Motor aku parkirkan di pinggir gerobak baso yang sudah legend di sekolah kami itu. Jaraknya tak begitu jauh dari sekolah. Dengan kursi yang tak begitu banyak, Linting berjualan baso di sana sudah lama. Wajahnya sangar, bibirnya hitam disebabkan kepulan asap rokok yang dihisapnya tiap hari. Jangan bayangkan wajahnya ramah tamah seperti kebanyakan tukang baso yang ceritanya bermunculan di sosmed kemudian dishare dan viral karena kebaikannya. Linting tidak. Umurnya yang sudah mencapai lebih dari kepala empat ini lebih seperti preman yang jualan baso. Namun jauh dari itu, basonya enak dan yang lebih keren lagi, bisa ngutang.
Maka tak heran, bila awal bulan, Linting akan keliling sekolah untuk menagih hutang baso para siswa yang entah sudah mencapai jutaan. Biasanya anak-anak yang sering nongkrong di sana yang sering hutang. Aku bukan termasuk orang yang sering ongkrong di sana sehingga aku tak berani berhutang.
Kami memesan baso dengan isi kumplit. Sembari pandanganku mencari yang ingin aku temukan. Perlahan. Namun hingga pesanan dating, aku tak menemukan apa yang kucari itu: Vio.
Baso sudah dihadapan, aku menambahkan kecap dan saus seckupnya. Nita lebih memilih memasukan sambal yang cukup untuk dibilang banyak dan Dani lebih suka menambah kecap ekstra. Dia mengambil snack kemasan yang ada di depan.
"Liat bre, desainnya...." Dani memperlihatkan desain snack yang ala kadarnya itu, "apa gak bisa buat yang lebih bagus yaaa..." lanjutnya, aku senyum kemudian melahap mie.
"Coba ente bre yang desain, pasti lebih keren..." Dani membuka snack kemasan itu lalu menambahkannya ke dalam mangkuk. Haha. Dipoyok dilebok, ih.
"Di balik desain yang jelek itu, ada karyawan yang meeting beberapa kali hingga itu bisa dieksekusi..." Nita menimpali. Aku langsung terbayang bagaimana membosankannya rapat menentukan desain untuk acara cerdas cermat tahun lalu.
"Iya, dan di balik desain yang kita anggao buruk itu, ada desainer yang diminta revisi sampai begadang berhari-hari.." aku menambahkan.
"Hahaha..." kami tertawa bersama.
"Sampai typus..haha" Nita menyempurnakan. Tangannya mengocek baso, lalu menambahkan lagi sambal. Linting sedang sibuk melayani pelanggan.
"Iya bener, euy, kerasa saya ge, kalau ada yang order desain itu keliatannya mudah, padahal butuh proses panjang... dan itu tuh ripuh pisan..." aku mendengar sambil memakan mie dan tauge.
"Makin tahu susahnya proses, makin kita bisa lebih menghargai suatu karya, yaaa..." aku mencoba menyimpulkan.
"Iya, kebayang kalau bikin film ya..."
"Iya, film Predator yang kemarin ditonton juga ceritanya kacau yaaa..." Dani mengingat film yang diputar saat pelajaran bahasa Inggris, "tapi da, di balik pembuatan film itu ada orang yang casting, luangin waktu tenaga, ngedit, ya..." dia menjawab pernyataan sendiri. Aku jadi ingat bagaimana susahnya membuat film pendek beberapa bulan lalu. Menyiapkan kamera, lighting, skrip, editing, pemain, lokasi, hadeuh..
"heuh, bener," Nita menyetujui, "jangankan bikin film, aku mah bikin baso gini juga gak bisa..."
"Baso mah gak usah bikin Nit, bisa mesen ke sini..." kataku, sambil meraih gelas minum.
***
Hmmm, menghargai proses ya. Aku diam sejenak dalam memakan baso, mengingat sesuatu lalu mengulum senyum.
"Mang, satu ya basonya aja... dibungkus," kudengar suara yang tak asing memesan baso.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku Bukan Dilan
RomansaDear Viora, aku tahu, aku bukan Dilan yang bisa mengungkapkan perasaannya dengan terang-terangan. Mungkin tak seberani Dilan, tapi biarlah, setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai, bukan?
