Enjoy!
Jangan lupa vote dan komentar :D
Sebuah cahaya merangsek masuk, menyilaukan pandangannya meski Adrian tengah menutup mata. Adrian takut membuka mata karenanya. Ia takut kalau-kalau dirinya melakukan itu, ia akan menjadi buta.
"Adrian..." Sebuah suara lembut menenangkan hati memanggilnya. Ketika ia sadari, sekujur tubuhnya juga tengah dililiti oleh suasana nyaman nan damai. Adrian tak pernah merasa seperti seumur hidupnya.
"Adrian..." Suara lembut itu terdengar lagi. Sekarang Adrian baru menyadari bahwa suara itu sangatlah familiar. "Buka matamu."
Adrian menghalau keraguannya sedetik tadi. Ia membuka mata dan benar saja, cahaya putih menyilaukan menyambut penglihatannya. Hanya saja, cahaya ini sama sekali tidak menyakitinya, cahaya ini terlihat indah dan berkilauan.
Butuh waktu beberapa detik bagi Adrian untuk menyesuaikan penglihatannya. Angin lembut menerpa wajahnya. Aroma bunga familiar menyatu dengan udara, membuat dadanya berdesir bahagia karena menghirupnya.
Cahaya itu sedikit memudar ketika sosok itu terlihat. Rambut hitam yang diterpa angin. Senyum manis yang tersungging di antara wajah cantiknya yang berkilauan. Mata gelap yang bulat dengan sorot menenangkan.
"Emilia..." Adrian mendengar suaranya yang tak terdengar jelas. Namun sosok itu tersenyum saat Adrian memanggilnya. "Kau di sini."
"Aku di sini." Emilia tersenyum. Tangannya bergerak menyugar rambut Adrian yang diterpa angin. Adrian pun memejamkan mata ketika mendapatkan sentuhan itu. Jika ini mimpi yang akan mengiringi tidurnya, Adrian rela tertidur selamanya. Dengan posisi ini, tertidur di pangkuan Emilia yang sangat ia cintai.
"Aku mencintaimu..." Adrian mendengar suaranya bergetar. Ia membuka mata, takut kalau Emilia yang cantik hanya imajinasinya, takut jika sosok itu berubah menjadi Emilia yang kecewa dan meninggalkan dirinya. Beruntung Emilia masih di sana, masih dengan senyumnya. "Jangan tinggalkan aku." Adrian meraih tangan Emilia. Membawa tangan yang lembut dan hangat itu ke pipinya.
"Aku tak pernah meninggalkanmu."
"Kenapa kau menyiksaku seperti ini?" Adrian membuka mata lagi. Ia tak ingin berakhir menyedihkan, tapi sayangnya, ia telah menangis di pangkuan Emilia sekarang. "Kenapa kau pergi?"
"Aku harus," kata Emilia. Senyumnya memudar menjadi senyum tipis, namun tetap mendamaikan. "Kau tahu aku akan selalu mencintaimu. Aku tak akan jauh darimu."
"Aku juga selalu mencintaimu, Lia."
Emilia menggerakkan tangannya, membelai pipi Adrian. Adrian hanya bisa terpaku pada mata Emilia yang menatapnya. "Jika kau mencintaiku, berhentilah menyiksa dirimu."
Adrian mengernyitkan dahi karena bingung. "Aku tak tahu apa maksudmu."
Emilia tersenyum. "Kau tahu betul maksudku."
Adrian masih diam. Banyak hal yang ingin ia katakan pada Emilia, namun tak satu pun yang terlontar. Adrian bingung hendak berkata apa. Sejujurnya yang ia inginkan adalah Emilia-nya di sini untuknya, untuk selamanya.
"Aku tak bisa melakukan itu," kata Emilia seolah membaca pikirannya.
"Kenapa? Kenapa kau tak bisa kembali untukku? Apakah kau masih kecewa padaku? Bisakah kau memberi tahuku bagaimana caraku menemukamu? Aku sangat merindukanmu."
"Adrian... Aku bukan lagi jalan yang harus kau tempuh. Kau punya sesuatu yang lebih penting untuk kau pikirkan. Kita sudah berakhir. Meski begitu, aku akan tetap mencintaimu dan selamanya akan begitu. Seperti janji yang selama ini kuberikan padamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
RomanceSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
