementara adikku, Ryadi, dia ikut dengan kami untuk makan. Ibu tidak ikut bersama kami, katanya dia sudah makan.
Satu persatu mengambil makanan dengan porsi sesuai dengan kapasitas perutnya masing-masing.
"Sok, ambil sesuai dengan yang akan diabisin," kata Akbar sambil mengantre.
"Heuh, lebih baik kurang dan nambah dari pada ngambil banyak tapi teu abis, mubazir..." Azis menambahkan.
Setelah semua mengambil, makan malam hari itu diawali dengan berdoa dan suasana yang hangat. Semua bercengkrama dengan seru, aku lebih menjadi pendengar yang baik dari pada menjadi kontributor dalam percakapan.
"Gimana dengan Vio, Mi?" Akbar bertanya pada Fahmi. Semua mata tertuju pada Fahmi dengan sambil makan. Termasuk aku dengan perasaan yang sedang disembunyikan.
"Nya kitu we... hehe" Fahmi menjawab dengan cengengesan. Aku menundukan kepala dan melanjutkan makan.
Dalam beberapa moment, membicarakan tentangmu bukan lagi sesuatu yang seru, bisa jadi menjadi sesuatu yang tak ingin aku bicarakan atau bahas. Aku merasa harus tahu diri, merasa harus mengukur bahwa aku bukan siapa-siapa, ditambah kamu sudah dengan orang lain. Seperti halnya di saat makan malam ini, ketika ada Fahmi dan teman-teman yang lain. Aku hanya ingin diam saja, tanpa ingin berpendapat atau berkomentar walau dalam lubuk hati, aku selalu ingin tahu lebih banyak tentangmu.
***
Setelah makan, kami shalat Isya berjamaah dengan Faisal berperan sebagai imamnya. Dia menjadi imam yang baik dan aku adalah yang saat itu sebagai makmum yang kurang baik, karena kali itu aku shalat dengan tak khusuk. Shalat dengan fisik yang ada di sana sementara pikiran menjelajah ke pikiran semesta yang luas. Tentang banyak hal yang tidak pasti, tentang banyak hal yang ingin dicapai. Aku jadi sadar, mengapa pemuda sekarang rentan galau, karena memang kita sedang ada dalam zona dimana masa depan adalah sesuatu yang tak pasti. Tentang mau lanjut ke mana setelah kuliah, kerja apa setelah itu, atau mengenai jodoh nanti di masa depan. Aku bepikir, walau aku sangat mencintaimu jangan-jangan jodohku bukanlah kamu?
Kemudian shalat 4 rakaat malam itu sudah selesai dengan aku yang berusaha untuk tetap baik-baik saja. Kami pergi ke kamarku untuk mulai latihan acapella.
"Jadi, mulai dari mana?" tanyaku. Kami duduk melingkar, Dani dan Faisal berdiri.
"Kita latihan solmisasi...." kata Dani.
"Jangan..." potong Faisal, "kita berdoa dulu... ente pimpin Dan,"
"Oke..."
Kemudian Dani memimpin doa di latihan kami malam itu. Kami menundukan kepala untuk berdoa, demi kelancaran latihan. Untuk penampilan kami yang baik saat pensi di sekolah nanti dan untuk banyak hal yang kami harapkan.
***
Drop your vote and comment, yaaa...
bersambung di Bab selanjutnya: Latihan Acapella 1
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Dilan
RomantikDear Viora, aku tahu, aku bukan Dilan yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan terang-terangan. Mungkin tak seberani Dilan, tapi biarlah, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, bukan?
