Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

SF - BAB 22 (Rated)

20.3K 998 8
                                        


Warning! Mature content.

402. Pintu itu masih terlihat sama dari terakhir kali Adrian melihatnya. Gedung ini pun masih sama, meski orang-orang di sini silih berganti selama delapan belas tahun. Adrian berdiri di depan pintu apartemen Delia, termenung menatap lorong panjang di mana terdapat pintu-pintu dengan nomor berbeda. Dahinya mengernyit ketika memikirkan betapa kebetulan ini bisa terjadi.

"Adrian?" panggilan Delia membuyarkan Adrian. Ternyata wanita itu sudah membuka pintu apartemennya. "Silahkan masuk."

Adrian berusaha menampilkan senyum. Ia menatap lorong tersebut untuk terakhir kali sebelum membawa dirinya masuk ke apartemen Delia.

Seperti yang Delia katakan, apartemen itu sederhana. Minimalis. Cukup elit jika hanya ditempati satu orang. Tiap ruangannya tidak disekat pintu, hanya sebuah sekat sederhana yang didekorasi apik. Satu-satunya ruangan yang mempunyai pintu sendiri adalah kamar mandi. Seluruh ruangan seperti, dapur dan ruang makan, ruang tengah, kamar tidur, dan ruang tamu; bisa dicapai hanya dengan beberapa langkah saja. Lebih dari itu, apartemen yang didekor warna-warna cerah itu terlihat hidup, rapi, dan bersih.

"Tempat yang nyaman," ujar Adrian.

Delia mempersilahkan Adrian duduk di sofa ruang tamu. Adrian menjatuhkan dirinya di sofa. "Hanya ini yang bisa kubeli."

Adrian menaikkan alisnya. "Uang tunjangan dari suamimu?"

Delia mengendikkan bahu. "Untuk apa? Aku bahkan tidak membawa anaknya." Delia berhenti sejenak. "Prosedurnya belum selesai. Aku baru melewati sidang pertama dan mediasi yang berakhir nihil. Aku harus menunggu sidang selanjutnya. Tapi kupikir aku juga akan menolak tunjangan darinya. Aku tidak mau berhutang padanya. Aku dua puluh enam tahun, produktif, dan sangat bisa untuk mandiri. Aku tidak membutuhkannya."

Adrian menegakkan punggungnya. "Dia juga tak menafkahimu selama kalian menikah? Dia tidak memenuhi kebutuhan seksualmu dan dia tidak memanjakanmu dengan uang belanja? Dia itu idiot atau apa, sih?"

Semburat merah menyebar di pipi Delia. Ia hanya megendikkan bahu dan berlalu ke dapur seraya menggelung rambut panjangnya. "Sudahi cerita tentangku dan dia. Tak ada yang menarik dari pernikahan kami," kata Delia sambil mengotak-atik kompor dan wajan. "Aku mungkin akan memasak sesuatu sementara kau menghiburku dengan ceritamu."

"Aku tak yakin ceritaku bisa menjadi hiburan saat memasak."

Delia terkekeh. "Coba saja."

"Aku... ke Amerika."

Delia hanya diam. Meski tidak memperhatikan, namun Adrian tahu wanita itu mendengarkan.

"Aku mendapat banyak kejutan di sana. Emilia ternyata sudah meninggal empat tahun yang lalu, meninggalkan seorang suami yang sangat baik dan dua orang anak."

"Jadi itu serius?"

"Ya." Adrian mengangkat bahu seraya menghela napas. "Aku terlambat mendapatkan pengampunan darinya, Delia."

"Bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Aku tak yakin. Tapi kau benar, seperti sesuatu baru saja terangkat dari diriku. Aku merasa jauh lebih baik."

"Dan... anakmu?"

"Dia yang nyaris membunuhku. Dia menghajarku dan menjadi alasan mengapa dadaku masih dibebat."

"Ya Tuhan!" Delia beralih sepenuhnya pada Adrian. "Dia yang membuatmu koma?"

Adrian terkekeh. "Aku tak masalah dengan itu. Akhirnya tetap saja aku berada di sini dan lagi-lagi selamat dari maut."

Surrender of FaultCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang