Pada siang saat kumpulan itu, aku sudah mendapat poin yang dimaksud A Rahman mengenai Isimastaka. Yang pasti, sekarang aku sudah resmi bergabung dengan komunitas di sekolah yang cukup elit di bidang kreatif ini. Sementara A Rahman berbicara di depan, aku hanya ingin segera selesai. Apalagi si Dani yang entah lagi apa di sana sedang bertemu dengan Vio. Sejujurnya aku ingin juga ke sana menghampiri. Namun aku bingung bagaimana menyudahinya.
"Ada pertanyaan lain sebelum kita akhiri?" akhirnya A Rahman menanyakan itu juga. Aku melirik kiri kanan, berharap tak ada yang bertanya. Sialnya, ada yang mengacungkan tangan. Bertanya. Dasar ini manusia gak berempati. Aku menunduk kepala sedikit, untuk menghela nafas karena sedikit kesal.
"A, kalau aa edit video pakai aplikasi apa?" dia bertanya. Dia teman seangkatanku, dari kelas sebelah.
"Biasanya kamu pakai apa?" A Rahman nanya balik. Aku hanya pendengar di belakang penanya.
"Movie Maker..." jawabnya singkat, A Rahman tersenyum.
"Kalau ngedit, bisa pakai Ulead yang sekarang sudah jadi Corel Video Studio. Atau yang bagus bisa pakai Adobe Premiere. Nanti aplikasinya bisa saya bantu install, dan kita bisa belajar bareng-bareng..."
Dulu, memang mengedit video itu menggunakan aplikasi yang disebutkan di atas. Belum populer atau bisa jadi belum ada aplikasi edit video di handphone. Handphone dulu mah udah ada kamera VGA, infrared, dan mp3 juga sudah uyuhan. Bagi kamu yang gak tahu uyuhan itu apa, sejujurnya saya bingung untuk menjelaskannya. Haha. Kira-kira, uyuhan itu semacam kata lumayan, dengan makna sebagai sesuatu yang itu adalah lebih baik daripada tidak ada.
Termasuk mengedit video pada jaman itu juga uyuhan. Karena dengan RAM yang minim, laptop yang berat, dan intel generasi tercanggih pada saat itu, aku membutuhkan semalaman bahkan seharian untuk me-render beberapa menit video saja.
***
Aku sudah tak fokus, namun semua itu berubah saat A Rahman menutup kumpulan saat itu. Aku jadi makin semangat untuk pulang. Ini gara-gara si Dani sih. Bikin kumpulan yang sebenaranya asyik ini jadi sesuatu yang aku rasa ingin segera berakhir. Satu persatu bersalaman dengan A Rahman, dan teman yang lain untuk kemudian pamit pulang. Minggu depan, di hari yang sama, kami akan kumpul lagi.
Suasana sekolah sudah sepi, pemain basket sedang beristirahat meminum air di pinggir lapangan. Ada satu orang yang sedang belajar menshoot bola untuk mencetak three point. Aku berdiri di luar kelas, mataku menyisir setiap sudut sekolah untuk mencari Dani. Tak kudapati dia dalam mataku. Barangkali dia sudah di parkiran, sehingga aku pergi di sana. Dan, benar saja, kudapati dia sedang berdiri di bawah teduhnya kanopi. Aku hanya melihat punggungnya saja dengan tas Eiger kesayangannya. Dia sedang asyik berbincang dengan seorang perempuan sambil tertawa. Aku ingin mendekat, namun malu. Tapi, kalau tak ke sana, aku akan kehilangan kesempatan.
Di parkiran yang sudah mulai ditinggalkan oleh banyak kendaraan, aku mendekati Dani ke sana sambil merunduk. Di kepalaku sedang mereka-reka, bagaimana aku harus menyapa. Bagaimana harus bersikap di hadapan Dani dan Vio itu.
Maka itulah harinya yang sedang ceraah, aku memberanikan diri mendekati Dani yang sedang mengobrol itu. Ketika aku mendongakkan kepala dengan senyum yang kubuat sebagus mungkin, aku menyapanya.
"Dan..."
"Yo, bre?" Dia membalikan badan, begitu juga dengan perempuan yang ada di hadapanya melihatku.
"Hai, Ram..." sapa perempuan itu.
"Eh?"
"Udah kumpulannya Ram?"
"Udah Ca, alhamdulillah..." kataku, pada Nita. Aku mendekati mereka berdua. Aku menghela nafas lagi yang entah keberapa di hari itu. Ternyata perempuan yang kukira Vio itu hanya Nita.
"Udah ini mau ke mana?" Nita nanya lagi.
"Langsung pulang aja kayanya Ca..."
"Enya, langsung balik we, urang geus lila teuing nungguan..." Dani menyambung sambil melirik jamnya. Dia sedikit protes karena terlalu menunggu lama.
"Gak akan nongkrong dulu?" tawar Nita.
"Enggak ah, Ca, kayanya langsung pulang aja.."
"Yakin? Tadinya aku mau ajak jajan baso ke Bu Acih..."
"Kayanya pulang aja, ya Dan?"
"Ih, Dani mah mau ikut, tapi dia mah gimana kamu..." Nita menimpal.
"Hayu, Ram, ngabaso..."
"Iya, tadi Vio juga mau ke sana cenah..."
Aku diam beberapa saat, bingung harus bagaimana menjawab.
"Hayu, Ram... " ajak Dani.
"Hmmm, ya udah kalau kalian maksa mah..."
Dani dan Nita beradu pandang, kemudian tawa mereka pecah.
"Kenapa?" aku bertanya heran.
"Enggak.. hahaha hayu ah..." Dani mengajakku. Aku mengambil motor yang sedang diparkir. Nita dibonceng olehku, sementara Dani memilih untuk jalan kaki karena jaraknya tak begitu jauh.
Motor kunyalakan. Helm telah dipakai. Nita naik. Sekarang, kebingunganku yang beberapa menit yang lalu muncul kembali dalam kepala. Bila bertemu denganmu, Vio, bagaimana aku harus berucap? Bagaimana aku harus bersikap?
Bisa menyapa hai juga, ah, Uyuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Dilan
RomanceDear Viora, aku tahu, aku bukan Dilan yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan terang-terangan. Mungkin tak seberani Dilan, tapi biarlah, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, bukan?
