Adrian menatap dirinya sendiri yang sedang termenung. Adrian berkaca. Adrian tengah menatap pantulannya sendiri yang terlihat serius mengamati. Sosok di depannya berkedip, tapi Adria bersumpah ia tidak sedang berkedip sedetik tadi.
Adrian menatap dirinya sendiri kebingungan. Namun ketika Adrian mengernyit, sosok itu justru tersenyum. "Derian?" tanya Adrian untuk memastikan. Satu-satunya orang yang identik dengannya adalah kembarannya.
Sosok itu menggeleng dan senyumnya melebar. "Aku Ryan."
~
Adrian terbangun seketika. Bahkan ia spontan terduduk di ranjang yang tak ia kenali. Perlu semenit bagi Adrian untuk mengumpulkan kembali nyawanya dan menyadari di mana tempatnya berada.
Oh, Adrian ingat. Ia sedang berada di kamar hotel yang ia sewa setelah penerbangan lebih dari dua puluh jam yang ia tempuh demi mencari alamat yang Dave berikan. Ia tertidur dengan kemeja dan celana jinsnya yang masih utuh karena ia tak sempat menggantinya akibat terlalu lelah. Di perjalanan, Adrian sama sekali tak bisa memejamkan mata karena otaknya memaksa untuk berpikir. Kegugupannya tak kunjung surut sejak ia bertekad terbang ke Amerika untuk menemukan Emilia dan Ryan.
Ini pula sebab Adrian mendapatkan mimpi aneh barusan. Ia terlalu banyak menerka seperti apa putranya dan Emilia. Ke manakah anak itu menjiplak sifat dan fisik? Meskipun Adrian berharap Ryan lebih mirip Emilia supaya menjadi pribadi yang baik, namun Adrian tak bisa menutupi bahwa ia mengharapkan adanya kesamaan antara Ryan dan dirinya.
Sedikit saja. Bakatnya bermain bola, misalnya.
Jam di nakas hotel menunjukkan waktu pukul delapan pagi. Adrian mengira-ira kapan hendaknya ia akan mencari alamat itu. Kemudian ia teringat lagi dengan pesan Delia supaya menghadapi saja apapun yang terjadi. Meski Adrian punya banyak alasan untuk merasa khawatir, namun sebaiknya ia berpikir positif seperti yang Delia katakan.
Benar. Adrian sudah di sini. Untuk apa ia melarikan diri lagi?
* * * * *
Taksi yang ditumpangi Adrian berhenti di sebuah rumah besar berwarna putih yang terlihat bersih dan asri. Adrian tak yakin, namun sang sopir taksi yang mengantarnya mengatakan bahwa di sinilah alamat yang ditunjukkan Adrian.
Jantung Adrian berdegup kencang saat mengamati rumah itu dari balik kaca. Ia benar-benar tak siap untuk ini. Apa sih yang dipikirannya sampai memburu Emilia sejauh ini? Bisa jadi yang dikatakan Dave benar, Emilia sudah bahagia dan Adrian tak perlu lagi mengganggunya.
Baiknya Adrian meminta sopir itu melaju saja, kan?
Tapi yang dilakukan Adrian justru mengambil lembar dolar di dompetnya dan memberikannya pada sang sopir taksi. Adrian keluar dari taksi itu dengan linglung seolah kakinya mempunyai pikirannya sendiri. Adrian membuka pagar kayu bercat putih itu dengan mudah. Kakinya melangkah gontai ketika menapaki teras rumah lalu menaiki beberapa anak tangga di beranda. Jantungnya berdetak hingga ia nyaris mendengar detumnya.
Kini Adrian berdiri di depan pintu bertuliskan 236. Persis seperti yang tertulis di kartu itu. Di sini kah Emilia-nya berada? Ke mari kah wanita yang dicintainya selama ini melarikan diri? Apakah ini pintu yang akan membawanya menemui kedamaian?
Adrian hanya harus mengetuk. Namun tangannya gemetar hebat sekedar untuk terangkat. Memang benar ia harus mengambil resiko yang mungkin terjadi, tapi sial, sisi pengecut Adrian mencuat lagi.
Lakukan. Kau hanya bisa berusaha.
Benar, jika Adrian punya alasan selain pengampunan Emilia yang ia butuhkan, alasan itu adalah Adrian yang tak mau membuat Delia kecewa. Wanita itu sudah tiga tahun mendampinginya untuk menjadi lebih baik. Bukan menjadi lebih pengecut dari Adrian Salendra yang Delia temukan di rumah sakit jiwa tiga tahun lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
RomanceSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
