Semoga suka. Jangan lupa vote dan komentar :) :)
Tangan Adrian sibuk mengaduk kopinya. Ini seperti pemanasan baginya untuk mengumpulkan ketenangan dan keberanian untuk bicara. Ia telah terbiasa dengan ini. Delia pun dengan sabar menantinya terdiam seraya sibuk dengan pikirannya.
Wanita ini adalah orang tersabar yang membimbingnya mengatur beberapa kegiatan positif, yang bisa membuatnya mengalihkan pikiran. Delia bahkan telah menyusul jadwal mingguan yang harus Adrian lakukan di luar jadwal konsultasi dan Adrian bersyukur Delia berada di sini.
Adrian mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata cerdas wanita yang sepuluh tahun lebih muda daripada dirinya. Delia selalu menggunakan kontak lensa transparan saat pagi hari. Ketika mereka bertemu di malam hari, terkadang Delia melepas lensanya dan beralih ke kacamata dengan bingkai hitam yang membuatnya semakin cantik ketika benda itu bertengger di hidungnya.
Delia tersenyum setelah menyesap tehnya. "Jadi? Siap?"
"Aku tak tahu harus memulai dari mana," ujar Adrian. Ia meneguk ludah karena suaranya terdengar aneh untuk ukuran pria dewasa yang sangat matang.
"Kau bisa mulai dari mana saja."
Adrian menghela napas. "Masih sama seperti sebelumnya."
"Ya?" Delia menanti. Perhatiannya telah terfokus pada Adrian. Di ujung mata Adrian, ia bisa melihat tangan Delia yang memegang pulpen merah muda bergerak di atas catatan kecil warna-warni. Adrian nyaris tak mengira jika Delia sedang mencatat masalah yang terjadi pada dirinya. Bagaimanapun, Delia tetap psikiater yang harus melakukan tugasnya.
"Tapi kupikir, ini lain."
"Lain yang seperti apa?"
"Rasanya menyakitkan. Di sini." Adrian memegang dadanya. "Aku memutar kembali kenangan yang sama, kenangan saat dia pergi. Tapi..."
"Tapi?"
Adrian menghela napas. "Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Kau tak akan mengerti. Rasanya lebih sakit. Sangat sakit. Aku butuh lebih banyak oksigen setelahnya. Lalu ketika aku tak kunjung tenang, rasanya..." Adrian berhenti sejenak. Ia menatap Delia yang masih menantinya. "Rasanya hasrat dalam diriku begitu kuat untuk menyakiti diriku sendiri. Untuk mengakhiri hidupku."
Delia mengangguk. "Aku mengerti."
"Kau tak mengerti!" desis Adrian. "Kau tak tahu karena kau tak pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu."
"Adrian," kata Delia dengan sabar. "Aku mengerti dengan apapun yang kau alami berdasarkan dari pengalaman orang-orang yang berbagi denganku dan banyak teori yang kuketahui. Kau tak bisa berbagi dengan orang yang sama putus asanya denganmu, yang mengalami hal yang sama. Kau perlu orang yang berlawanan denganmu, yang tidak menghalaumu menjadi lebih negatif. Kau butuh kutub positifmu."
Adrian hanya diam.
"Maafkan aku karena tak pernah berada di posisi sepertimu," lanjut Delia.
"Kau bisa menolongku," kata Adrian serius. Ia sering kali berpikir bahwa usahanya sendiri sia-sia untuk mengakhiri hidup. Adrian butuh bantuan untuk menghabisi nyawanya. Peran seorang dokter sangat cocok untuk mengetahui titik mana yang membuatnya mati seketika.
Melihat wajah Adrian yang begitu putus asa, Delia sepertinya tahu apa yang akan Adrian katakan. Ia menggeleng tegas. "Kita sudah membicarakan ini. Aku akan membantumu, tapi dengan cara lain. Aku tak bisa melakukan hal konyol dengan mengotori tanganku. Apa yang kau harapkan? Kau mati dan meninggalkan rasa bersalah padaku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
RomanceSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
