Warning! Mature content!
Hentakan pinggul Adrian dari belakang membuat kewanitaan Delia terkoyak nikmat. Adrian melancarkan gerakannya menjadi lebih cepat ketika miliknya mulai berkedut dalam diri Delia. Tangan Adrian terulur ke depan, meraih-raih payudara Delia yang semakin berisi. Keringat telah membasahi tubuh mereka. Gairah telah menguasai keduanya hingga ruangan itu menguarkan aroma erotis.
"Delia. Sial. Kau sangat... sangat... nikmat!" racau Adrian.
Delia menjerit meneriakkan nama Adrian ketika milik Adrian tepat menyentuh inti ternikmatnya. Delia memutar mata ketika puncak kenikmatannya teraih. Sementara Adrian mendorong dalam-dalam ketika dirinya meledak dalam tubuh Delia.
"Delia!" jerit Adrian. Tubuh kekar itu kini runtuh menindih Delia. Namun kesadaran Adrian kembali sedetik kemudian, membuatnya menyingkirkan tubuh ke samping. "Sial. Maaf. Aku lupa dengan mereka. Apakah kau baik-baik saja?" Adrian berkata panik.
Delia tersenyum tipis. Matanya masih sayu. Kewanitaannya berkedut. Sisa-sisa kenikmatan masih membayangi dirinya. "Aku cukup baik."
"Mereka, Delia!" sergah Adrian.
Delia tertawa pelan. Ia mengulurkan tangan untuk meraih wajah tampan Adrian. "Semuanya baik-baik saja."
Adrian menghembuskan napas lega. Ia menarik Delia ke dalam pelukannya. Delia merasa luar biasa nyaman ketika tubuh mereka polos dan Adrian menjaganya seperti ini. Adrian meraih dagu Delia, memaksa wajah Delia terangkat untuk menyematkan sebuah ciuman sehabis bercinta. Delia tak berbohong bahwa dia sangat-sangat merindukan Adrian. Ia tak tahu apakah ini pengaruh bayinya atau akibat hormon kehamilan, yang jelas, tiga bulan terlampau lama untuk Delia berjarak dengan Adrian.
Adrian melepaskan ciuman mereka. Meletakkan dahinya di dahi Delia. "Terima kasih, Delia."
Delia tersenyum. "Terima kasih, Adrian."
Adrian menatap Delia. "Untuk apa?"
Delia mengangkat bahu. "Entahlah. Kupikir kita punya simbiosis mutualisme."
Adrian menghela napas. "Ini bukan lagi saling menguntungkan yang seperti itu. Aku serius bahwa aku ingin bersamamu."
Delia juga tak bisa berdusta. Ia juga menginginkan kehidupan sempurna sebuah keluarga yang tak pernah Delia rasakan. Ketika ia melihat Adrian sedemikian menginginkannya, Delia mau tidak mau tergiur akan permintaan itu. Kehidupan Delia di masa lalu cukup sulit. Delia ingin mengakhirinya. Ia sudah jenuh menjadi seorang yang tak pernah diinginkan. Adrian bisa menyempurnakan mimpi Delia yang satu itu.
Tapi, mungkin saja tidak.
"Delia..." Adrian memaksa mata Delia menatapnya. "Aku tahu aku bukan sosok yang sempurna. Aku rusak dan aku tak tahu cara memperbaikinya. Kau memperbaikiku. Entah bagaimana diam-diam kau memasuki hidupku dan menjadi bagian dari motivasiku."
"Karena aku psikiatermu dan sudah tugasku untuk memotivasimu."
Adrian menggeleng. "Aku yakin bukan seperti itu. Bahkan detik ini pun aku tak bisa membayangkan bagaimana aku menjalani hari selanjutnya jika kau berjarak dariku. Aku serius bahwa aku ingin memilikimu."
Delia menyusupkan diri lebih dalam ke tubuh Adrian. "Aku berbohong jika berkata tak tersentuh dengan ucapanmu."
Adrian hanya diam sementara Delia bisa mendengar detak jantung Adrian di telinganya. Beriringan dengan detak jantungnya. Beriringan dengan gerakan lembut bayi-bayinya yang mungkin menyukai posisi mereka saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
Любовные романыSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
