Ruangan itu berisikan tiga orang, namun hanya satu orang yang begitu giat mengajukan pertanyaan. Delia tak habis pikir, untuk apa prosedur ini dilakukan jika di antara Delia maupun Ardan sudah sama-sama setuju melakukan perceraian ini. Mediasi seperti ini jelas tak ada gunanya. Lihat, Ardan pun tidak datang hari ini. Hanya pengacara yang mewakili kehadirannya, semata-mata untuk menyampaikan pada mediator bahwa Ardan benar-benar yakin dengan gugatannya.
"Anda tahu bahwa umur pernikahan Anda masih empat tahun," kata mediator berusia awal tiga puluhan dengan setelan necis itu pada Delia. Ia adalah Hendrawan Pratama. "Dalam masa-masa seperti ini, memang perkawinan sangat rawan dan mungkin saja ini adalah emosi Anda sesaat. Perceraian adalah jalan terakhir, tapi setidaknya Anda harus yakin dengan keputusan Anda."
Delia adalah seorang psikiater. Ia tahu betul bagaimana caranya menenangkan diri sehingga ia tak sembarangan menanda-tangani surat perceraian sialan. Mediator ini hanya menggunakan kalimat yang diulang-ulang setiap kali ia melakukan pekerjaannya. Delia yakin begitu.
"Saya dan Ardan sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan kami, Tuan Pratama. Jujur saja, kami berdua bukan tipe orang berpikiran labil yang memutuskan ini itu dalam sedetik," jelas Delia. Kini Delia telah bersiap melontarkan berbagai alasan yang telah ia susun. "Kami terpaut usia yang cukup jauh sehingga perbedaan pendapat sering terjadi. Tentu itu bukan suatu hal yang harmonis dalam rumah tangga, bukan?"
"Dalam rumah tangga memang sering terjadi perbedaan pendapat, Nyonya Delia."
"Mari garis bawahi ini," potong Delia. "Kami terlalu sering berbeda pendapat."
"Tapi kalian akhirnya memutuskan untuk menikah. Kalian mungkin harus mempertimbangkan perasaan yang pernah kalian jalin—"
"Kami dijodohkan." Delia memotong dengan tajam. Ia memang mencintai Ardan sejak Nyonya Narendra, ibu Ardan memperkenalkan mereka. Tapi jika mengingat kembali bagaimana Ardan memperlakukannya tanpa cinta sedikit pun, meski sekeras apapun Delia bersabar dan terus mencoba meluluhkan hatinya, tetap saja itu membuat Delia geram dan marah. Hanya cincin pernikahan yang menjadi kesamaan di antara mereka berdua. Selebihnya, Ardan tak mampu Delia raih karena hanya wanita bernama Lia yang ada dalam pikiran Ardan.
"Itu sesuatu yang kompleks," kata pengacara Ardan, Fredy. "Klien saya juga mengatakan hal yang sama, Tuan Pratama. Mereka dijodohkan dan mereka tidak menjalani ini atas kehendak masing-masing."
"Apakah Tuan Narendra tetap menafkahi Anda sebagai seorang istri? Nafkah materi dan batin?"
Delia mencoba tersenyum meski pernyataan pahit ini harus ia lontarkan. "Kami berdua sama-sama punya karir yang bagus. Saya cukup puas dengan hasil kerja keras saya sendiri. Saya tidak terlalu peduli dengan materi karena saya lebih suka mandiri. Lebih dari itu... tidak. Kami tidak pernah meluangkan waktu satu sama lain karena kami terlalu sibuk dan tak punya waktu untuk mengimbangi keharmonisan pernikahan kami."
"Ambil saja titik tengahnya," kata Fredy. "Kita bisa membuat ini cepat, Tuan Pratama. Mereka tidak menghendaki pernikahan ini dan sepertinya empat tahun telah terbuang tanpa hasil apapun. Itu alasan yang cukup untuk melangsungkan prosedur selanjutnya. Katakan jika aku salah bicara, Nyonya Delia."
Delia tidak menyanggah.
Hendrawan Pratama mencatat sesuatu pada catatan kecilnya sambil mengerutkan kening seolah menimbang. Sebenarnya Delia ingin ini berjalan lebih cepat juga. Ia punya banyak alasan yang bisa memudahkannya. Tapi Delia tak mau baik Ardan tercemar. Ia ingin memutuskan hubungan dengan baik-baik meski tak ada ucapan selamat tinggal satu sama lain.
Tapi perduli setan jika Delia harus mengorbankan namanya. Toh ini ruangan tertutup dan Tuhan pun tahu perceraian ini adalah yang terbaik untuk semua orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
RomanceSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
