Aku masa senang, belum ada 24 jam, BAB 39 udah banyak yang baca. Semangat jadi menggebu-gebu hari ini buat nulis wkwk. Aku tambahin lagi deh :D Biar kalian senang, biar cerita ini cepet complete. Gantung-gantung ga enak kan ya?
Jangan lupa terus support dengan vote dan komentar :) :) :)
Sebuah pelukan membuat Delia tersentak dari kegiatannya mengaduk secangkir kopi. Mulut nakal Adrian berlari menggoda ke belakang tengkuk Delia hingga membuat wanita itu geli.
"Hentikan itu!" seru Delia seraya terkikik.
Adrian tertawa. Ia membalikkan tubuh Delia dan memberi sebuah ciuman singkat di bibir. "Aroma kopinya memenuhi ruangan."
Delia mengendikkan bahu. "Setidaknya aku cukup baik dengan ini. Meskipun ini hanya kopi instan." Karena itulah satu-satunya hal yang bisa Delia lakukan untuk Adrian di pagi hari. Delia tak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya menjadi Nyonya Salendra yang bahkan tak tahu takaran minyak goreng yang tepat.
Dapur adalah area yang sangat sulit Delia sentuh. Ia praktis tak memikirkan itu ketika bersama Ardan karena Delia tahu betul suami terdahulunya itu tak terbiasa sarapan. Tapi bagaimana dengan Adrian? Adrian lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Apakah Delia hanya akan bekerja, tanpa mengurus anak dan suaminya? Dia akan menjadi istri yang buruk.
Pikiran itu membuat Delia mengerang dalam hati.
Adrian meraih kopi yang belum selesai Delia aduk. Ia menyesap kopi itu dengan penuh kesungguhan. Hati Delia menghangat mendapat pemandangan itu. Ia tak pernah mengalami ini sekali pun selama tahun pernikahannya dengan Ardan.
Adrian tersenyum saat meletakkan cangkir itu kembali. "Apakah kau akan ke rumah sakit?"
Delia mengangguk. Ini juga hal baru. Pagi hari bersama seorang pria yang menjadi bagian hidupnya, membicarakan banyak hal satu sama lain. "Tentu saja. Aku punya tanggung jawab yang harus kupenuhi."
Adrian menatap Delia. Ketegasan di wajahnya belum pernah Delia temui sebelumnya. "Berapa usia kehamilanmu?"
"Berjalan enam."
"Dan berapa bulan lagi kau akan melahirkan?"
Delia mengendikkan bahu. "Kurang dari empat bulan jika semuanya baik-baik saja."
"Itu dia," tegur Adrian. "Aku ingin semuanya baik-baik saja. Kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Jadi aku mengharapkan antisipasi darimu."
Delia mengernyit. Tak mengerti arah pembicaraan ini.
"Bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu?"
Delia cukup terkejut dengan permintaan Adrian. "Kau gila! Aku tak bisa melakukan itu. Aku berada di bawah sumpah."
"Tapi aku yakin sumpah itu tidak mencangkup ketika kau berada dalam keadaan seperti sekarang ini." Adrian mendesah. "Lagipula, kau akan menjadi istriku. Aku yakin aku cukup mampu membiayaimu, anak-anak kita, juga kuliah Ryan."
Melihat wajah frustasi Adrian, Delia justru tersenyum. Ia bahkan tak sanggup lagi menahan tawanya. Adrian yang mendapati wajah geli Delia ketika ia bicara serius, justru terlihat kesal.
"Apa yang lucu?!" gerutu Adrian.
"Kau yang lucu." Delia mencoba susah payah menghentikan tawanya. "Sekarang kau mencoba membatasi kegiatanku."
Adrian tak merasa lelucon ini lucu. Ia menyilangkan tangan di perut dan menatap tajam pada Delia. "Aku memikirkan yang Ryan soal kau yang hidup sendiri. Itu sudah cukup menggangguku karena aku terlihat seperti calon ayah yang tidak bertanggung jawab. Omong-omong Ryan juga membicarakan panekuk-tengah-malam-mu. Aku tak habis pikir mengapa kau tak menghubungi aku atau seseorang atau menggunakan layanan antar, justru berjalan lewat tengah malam untuk keluar gedung. Kita tidak tahu apa yang mungkin mencelakaimu." Adrian mendesah lagi. "Aku bersyukur kau bertemu Ryan malam itu. Setidaknya dia berbakat mematahkan tulang seseorang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Surrender of Fault
Storie d'AmoreSURRENDER SERIES #2 √ Completed √ ~ Bertahun-tahun sudah Adrian dihantui kesalahannya di masa lalu. Ia tak lagi bisa menjalin hubungan dengan wanita manapun ketika wanita di masa lalunya terus berada di pikirannya. Adrian butuh bantuan. Ia memutuska...
