Aku menulis ini karena aku ingin menulis ini. Bila kemudian ditemukan ada yang salah dan typo dalam penulisannya, kamu harus memaklumi itu bahwa aku adalah penulis yang bertugas untuk menulis, bukan editor yang bertugas untuk ngedit. Jadi, kalau ada yang salah ketik dsb, sekali lagi, mohon maklum, mohon diingatkan. Nanti akan diperbaiki dan mudah-mudahan menjadi lebih bagus saat tulisan ini terbit dalam versi bukunya.
Jadi, apa yang mau aku ceritakan di bagian ini? Aku jadi ingat dengan temanku Akbar. Dia teman sekelas yang luput aku ceritakan. Dia itu adalah sahabat dengan tinggi yang sama denganku, sahabat Dani juga. Ketua osis yang Islami namun gaul dengan yang lainnya.
"Ram, Dani katanya sakit ya? Kita jenguk yuk?" itu Akbar yang menghampiriku, mengajak untuk menjenguk Dani.
"Iya cenah, Bay, demam. Tadi Nita juga ngajak jenguk," aku memanggil sahabatku yang satu ini dengan panggilan Bay.
"Oke atuh, pulang sekolah kita ke sana..."
"Siap..." kataku, pelan.
Saat istirahat itu aku memilih untuk tidak ke mana-mana. Aku hanya ingin menggambar, mencorat-coret kertas kosong di hadapan. Aku menggambar Wall-E, tokoh animasi favoriteku. Jangan tanya bangaimana jadinya. Bila kamu jago gambar, dan melihat hasil pekerjaanku, barangkali kamu akan menertawai ini. Tapi tak apa, pokoknya saat istirahat itu aku hanya ingin menggambar.
Nita pergi keluar untuk jajan. Aku duduk celingukan di dalam kelas, ada laptop Dani dalam tas yang baru beberapa hari ini dia bisa sembuh dengan susah payah. Hmmm, kenapa aku merasa bahwa orang yang menitipkan laptop padaku, malah laptopnya sembuh pemiliknya jadi sakit? Jangan-jangan.... ah ngelantur sekali ini pikiran,
Siang itu, tanpa aku harus ceritakan bagaimana pikiranku dipenuhi oleh dirimu juga keinginan ingin berjumpa denganmu walau sesaat, siang itu berlalu dengan pelajaran yang masih saudara dengan pelajaran Matematika: Fisika. Bila saat itu ada effect yang bisa digunakan, barangkali asap mengepul keluar dari kepala akan menjadi pemandangan yang asyik siang itu. Asyik sekaligus pusing. Perpaduan sempurna antara asyik, pusing dan panas terik matahari di siang bolong. Maka, saat panas begini, aku jadi rindu dengan sejuknya senyummu tadi pagi.
Di parkiran itu, aku mengeluarkan motor dari parkirannya. Nita pulang duluan, katanya dia tak jadi menjenguk karena ada urusan yang mendadak. Akbar juga mengeluarkan motornya, dia membonceng Ahmad yang mau nebeng pulang. Itu sudah cukup untuk membuat jok belakangku kosong.
Motor keluar. Kunyalakan, kemudian gigi satu masuk dan gas bersautan membuat maju kendaraanku dengan yang lain. Aku melaju ke gerbang sekolah dengan pelan dan mata yang berusaha menemukanmu yang siapa tahu hari itu akan pulang juga. Bila ini adalah saat yang bagus, maka memang itulah saatnya: kamu baru saja keluar gerbang sekolah. Aku tepat beberapa meter di belakangmu. Aku tahu itulah dirimu karena aku tahu dari merk tas yang kau pakai, atau motif kaos kaki yang kamu pilih juga gaya bagaimana kamu berjalan. Siang itu, kamu sendirian, aku juga sendirian. Motor sudah kosong tanpa Dani yang biasa menumpang. Kukumpulkan keberanian untuk bisa mendekatimu, kulajukan motorku menujumu. Namun aku belokan ke arah berlawanan denganmu saat motorku nyaris mendekat: kutemukan kamu melambaikan tangan dengan sesiapa yang ada di seberang sana. Lelaki separuh baya, mungkin saudaramu atau sesiapa saja yang diutus untuk menjemputmu karena baru saja sembuh.
Aku palingkan motor, ke arah berlawanan kemudian berhenti di depan toko. Aku turun untuk berpura-pura membeli sesuatu di sana. Aku membeli air untuk menghapus dahaga siang itu, sambil mata yang mencuri pandang padamu yang berjalan menuju jemputan. Bila air saat itu segar, itu adalah sesuatu yang wajar, dan bila tambah segar itu memang karena dirimu yang mampu meneduhkan. Kuikuti sosokmu siang itu hingga menghilang dalam pandangan.
Ada senyum yang melengkung, ada dahaga yang sudah tidak. Dan, oh, ya, aku harus bergegas untuk menjenguk Dani dan lekas untuk pulang.
"Hayu, Ram..." Akbar baru saja melewatiku, memecahkan lamunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Dilan
RomantikDear Viora, aku tahu, aku bukan Dilan yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan terang-terangan. Mungkin tak seberani Dilan, tapi biarlah, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, bukan?
